
Pagi ini Keyla sudah bangun. Ia bangun awal dan membantu Linda menyiapkan sarapan pagi.
"Keyla, kamu tidak perlu membantu aku. Tugas kamu hanya untuk mengawasi tuan putri." Ujar Linda yang merasa tidak enak karena Keyla membantunya.
"Biasa aja kali, Lin. Lagian tuan putri juga belum kelihatan batang hidungnya."
Keyla terus melanjutkan tugasnya memotong bawang merah. Sementara Linda meniriskan bihun. Menu sarapan pagi ini bihun goreng, kesukaan tuan Cakra.
"Aku kira keluarga konglomerat sarapannya roti, atau nasi goreng ala restoran. Eh ternyata bihun goreng." Ujarnya.
"Tuan Cakra sangat menyukai bihun goreng, karena nyonya terdahulu sering sekali memasak bihun goreng untuk sarapan." Tuturnya menjelaskan.
"O gitu rupanya."
"Tapi ini rahasia, ya. Jangan sampai didengar oleh nyonya. Nyonya akan sangat cemburu dan sedih setiap kali mendengar pembahasan tentang nyonya terdahulu."
Keyla tersenyum dan megangguk.
"Kenapa harus cemburu, toh istri pertama tuan Cakra juga sudah meninggal sejak lama." Gumam Keyla dalam hati.
Setelah beberapa menit kemudian, Linda dan Keyla sudah selesai masak. Mereka pun langsung menata makanan di meja makan.
Kemudian, Linda segera memanggil majikannya untuk segera sarapan. Sementara saat Linda sedang ke lantai atas, Keyla melangkah menuju ruang keluarga, dimana tempat keluarga itu duduk untuk mengobrol saat sedang bersama.
Mata Keyla menangkap foto keluarga tuan Cakra yang terpajang didinding terbingkai sangat besar.
"Sepertinya aku mengenal…" Keyla melangkah semakin mendekati bingkai besar foto keluarga Cakra Handoko yang terpajang di dinding.
"Dia… dia pria berdarah! Dia yang waktu itu menjemput Wulan ke panti."
Keyla tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia tampak sedikit gemetar dan bingung.
__ADS_1
"Ternyata kamu disini!" Seru Linda menghampiri Keyla.
Ia mendekati Keyla yang tampak bingung menatap foto keluarga majikan mereka.
"Kenapa Keyla?" Linda menyentuh pelan pundak Keyla.
"Apakah pria itu tuan muda?" Tanya Keyla sambil menunjuk wajah Bara dalam foto itu.
"Iya. Itu tuan muda Bara Leonardo Handoko." Jawab Linda.
Keyla menghela napas panjang. Lalu ia duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Keyla kamu kenapa?"
"Aku hanya merasa lelah, Lin."
"Tapi kita tidak boleh berada di sini, Keyla. Nyonya akan sangat marah jika pembantu seperti kita duduk di sofa ini." Tutur Linda menjelaskan.
"Apakah mereka sudah sarapan?" Tanya Keyla kemudian.
"Mmm, mereka sedang sarapan."
"Bolehkan aku kembali ke kamar, aku mau istirahat sebentar sebelum bertugas mengawal tuan putri..." Tanya Keyla pada Linda.
"Boleh kok. Pergilah istirahat. Aku akan memanggilmu saat tuan putri sudah selesai sarapan."
"Terimakasih Linda."
Hanya senyuman yang diberikan Linda sebagai respon ucapan terimakasih Keyla padanya. Kemudian ia berlalu menuju kamarnya.
Saat tiba di kamar, Keyla melamun. Ia mengingat kembali pertemuan pertemuannya dengan tuan muda, yang dikiranya sebagai pengawal tuan Cakra.
__ADS_1
"Rupanya dia tuan muda." Ujarnya.
Ada raut rasa kecewa diwajahnya yang sulit untuk dijelaskan.
"Berarti, ini benar benar tempat tinggal Wulan yang baru."
Keyla merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sebentar ia memejamkan mata, membayangkan beberapa reaksi Wulan saat nanti mereka bertemu.
"Apakah Wulan akan menyambutku, atau akan berpura pura tidak mengenalku?" Bisiknya dalam hati.
Sementara itu, suasana sarapan pagi tampak lebih sunyi dari sebelumnya. Hal itu membuat Cakra penasaran karena kedua putrinya yang biasanya saling mengobrol saat sarapan, kali ini malah diam dan fokus menyantap sarapan mereka.
"Ini kalian berdua kenapa, kok pada diam?" Tanya Cakra akhirnya.
Klara dan Wulan menoleh kearah papa mereka, lalu mereka saling menatap sebentar.
"Rasanya sarapan tanpa kehadiran kak Bara sungguh tidak menyenangkan, Pa." Tutur Klara dengan memasang wajah cemberut.
"Kenapa kak Bara mendadak ke Thailand, pa?" Tanya Wulan kemudian.
Cakra menghela napas, lalu ia tersenyum menatap wajah sendu kedua putrinya.
"Kak Bara itu seorang CEO perusahaan besar, begitu banyak tugas yang harus dikerjakannya dan tugas tugas itulah yang membuatnya harus siap untuk pergi kesana kemari, baik sesuai rencana ataupun malah secara mendadak." Tutur Cakra menjelaskan.
"Ya aku tahu itu, pa. Tapi, apa tidak bisa kak Jehan sama kak Timo saja yang menyelesaikan pekerjaan pekerjaan itu?" Ujar Klara.
"Tentu tidak bisa sayang. Karena, kakakmu adalah kunci dari segala apa yang dikerjakan oleh Timo dan Jehan." Karina ikut menyela.
"Begitukah?" Ujar Wulan dan Klara berbarengan.
Serentak Cakra dan Karina memberi anggukan untuk merespon pertanyaan kedua putrinya.
__ADS_1