
Timo sudah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar dan merasa bisa menikmati malamnya tanpa lembur dengan bermalas malasan didepan televisi. Tapi, khayalannya buyar seketika Mamanya menelpon.
"Halo, ma. Ada apa?" Wajahnya berubah sendu.
"Mama aja deh yang bawa Ruri ke klinik. Aku ada kerjaan, Ma."
Ia menolak perintah mamanya yang memintanya membawa Ruri kucing jantan kesayangan mamanya yang keslek tulang ayam.
"Ma, aku nggak bisa. Aku sibuk, ma…" Panggilan berakhir.
"Ma… mama!"
Perintah Mamanya adalah mutlak, mau tidak mau Timo harus menyetujui perintah sang mama.
"Aaakkhhh… gagal deh acara bermalas malasan dirumah." Rengeknya kesal. Ia bahkan sampai berguling guling diatas tempat tidurnya.
Tiba tiba Ia berdiri, lalu mengucapkan satu kata.
"Klinik!"
Senyumpun mengembang dibibirnya. Ia langsung turun dari tempat tidurnya.
"Dokter Erna… aku dataaaannggg…" Teriaknya kegirangan.
Ia bersemangat untuk segera tiba di klinik bertemu dengan dokter cantik yang ditaksirnya sejak pertemuan pertama.
"Mama memang paling best sedunia. I love you full mamaaa…"
Ia bergegas mengganti pakaian yang bisa membuatnya tampak keren dan berwibawa dihadapan dokter Erna.
"Untung saja dua kunyuk itu membantalkan janji mereka. Jika tidak, maka aku akan melewatkan pertemuan kedua dengan dokter Erna."
"Sepertinya alam membantuku untuk bisa bersama denganmu wahai Erna pujaan hatiku."
__ADS_1
Timo bertingkah aneh saat sendirian dirumahnya. Sangat berbeda saat dirinya sedang dalam mode kerja, ia akan tampak berkarisma dan lebih cool. Sehingga membuat mata wanita menatap kagum padanya. Andai mereka tahu kelakuan Timo sebenarnya, mungkin mereka akan merasa ilfeel dan malas untuk mengagumi seorang Timo.
"Aku harus menjemput Ruri terlebih dahulu."
Setelah berpakaian rapi, ia langsung menuju rumah mamanya sebelum berangkat ke klinik untuk menjemput Ruri.
Sementra itu, Bara baru saja tiba di tempat rongsokan. Tempat rongsokan itu cukup luas dan terdapat berbagai macam jenis kerangka mobil dari tahun tahun yang telah lalu. Cukup banyak mobil yang sudah di hancurkan dan masih ada beberapa mobil yang dibiarkan begitu saja tanpa dihancurkan.
Kaki Bara membawanya melangkah masuk ke tempat itu. Ia berjalan perlahan sambil memperhatikan mobil mobil bekas itu. Sampai akhirnya langkahnya terhenti saat melihat Jehan merangkak keluar dari bawah tumpukan rongsokan mobil yang telah di pipihkan. Ia berjongkok dan menatap kearah Jehan.
"Je, loe ngapain?"
"Tuan muda!" Jehan tersenyum, lalu ia mempercepat pergerakan keluar dari tumpukan mobil rongsokan itu.
"Tolong…" Ia menjulurkan tangannya meminta bantuan dari Bara, agar menariknya keluar dari tempat itu.
"Merepotkan." Rutuk Bara sambil menarik tangan Jehan dan membantunya kembali berdiri.
"Ngapain di sana, Jehan?"
"Apa ini?" Bara mengambil alih benda kecil itu dari tangan Jehan untuk memeriksanya lebih teliti.
"Alat perekam suara." Ujar Jehan.
"Saya tahu ini alat perekam suara. Tapi, apakah ini masih bisa berfungsi?" Ia memencet tombol yang ada di bagian benda kecil itu. Dan ternyata sudah tidak berfungsi sama sekali.
"Untuk apa kamu susah payah merangkak masuk kedalam tumpukan sampah besi besi ini hanya untuk mengambil barang tidak berfungsi ini?"
