Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 67 Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

Yuda mencoba mencocokkan DNA Wulan Dan Diki. Sayangnya, hasil tidak seperti dugaannya. Tapi, ketika ia mengetes dna milik Keyla dan Diki, ternyata cocok.


"Tuan, ternyata Keyla adalah putri kandung Diki. Dan istrinya juga masih hidup. Saat ini koma di rumah sakit Kuala Lumpur." Jelas Yuda pada Jeydan.


"Kamu yakin kita tidak di tipu?"


"Saya yakin tuan."


"Lalu siapa Wulan?"


"Wulan bukan siapa siapa tuan. Dia hanya yatim piatu yang tidak beridentitas." Jawab Yuda sangat yakin.


Ia yakin karena ada Lia yang selalu membantunya untuk mendapatkan hasil DNA sesuai keinginannya.


"Kalau begitu, bawa Keyla kehadapan saya."


"Baik tuan."


Yuda segera pergi untuk menemukan Keyla dan membawannya kehadapan tuannya.


Disaat Yuda sedang berusaha untuk menemukan Keyla, Bara baru saja keluar dari panti asuhan. Wajahnya tanpak bingung dan terlihat kurang percaya diri. Meski begitu, ia kembali ke mobil dan melajukan mobilnya menuju kediaman profesor.


Saat Bara sedang dalam perjalanan, Jehan sudah lebih dulu tiba di kediaman profesor. Dia memasuki rumah itu secara diam diam setelah melihat salah satu anak buah Diki berada di rumah itu dan sedang asik membicarakan sesuatu yang tidak bisa didengar jelas oleh Jehan.


Jehan melihat profesor tampak akrab dan sagat ramah pada anak buah Diki. Hal itu membuat Jehan menaruh curiga pada Profesor.


"Apakah Profesor bekerjasama dengan om Diki?" Pikir Jehan.

__ADS_1


"Sampaikan salam saya pada Diki. Sungguh saya sangat merindukannya." Ucap profesor pada pria itu.


"Akan saya sampaikan segera salam profesor saat saya kembali ke Kuala Lumpur."


Profeaor tampak sangat senang. Pria itu pun berpamitan untuk segera pulang.


Pada saat itulah, Jehan segera keluar dari rumah itu. Dan saat dia berhasil keluar, dari kejauhan ia melihat mobil Bara menuju kearah rumah profesor.


"Tuan muda!"


Jehan hendak menghentikan mobil Bara, tapi sebelum itu pria suruhan Diki keluar dari rumah itu untuk menuju mobilnya sehingga Jehan kembali bersembunyi dan hanya bisa melihat mobil pria itu keluar dari perkarangan rumah profesor. Bahkan mobil pria itu berpapasan dengan mobil Bara.


Kedatangan Bara disambut langsung oleh profesor yang belum sempat masuk lagi ke rumahnya. Ia berpura pura memang sedang menunggu kedatangan Bara, karena memang Bara sudah memberitahukan lebih dulu bahwa dia akan menemui profesor.


"Nak Bara. Mari silahkan masuk."


"Silahkan duduk, nak Bara." Ajaknya.


Bara pun duduk dengan nyaman. Kemudian profesor mulai berbasa basi mengajaknya bicara tentang seputar kesehatan Bara dan juga papanya, Cakra.


"Prof, sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan." Ujar Bara yang sudah tidak sabar ingin mencari tahu kebenaran tentang siapa Keyla sebenarnya.


"Ya, silahkan tanyakan."


"Apakah Keyla benar putri kandung Papa?"


Pertanyaan itu membuat raut wajah profesor sedikit berubah. Jehan yang diam diam menguping pun tidak kalah terkejutnya mendengar pernyataan Bara tentang Keyla.

__ADS_1


"Mengapa tuan muda menyembunyikan hal ini dari saya." Pikir Jehan merasa ada yang tidak beres dengan tuan mudanya itu.


"Kenapa nak Bara tiba tiba menanyakan hal yang sudah pasti jelas."


"Sebab saya baru mendapat info bahwa Keyla bukan putri kandung papa."


Pernyataan Bara barusan malah membuat Jehan memikirkan sesuatu berhubungan dengan kedatangan anak buah Diki beberapa saat yang lalu.


"Nak Bara benar." Jawab Profesor dengan wajah tampak sedikit menyesal.


"Apa? Maksud Profesor Keyla bukan putri kandung papa?"


"Iya nak Bara. Saya minta maaf telah membohongi nak Bara. Itu karena saya di ancam oleh seseorang untuk merahasiakan identitas Keyla yang sesungguhnya." Ujarnya.


Bara mendengus kesal. Ia bahkan mengepalkan tinjunya untuk menahan rasa kecewa dalam hatinya.


Sementara Jehan malah ingin keluar dari persembunyiannya dan memberi pukulan pada Profesor yang malah membohongi Bara.


"Siapa yang mengancam anda, Prof?" Tanya Bara.


Sebentar Profesor terdiam. Ia bahkan tampak menghela napas cukup dalam.


"Diki." Ucapnya pelan namun jelas.


Mata Bara dan Jehan sama sama melotot saat mendengar Profesor menyebut nama itu.


"Mengapa om Diki mengancam anda dan meminta anda merahasiakan identiras Keyla?" Tanya Bara tidak sabar lagi mendengar apa yang akan dikatakan profesor padanya.

__ADS_1


__ADS_2