
Jehan sudah memberikan hasil tes DNA pada Cakra. Dan Cakra membacanya langsung dihadapan Wulan, Karina, Klara dan Bara usai makan malam.
"Wulan, maafkan papa nak. Karena selama ini papa tidak pernah berusaha untuk mencarimu." Cakra menggenggam erat kedua tangan Wulan dengan penuh rasa penyesalan.
"Tidak apa Pa. Aku tahu papa tidak mencariku karena papa berpikir aku sudah pergi bersama Mama waktu kebakaran itu terjadi." Ucap Wulan.
"Wulan sayang, mulai hari ini Mama dan Papa akan lebih memperhatikan kamu. Kami akan memberikan yang terbaik untukmu sama seperti kami memberikan semua yang dibutuhkan Bara dan Klara." Karina mendekati Wulan, lalu memeluk Wulan dengan penuh kasih dan kehangatan.
"Terimakasih, Mama. Terimakasih, Papa. Wulan akan berusaha untuk tidak merepotkan kalian. Wulan hanya butuh kasih sayang yang tidak bisa Wulan dapatkan selama ini."
Mereka pun menitikkan air mata sambil berpelukan. Sementara Bara malah mengajak Jehan untuk segera pergi menemui Profesor. Ia tidak berpamitan pada Cakra, karena sebelum acara makan malam sudah mengatakan ia akan segera pergi setelah makan malam usai, untuk mengurus beberapa hal.
"Timo dimana?" Tanya Bara saat mobil mulai melaju meninggalkan rumah papanya.
"Timo sedang bersiap untuk berangkat ke Malaysia besok." Jawab Jehan.
"Ah, gue sampai lupa ternyata gue yang memerintahkan Timo untuk menggantikan gue datang ke Malaysia." Ujarnya sambil tersenyum malu, ia merasa lucu karena melupakan apa yang diperintahkannya pada Timo.
"Apa tujuan loe menemui profesor?"
__ADS_1
"Untuk mengetahui hasil tes DNA gadis bernama Keyla itu." Jawabnya.
"Apa?" Jehan kaget. Ia tidak pernah diberi tahu tentang hal ini sebelumnya oleh Bara.
"Sorry, Je. Gue memeriksa apakah Keyla putri kandung Papa atau bukan."
"Maksud loe kemungkinan hasil tes DNA tuan putri Wulan di palsukan?"
"Bukan. Wulan benar benar putri kandung papa."
"Jadi loe sudah tahu hasil tes DNA Keyla dari Profesor?" Tanya Jehan.
"Ya begitulah. Profesor sudah memberitahukan hasilnya. Keyla bukan putri kandung Papa." Jawabnya tampak kecewa.
"Tidak juga. Hanya saja gue kasihan sama gadis kecil itu. Hidupnya sangat keras dan dia tidak tahu siapa orangtua kandungnya."
Jawaban Bara membuat Jehan merasa heran. Tidak biasanya Bara begitu peduli pada seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.
Sementara Jehan merasa heran pada Bara, Yuda dan Jeydan juga merasa kesal karena baik Wulan ataupun Keyla tidak satupun memiliki darah Cakra.
__ADS_1
"Kedua gadis itu hanya anak haram yang dibuang oleh kedua orangtua mereka." Tutur Yuda menjelaskan.
"Untuk sementara jangan sampai Cakra atau Bara mengetahui kebenarannya." Jeydan menggenggam erat hasil tes DNA milik Keyla dan Wulan.
"Kamu luar biasa Yuda. Kamu bisa membuat hasil tes Wulan dan Cakra benar benar nyata."
"Semua bisa terjadi berkat bantuan gadis bernama Lia, tuan." Ungkapnya.
"Berikan penghargaan untuk gadis itu."
"Baik tuan."
Jeydan tersenyum senang, meski bagaimanapun ia merasa menang dan puas untuk babak pertama pertikaianya dengan Cakra.
"Aku sudah meletakkan banyak mata mata tepat di samping Cakra. Dan aku hanya perlu melawan bocah ingusan yang kini menjelma menjadi si raja hutan." Ucapnya.
"Bara Leonardo…"
Jeydan tertawa setelah menyebut nama Bara.
__ADS_1
"Yuda, apakah kamu bisa mengatasi Jehan dan Timo?"
"Tentu tuan. Saya akan mengatasi tangan kanan dan kiri Bara, sehingga akan memudahkan tuan untuk fokus menyerang tubuh Bara yang tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa tangan kanan dan kirinya." Jawab Yuda penuh percaya diri.