Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 59 Curiga


__ADS_3

BANGKOK (THAILAND)


Timo terbaring lemas diatas ranjang salah satu kamar rawat inap rumah sakit setempat.


"Jehan…"


Timo memanggil Jehan saat matanya terbuka.


"Timo!"


Jehan mendekati Timo yang tampak ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Ada apa, apa ada yang sakit…" Jehan memeriksa suhu tubuh Timo yang ternyata normal.


"Bara dimana?" Tanya Timo yang berusaha bangkit dari posisi baring.


Dengan cepat Jehan membantu Timo untuk duduk. Ia juga mengambilkan segelas air putih yang langsung di minum oleh Timo.


"Saat ini Bara masih ada meeting dengan klien."


"Dia sendirian?" Kali ini Timo sudah bisa bicara dengan lancar tanpa terbata bata lagi.


"Iya dia sendirian."


"Je, anak buah Jeydan berkeliaran mencari kesempatan untuk membunuh Bara."


"Gue tahu."


"Lalu, kenapa loe masih disini? Cepat temui Bara, lindungi dia Je." Ujar Timo yang tampak khawatir.


"Tuan muda memerintahkan gue untuk melindungi loe." Jawab Jehan.


"Gue di tempat yang aman sekarang. Tuan muda diluar sana sendirian Jehan..." Celotehnya.


"Tuan muda bisa melindungi dirinya sendiri. Sementara loe…"


Jehan menatap Timo dengan tatapan prihatin.


"Loe nggak usah mengkhawatirkan tuan muda. Yang terpenting saat ini loe harus segera pulih agar keluar dari tempat ini lebih cepat."

__ADS_1


Sementara itu saat ini Bara baru saja selesai meeting dengan klien yang datang dari Malaysia. Klien itu bahkan memberikan hadiah kecil untuk Bara berupa jam tangan yang didalam box jam tangan itu terdapat beberapa foto pria yang sering mengunjungi rumah sakit di Kuala Lumpur.


"Ada apa dengan foto foto ini?"


Bara memperhatikan dengan teliti wajah pria dalam foto itu.


"Sepertinya gue pernah melihat pria ini sebelumnya. Tapi dimana?"


Tidak mau pusing berpikir sendiri, Bara langsung menuju rumah sakit untuk memperlihatkan foto foto itu pada Timo dan Jehan.


Bara akhirnya tiba di kamar Timo.


"Apa loe udah merasa lebih baik?" Tanya Bara yang menghampiri Timo.


Timo hanya mengangguk dan tersenyum pada Bara.


"Untung tuan muda cepat datang. Kalau tidak, Timo mungkin akan menyusul tuan muda." Celoteh Jehan.


Bara menaikkan alisnya menatap Timo dan Jehan bergantian, ia mencoba mencari jawaban dari kalimat yang diucapkan Jehan barusan.


"Timo sangat mengkhawatirkan tuan muda yang sendirian di luar sana." Jehan menjelaskan.


Bara tersenyum mendengar penjelasan Jehan.


"Nah tu, dengar apa kata tuan muda." Ujar Timo melirik kearah Timo yang tersenyum menggemaskan sengaja untuk membuat Jehan berhenti kesal padanya.


"Apa meetingnya sudah selesai tuan muda?" Tanya Timo kemudian.


"Belum, masih ada meeting lagi saat makan siang nanti. Lalu, ada rapat juga sore ini." Jawabnya.


Bara mengeluarkan lembaran lembaran foto dari dalam saku jasnya.


"Apa ini tuan muda!" Tanya Timo.


Ia mengambil satu foto dan menatap wajah pria didalam foto itu. Jehan yang merasa penasaranpun ikut mendekat dan mengambil satu foto juga.


"Ini pria yang sering bersama om Diki!" Seru Timo yang terlihat mencoba mengingat ingat.


"Saya juga pernah melihat pria ini bersama om Diki, tuan muda." Ujar Jehan.

__ADS_1


"Kalian yakin?" Bara menatap bergantian kedua sahabatnya itu.


"Saya yakin tuan muda. Saya pernah beberapa kali berpapasan dengan om Diki dan pria ini mengikuti langkah om Diki seakan dia adalah pengawal om Diki." Ungkap Timo mengingat saat saat pertemuannya dengan pria yang ada di foto itu.


"Saya juga yakin, tuan muda. Saya bahkan pernah melihat pria ini membukakan pintu mobil untuk om Diki." Tutur Jehan.


Sebentar Bara mencoba memikirkan sesuatu setelah mendengar penuturan kedua sahabatnya itu.


"Dari mana tuan muda mendapatkan foto foto ini?" Tanya Jehan.


"Dari Encik Emran klien yang baru saja saya setemui beberapa saat lalu." Jawab Bara.


Timo meraih Handphonenya, lalu mencari sesuatu disana.


"Rumah sakit yang ada di dalam foto itu adalah rumah sakit di Kuala lumpur."


Timo memperlihatkan hasil penelusurannya pada Jehan dan Bara.


"Kenapa Encik Emran memberikan foto ini pada saya…"


Bara menghela napas, lalu ia teringat akan sesuatu yang juga harus ia perdengarkan pada Timo dan Jehan.


"Jehan, saya sudah mendapatkan alat perekam suara ini." Memberikan alat itu pada Jehan.


"Coba kalian dengarkan!"


Timo dan Jehan pun mendengarkan rekaman suara laki laki yang memerintahkan untuk mengejar Lanjani. Mereka tidak hanya mendengarkan sekali saja tapi berkali kali, sampai pada akhirnya mereka saling bertatapan cukup lama.


"Tuan muda, berapa kalipun saya mengulang mendengarkan rekaman ini, saya tetap berpikir bahwa ini suara om Diki." Timo sangat yakin.


"Om Diki!" Ulang Bara yang sebenarnya juga merasa suara itu milik om Diki, hanya saja ia tidak mau menuduh lelaki yang sangat dipercayai oleh Papanya selama ini.


"Saya juga yakin itu suara om Diki, tuan muda."


"Mmhhaaaahh..."


Bara menghela napas panjang. Ia mengusak kepala dan wajahnya sambil terus menarik dan menghembuskan napasnya berulang kali.


"Jehan, antar Timo pulang ke Jakarta sekarang. Setelah itu, pergilah ke Malaysia. Selidiki apa yang disembunyikan om Diki di rumah sakit itu."

__ADS_1


"Baik tuan muda." Jawab Jehan setuju.


Timo hanya diam, meski sebenarnya ia ingin menolak untuk diantarkan pulang ke Jakarta. Ia sangat ingin tetap di Bangkok menemani Bara, tapi apa boleh buat, kondisinya terlalu lemah untuk menjaga tuan mudanya itu.


__ADS_2