Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 44 Mengapa??


__ADS_3

Mobil Bara parkir di pinggir jalan raya. Ia berhenti sejenak setelah mengambil alat perekam suara dari toko itu. Ada keraguan dan rasa khawatir yang mulai ia rasakan saat akan mendengarkan suara yang tersimpan didalam alat perekam tersebut.


Namun, meski begitu ia akhirnya menekan tombol yang akan memperdengarkan suara yang pernah terekam oleh alat tersebut.


🔊 "Sayang, sekarang bunda sedang berada di depan toko eloktronik. Bunda, membeli alat perekam suara ini untukmu. Putra bunda ingin menyatakan perasaan pada seorang gadis, kan? Tapi, tidak berani." Terdengar suara tawa Lanjani.


Bara mendengar suara bundanya. Rasa khawatir yang tadi mengganggunya hilang seketika mendengar suara wanita yang dirindukannya.


🔊 "Bunda pikir alat ini akan membantumu menyatakan perasaan pada gadis beruntung itu. Kamu hanya cukup merekam apa yang ingin kamu ungkapkan padanya, lalu berikan alat ini padanya untuk dia dengarkan sendiri tentang isi hatimu. Mmh, ternyata putra kesayangan bunda sudah mulai menyukai seorang gadis. Bunda jadi penasaran seperti apa gadis beruntung itu."


Bara tersenyum haru dan merasa malu saat mengingat ketika ia menceritakan pada bundanya bahwa ia menyukai seorang gadis.


"Bunda, gadis itu sudah menikah dan punya anak sekarang." Jawab Bara dengan mata yang mulai berkaca kaca. Kemudian ia mendengarkan lagi rekaman berikutnya.


🔊 "Sudah dulu ya sayang, sampai ketemu sebentar lagi."


"Apakah bunda membeli alat ini dihari itu. Tapi, mengapa bunda tidak memberikan alat ini padaku saat kami bertemu."


Ia mencoba mengingat lagi pertemuannya dengan bundanya beberapa jam sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?" Ucapnya penuh rasa penasaran. Ia kembali menekan tombol lanjut untuk mendengarkan rekaman berikutnya.


🔊 "Wanita itu mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui. Kejar wanita itu sekarang juga. Dan saya perintahkah kamu untuk menghabisi wanita itu jika kamu tidak berhasil menangkapnya hidup hidup."


Kali ini bukan suara bundanya, melainkan suara seorang laki laki yang sepertinya dalang dibalik kemalangan yang dialami bundanya. Bara mendengarkan lagi rekaman suara itu hingga berkali kali, tapi ia tidak bisa menebak suara siapakah itu.


Bara menekan tombol lanjut untuk mendengarkan rekaman berikutnya.


🔊 "Tuan, saya sudah berhasil menangkap wanita ini hidup hidup. Selanjutnya apa yang harus saya lakukan pada wanita ini?"


Suara kali ini sangat berisik, seperti suara seseorang yang sedang menyetir sambil menelpon. Segera bara melanjutkan untuk mendengar rekaman lainnya. Tapi sayang, itu adalah rekaman terakhir yang terekam oleh alat perekam suara tersebut.


"Aaarrggghkkk..." Bara berteriak kesal sambil memukul mukul setir mobilnya.

__ADS_1


"Bre ngsek, sialan kalian. Kenapa kalian menyiksa dan membunuh wanita yang lemah dan tidak berdaya."


Ia murka sambil membayangkan apa yang terjadi pada bundanya hari itu.


"Aaaaaa… bunda. Apa bunda sendirian hari itu? Kenapa aku mengizinkan bunda pergi hari itu. Harusnya aku mencegah bunda pergi hari itu."


Ia akhirnya meneteskan air mata. Rasa sakit mengingat betapa bundanya tersiksa hari itu, membuat Bara tidak mampu membendung air matanya.


Meninggalkan Bara yang sedang bersedih dan terluka. Di rumah mewah dan megah miliknya, gadis yang beberapa jam lalu dibawanya dalam keadaan tidak sadarkan diri, kini mulai membuka matanya secara perlahan. Mata itu berkedip beberapa kali, lalu menoleh untuk melihat sekeliling yang tampak asing baginya.


"Nona, anda sudah bangun?" Susi menghampiri Keyla yang terlihat celinguk kebingungan.


