Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 53 Mona


__ADS_3

Hampir pukul dua belas malam Timo dan Jehan baru tiba di kamar Bara. Mereka langsung berbaring ditempat tidur empuk Bara, mereka merasa sangat kelelahan karena hampir seharian kesana kemari mengecek lokasi lokasi yang akan menjadi proyek baru. Terlebih, mereka harus meyakinkan beberapa orang pemilik tanah yang menolak menjual tanah mereka.


"Bagaimana? Apa akhirnya kalian berhasil mengatasi masalah pembangunan proyek?" Tanya Bara yang masih setia di depan televisi.


"Sudah tuan muda. Besok tugas anda untuk meeting bersama beberapa Klien dan juga ada rapat." Jawab Timo lesu.


"Saya akan istirahat di hotel seharian besok. Tugas saya menemani Timo sudah selesai tuan muda." Sahut Jehan yang tidak kalah lesunya.


Bara tersenyum melihat dua sahabatnya itu.


"Istirahatlah. Saya akan ke luar sebentar, ada sesuatu yang ingin saya pastikan."


Ia berganti pakaian, lalu segera melangkah keluar dari kamar tanpa menyadari, Jehan mengikutinya.


Jehan sengaja mengikuti Bara secara diam diam. Ia tahu, Bara butuh privasi, makanya Bara tidak mengajaknya ikut kali ini. Tapi, meski begitu, ia tidak akan membiarkan Bara pergi sendirian ditengah malam. Terlebih ini di negara asing yang jelas lebih memudahkan musuh untuk mengganggunya.


Bara turun ke lobi. Lalu, ia langsung masuk ke taksi yang berhenti karena baru saja penumpangnya turun. Taksi itu berangkat menjauh dari perkarangan hotel.


Beruntungnya taksi lainnya lewat, Jehan pun naik ke taksi itu dan memintanya untuk mengikuti taksi yang membawa Bara secara perlahan dan sebisa mungkin tidak ketahuan.


Setelah berkedara hampir sepuluh menit, taksi yang membawa Bara berhenti di depan club malam. Jehan meminta taksi yang dinaikinya untuk berhenti agak jauh, kemudian setelah Bara memasuki club itu, barulah Jehan turun dari taksi dan ikut masuk ke club tersebut.

__ADS_1


"Apa yang akan dilakukan tuan muda di tempat ini?" Pikir Jehan yang merasa heran.


Sepuluh tahun menjadi pengawal Bara, belum sekalipun ia melihat Bara datang ketempat seperti ini.


"Hello boy!" Sapa beberapa wanita di club itu. Begitu Jehan menginjakkan kakinya di club itu.


"Sorry!" Jehan berusaha menghindari mereka, tapi mereka malah semakin banyak mendekatinya.


Kini Jehan bagaikan permen didalam sarang semut.


Jehan mencoba menepis tangan tangan nakal yang menyentuh tubuhnya. Ia berusaha melangkah mengikuti Bara, tapi sayang karena terlalu lama untuk bisa lepas dari kerumunan itu, ia kehilangan Bara.


Jehan tidak menyerah, ia terus bergerak maju hingga berhasil lepas dari wanita wanita itu. Ia pun melanjutkan langkahnya mengikuti Bara yang ternyata masuk kedalam ruang VVIP.


Ia sangat ingin menerobos masuk kedalam ruangan itu, tapi ia tidak mau ketahuan oleh Bara. Sehingga ia memutuskan untuk menunggu didepan ruangan itu.


Sementara Bara di dalam sana, disambut oleh seorang wanita cantik berpakaian sangat terbuka. Wanita itu tersenyum senang melihat kedatangan Bara.


"Hai Bara. Apa kabar?" Tanya wanita itu yang tetap duduk tenang meski hatinya seperti melompat dari tempatnya.


Ia adalah wanita yang beberapa jam lalu berbaring ditempat tidur Jeydan.

__ADS_1


"Hai, Mona." Jawab Bara yang ikut duduk di sofa panjang membentuk huruf U itu.


"Oh iya, aku belum memesankan minuman dan makanan. Kamu mau minum apa?"


"Tidak usah. Lagi pula aku tidak suka alkohol." Jawab Bara menegaskan.


"Oke, baiklah…"


Bara benar benar merasa terganggu dengan cara berpakaian wanita dihadapannya. Ia terlihat menghindari menatap wajah wanita itu.


Sementara Wanita yang bernama Mona itu terus menatap penuh gairah dan hasrat kerinduan pada Bara yang kini duduk tepat dihadapannya.


Mona mengingat, saat saat masih sekolah dulu. Ia sangat tergila gila pada Bara. Namun, Bara sama sekali tidak tertarik padanya.


Tapi, saat dirinya dalam bahaya ia hampir diperkosa oleh gerombolan laki laki hidung belang, Bara datang menyelamatkannya. Bara bahkan terluka karena bertarung menghadapi gerombolan laki laki hidung belang itu.


Sungguh, hari itu sangat romantis dan mengharukan menurut Mona. Karena setelah berkelahi, Bara langsung memeluknya dan menutupi tubuhnya yang hampir telanjang dengan sweeternya.


"Ini…" Mona meletakkan paper bag diatas meja, lalu mendorongnya kearah Bara.


"Apa ini?" Tanya Bara bingung.

__ADS_1


"Sweeter yang dulu kamu pinjamkan padaku. Aku selalu menyimpannya dan selalu aku pakai saat aku merindukanmu."


Bara mengambil paper bag itu dan melihat isinya. Rupanya benar sweeter miliknya.


__ADS_2