"Jehan, apa kamu tahu saya sudah menunggu hampir tiga jam di Caffe, dan ternyata ini yang kamu lakukan disini hampir seharian?" Lanjut Bara mengomeli Jehan yang sibuk menyibak debu dipakaiannya.
"Kalau tidak mengerti, lebih baik diam saja tuan muda." Jehan mengambil alih alat perekam itu dari tangan Bara, lalu ia melangkah keluar dari tempat rongsokan.
"Apa kamu kesal pada saya? Bukankah seharusnya saya yang kesal!" Teriaknya sambil mengikuti langkah Jehan yang kini sudah tiba di dekat mobil.
__ADS_1
"Saya benar benar kelehan hari ini. Jadi tuan muda saja yang menyetir." Jehan masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah kursi supir.
Bara ingin merutuk tapi ia juga merasa terlalu lelah hari ini. Akhirnya meski kesal pada Jehan karena lancang padanya, ia pun tetap mengemudikan mobil.
"Hari ini saya bolak balik naik taksi ke tempat rongsokan hanya untuk menemukan titik terang tentang kecelakaan itu, tuan muda." Ucap Jehan, matanya terpejam.
"Maksud kamu?" Tanya Bara.
"Saya kehabisan uang dan malas ke bank. Sebenarnya tuan muda tidak perlu datang kemari, karena jika saya punya banyak uang di dompet, saya akan pulang naik taksi. Tapi, sialnya uang di dompet saya habis untuk membayar ongkos taksi." Celotehnya yang membuat Bara semakin kesal.
"Setelah menanyakan mobil yang kita cari pada pemilik mobil rongsokan dan dia mengatakan bahwa mobil itu pernah dibelinya dari seseorang. Sayangnya mobil itu sudah dia hancurkan." Tutur Jehan sementara matanya masih tetap terpejam, dan Bara mulai serius mendengarkan ocehan Jehan kali ini.
"Saya juga menemui pemilik mobil itu berharap lelaki tua itu pelaku yang menabrak bunda tuan muda. Tapi, ternyata ia hanya pemilik mobil. Hari itu mobilnya hilang di depan toko swalayan, ia melapor pada polisi..."
"Lalu…" Tanya Bara penasaran.
"Malam harinya mobil itu kembali ke garasi rumahnya, tanpa di ketahui siapa yang mengantarkan mobilnya kembali ke rumah. Dan saat pagi harinya, ia melihat berita di televisi bahwa mobilnya telah menabrak seseorang hingga tewas. Ia pun merasa takut, terlebih karena mobil yang ia laporkan hilang kini ada di rumahnya. Lalu…" Jehan membuka matanya dan melirik pada Bara sebentar.
"Lelaki tua itu langsung menjual mobilnya pada pemilik rongsokan. Ia menghilangkan bukti, karena tidak ingin berurusan dengan polisi. Dan benar saja, polisi hanya mengabarkan bahwa mobil yang ia laporkan hilang, di curi dan menjadi tersangka tabrak lari."
"Loe yakin, lelaki itu jujur?" Tanya Bara mulai bicara santai.
"Gue sudah memastikan kebenaran dari cerita itu. Karena lelaki itu juga memberikan info, bahwa ada alat perekam didalam mobil yang ia temukan saat memeriksa mobilnya malam itu."
"Dan alat perekam ini… kenapa masih berada di mobil rongsokan itu, Je?" Tanya Bara tidak mengerti.
"Gue belum selesai bercerita, Bara." Lirik Jehan agak kesal karena Bara menyahut sebelum ceritanya selesai.
"Sorry. So, lanjut ceritakan. Gue benar benar penasaran…"
"Saat menjual mobil ke tempat rongsokan, ia memutuskan untuk meninggalkan alat perekam suara ini didalam mobil. Nah, gue merangkak di tumpukan rongsokan hanya untuk menemukan alat ini."
"Tapi alat itu sudah tidak berfungsi." Ujar Bara.
__ADS_1
"Kita antarkan alat ini ke orang yang bisa memperbaikinya. Sekarang kita perbaiki alat ini, lalu dengarkan apa isi rekaman yang tersimpan di dalamnya."
Bara mengangguk paham. Ia pun langsung menuju tempat yang bisa memperbaiki alat perekam yang rusak tersebut.