"Dimana ini? Apa aku disurga?" Lirih Keyla pelan yang mendapat senyuman dari Susi dan Intan.


"Nona berada di rumah tuan muda. Ini bukan surga, nona." Susi menjelaskan pada Keyla yang malah terlihat memikirkan sesuatu.


"Tuan muda?" Tanya Keyla kemudian setelah beberapa saat mencoba mencerna apa yang dikatakan Susi.


Dengan cepat Keyla bangkit dari posisi baring, ia langsung duduk dan menatap ulang sekali lagi sekeliling kamar itu.


"Tuan muda siapa? Kenapa tidak ada satupun foto di kamar ini yang bisa memberitahukan padaku siapa tuan muda itu?" Rutuknya dalam hati.


Keyla benar benar tidak tahu ia berada di mana saat ini. Kedua wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya hanya mengatakan tuan muda saja tanpa menyebutkan nama si tuan muda itu.


"Kenapa saya bisa ada disini?" Tanya Keyla pada Susi dan Intan.


"Tuan muda menemukan nona pingsan dijalan. Lalu, tuan muda membawa nona ke sini untuk diobati oleh dokter Salman, karena nona sedang demam tinggi." Jawab Susi.


"Jawaban apa lagi itu. Maksud aku, kenapa tuan muda itu membawaku ke rumahnya?" Lagi lagi ia merutuk dalam hati.


"Aku demam, suhu tubuhku sangat tinggi, tapi aku kedinginan. Tadinya aku menuju apotik dan saat akan menyeberang jalan…"


Keyla mengingat kejadian sebelum ia tiba tiba membuka mata dan berada di tempat asing ini.

__ADS_1


Susi dan Intan saling memandang bingung saat Keyla berbicara sendiri. Intan menyikut siku Susi agar menanyakan apa yang diinginkan untuk dimakan oleh Keyla.


"Nona, apa ada sesuatu yang ingin nona makan, seperti bubur misalnya." Tanya Susi agak ragu.


"Tunggu! Mana bajuku… kapan aku berganti?" Teriaknya tiba tiba yang membuat Susi dan Intan terkejut.


"Apa kalian mengganti pakaian saya?" Keyla menatap tajam pada kedua wanita itu.


Lalu, ia juga memeriksa pakaian yang kini membalut tubuhnya.


"Maafkan kami nona, kami hanya menjalankan perintah tuan muda untuk menggantikan pakaian nona yang sudah basah oleh keringat." Jawab Susi dan Intan berbarengan dengan sedikit gemetar.


Mereka khawatir gadis kecil ini akan menyalahkan mereka dan melaporkan pada tuan muda.


Melihat reaksi Susi dan Intan, Keyla merasa bersalah karena sudah bicara tidak sopan pada wanita yang lebih tua darinya. Segera ia menundukkan sedikit punggungnya untuk meminta maaf pada mereka.


"Maafkan saya, saya hanya terkejut karena semua keanehan yang membingungkan." Ucap Keyla.


"Nona, tidak perlu membungkuk seperti itu." Intan dan Susi mencoba memperbaiki posisi tubuh Keyla yang masih membungkuk kearah mereka.


"Wuaaa…hiikkss…" Keyla menangis dalam hati.


Ia pun merebahkan punggungnya kembali keposisi berbaring. Karena tubuhnya masih terasa sangat lemah dan kepalanya sedikit pusing. Perlahan ia kembali menutup matanya dan terus menangis dalam hatinya.


Susi dan Intan menyelimuti tubuh Keyla kembali seperti saat ia masih belum terbangun. Lalu, perlahan mereka meninggalkan Keyla sendirian di kamar yang sangat luas itu. Kamar kosnya bahkan hanya seperempat dari seluruh ruangan kamar ini.


"Siapapun tolong jelaskan mengapa aku bisa ada di tempat ini?" Ucap Keyla sangat pelan.


"Tuan muda! Siapa anda sebenarnya? Kenapa membawa aku ke tempat ini…" Jeritnya dalam hati.


Keyla menghentakkan kakinya, "Aku mau pulang!" Teriaknya tertahan


Ia membenamkan wajahnya di bantal empuk sambil menahan air mata yang terasa akan segera tumpah.

__ADS_1


__ADS_2