
Beberapa hari terakhir, Jehan dan Timo menyelidiki keterkaitan Diki dengan kejadian empat belas tahun. Mereka juga mulai mencari tahu siapa sebenarnya putri kandung Diki.
Sementara, Bara malah mencurigai salah satu diantara Wulan dan Keyla adalah putri kandung Diki.
"Jangan jangan Wulan…" Bara mulai mencurigai Wulan adalah putri kandung Diki.
Tapi tidak mungkin, karena saat ini Yuda juga sedang mencari tahu keberadaan putri kandung Diki. Jika Wulan benar putri kandung Diki, sudah tentu pasti Yuda akan lebih dulu mengetahuinya. Karena, Bara tahu, Jeydan menempatkan seseorang di laboratorium. Dan orang itulah yang telah memalsukan bahwa Wulan adalah putri kandung papanya.
"Aku harus kembali bertanya pada bu Astuti."
Bara hendak pergi ke panti untuk menyelidiki lagi tentang Wulan dan Keyla.
"Tuan muda, maaf mengganggu." Keyla datang dari arah dapur.
Bara menghentikan langkahnya. Ia segera menoleh kearah Keyla yang menundukkan pandangannya.
"Ada apa?" Tanya Bara datar.
"Sarapannya sudah siap."
"Saya akan melewatkan sarapan pagi ini. Saya ada urusan mendesak."
Bara langsung melangkah pergi. Keyla menghela napas sedih.
__ADS_1
"Padahal pagi ini aku yang menyiapkan sarapan untuk tuan muda." Ujarnya.
Keyla bangun pagi pagi sekali untuk menyiapkan sarapan itu. Ia melakukan itu sebagai ucapan terima kasih karena telah membantunya membuat Wulan setidaknya merasa kesal padaya.
Saat Keyla hendak melangkah kembali kedapur, tiba tiba tangannya ditarik oleh Bara yang ternyata belum jadi pergi. Ia menarik kuat pergelangan tangan Keyla hingga Keyla masuk dalam dekapannya.
"Tuan muda!" Pekik Keyla terkejut.
"Lepaskan saya tuan muda."
Keyla mencoba berontak. Tapi Bara malah memeluknya semakin erat.
"Tetaplah seperti ini lima detik saja." Bisik Bara yang membuat Keyla merasa merinding.
Bara langsung melepaskan pelukannya setelah lima detik. Ia benar benar menepati apa yang diucapkannya.
"Aku akan kembali untuk makan siang." Ucap Bara kemudian sambil menyentuh pipi Keyla yang masih mematung.
"Aku pergi dulu. Tetaplah di rumah ini, jangan melakukan pekerjaan yang membahayakan."
Setelah mengucapkan kalimat barusan, Bara langsung meninggalkan rumahnya untuk segera menuju panti asuhan.
Keyla masih mematung. Hingga akhinya perlahan ia menyentuh pipinya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa panas di kedua belah pipnya yang merona.
__ADS_1
"Aku? Tuan muda mengatakan aku padaku?" Ucap Keyla saat mulai tersadar.
"Apakah tuan muda benar benar menyukai aku?" Ia mulai menerka nerka.
Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Keyla tersenyum senang tanpa alasan. Bahkan jantungnya mulai berdegup semakin cepat hingga membuatnya merasa cuaca semakin panas.
"Tetaplah seperti ini lima detik saja!" Ulang Keyla mengingat ucapan Bara yang semakin membuat wajahnya merona dan detak jantungnya semakin cepat.
"Oh jantungku? Apakah aku jatuh cinta?"
Keyla kembali tersenyum, lalu ia melangkah menuju kamarnya sambil memegangi kedua belah pipinya yang masih merah merona.
Tanpa disadari Keyla, Susi dan Intan yang menyaksikan adegan romantis tuan muda dan nona Keyla beberapa saat lalu, tersenyum senang menatap tinggakah imut Keyla.
"Mbak, aku akan makin betah tinggal di rumah ini." Ungkap Intan.
"Kenapa? Apa tuan muda menaikkan gajimu?" Tanya Susi heran.
Padahal sebelum sebelumnya Intan sering mengeluh dan ingin berhenti bekerja di rumah ini.
"Karena mulai hari ini aku akan lebih sering melihat adegan romantis dan menggemaskan tuan muda dan nona Keyla yang sedang jatuh cinta." Tutur Intan sambil tersenyum dan membayangkan betapa romantisnya tuan muda kepada nona Keyla.
Susi hanya menggeleng miris melihat Intan. Tapi, sebenarnya ia juga merasa mulai nyaman dan senang bekerja di rumah ini semenjak kedatangan Keyla.
__ADS_1