Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 18 Mbak Erna


__ADS_3

Malam sedang tidak baik baik saja. Petir menyambar nyambar kesegala arah penjuru bumi. Tetesan air dari langit berjatuhan dengan derasnya membasahi seluruh permukaan bumi.


"Keyla, hujannya deras banget. Sepertinya bis juga sudah tidak lewat sini deh." Ucap Erna yang sedang mengaduk kopi.


Keyla hanya mendengus pelan. Ia menatap keluar menembus dinding kaca klinik. Curah hujan sangat deras, pancaran cahaya kilat seakan menembus dinding kaca, hingga membuatnya memejamkan mata seerat mungkin.


"Nanti mbak antar pulang kalau hujannya sudah reda. Sekarang, minum kopi dulu biar lebih hangat." Erna meletakkan dua cangkir kopi diatas meja. Tangannya menggamit kearah Keyla untuk mengajak gadis itu duduk di sofa ruang tunggu sambil menikmati secangkir kopi hangat.


"Makasih kopinya mbak." Ucap Keyla yang kini duduk di sebelah Erna.


Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Mata keduanya menatap keluar, melihat air yang menetes tidak juga kunjung berhenti. Tidak lupa, sesekali mereka mereguk kopi hangat untuk menghangatkan tubuh yang juga ikut terasa dingin oleh cuaca diluar sana.


"Apa kamu pernah berpikir bahwa mungkin orangtuamu masih hidup, Key?" Pertanyaan Erna yang tiba tiba membuat Keyla hampir saja tersedak kopi.


"Mmh, entahlah. Mungkin… tidak." Jawabnya ragu.


"Benarkah?"

__ADS_1


keyla hanya tersenyum dan memberi sedikit anggukan ragu sebagai respon dari pertanyaan Erna.


"Kenapa?"


"Mungkin karena aku sudah tumbuh dewasa dan selama ini tidak ada tanda tanda sedikitpun yang mengatakan mereka masih hidup."


Kali ini Erna yang mengangguk. Ia mulai mengerti mengapa Keyla tidak pernah terpikir untuk mencari kedua orangtua kandungnya.


"Aku rasa, sejauh ini hidupku baik baik saja, mbak. Jadi, aku tidak perlu tahu tentang mereka yang juga tidak ingin mengetahui tentang aku." Sambungnya.


Pertama kali Erna menemukan gadis ini, saat ia berkunjung ke panti bersama mamanya. Mama Erna merupakan salah satu donatur yang sering membantu panti tempat Keyla dibesarkan. Keyla kecil sangat menggemaskan, Erna langsung jatuh hati saat melihat kedua bola mata gadis kecil itu yang agak kebiruan, berbeda dengan bola matanya dan juga bola mata anak anak panti lainnya.


"Terimakasih karena selalu ada untukku mbak Erna." Ucap Keyla.


"Tentu sayang."


Erna meraih tangan Keyla yang sudah tidak semungil dulu lagi. Ia mengelus lembut punggung tangan itu dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


"Jangan merasa sendirian, ingatlah bahwa mbak akan selalu ada di sini bersama kamu."


"Terimakasih mbak." Keyla menunduk, matanya mulai berkaca kaca. Ia terharu dengan kebaikan Erna padanya. Baginya Erna bukan hanya sekedar bos, tapi juga sebagai keluarga untuknya.


"Hujannya sudah mulai reda. Mau pulang sekarang, atau mau menginap di tempat mbak?" Erna mengalihkan pembicaraan. Ia tahu Keyla sudah mulai tidak suka pembicaraan yang melow itu.


"Pulang, dong. Mbak tahu kan, aku lebih suka tidur di kamar kos ku yang kecil dibandingkan kamar mbak Erna yang dua kali lebih luas itu." Ujar Keyla sambil melangkah menuju meja kasir untuk mengambil tas nya.


"Baiklah, kalau begitu mari saya antarkan tuan putri pulang!" Erna membukakan pintu klinik dan mempersilahkan Keyla keluar lebih dulu.


"Thank you!"


Keyla melangkah keluar lebih dulu, ia menuju mobil Erna yang terparkir tidak jauh dari halaman klinik. Lalu ia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Erna untuk masuk.


"Suatu kehormatan untuk saya, diantarkan langsung oleh nyonya Erna."


Mereka pun tertawa bersama sambil memasuki mobil. Beberapa detik kemudian, mobil Erna memacu jalanan yang licin menuju kost Keyla.

__ADS_1


__ADS_2