Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 34 Jeydan


__ADS_3


[21:00]


Jeydan sedang berbaring santai sambil menonton acara di salah satu stasiun televisi. Sesekali ia tertawa melihat tingkah lucu pelawak yang sedang memainkan lakon mereka.


"Ini nih yang membuat aku suka acara lawak. Mereka selalu membuatku tertawa, aku yakin aku akan awet muda." Gumamnya bicara sendiri.


Sementara itu, diluar sana salah satu mobil pengawalnya memasuki kawasan Villa Mawar yang menjadi tempat istana Jeydan berdiri kokoh sejak tahun 2003 lalu. Ia memulai awal kekuasaannya dan menyusun rencana dengan sangat matang bersama rekan rekan dan juga anak buahnya di Villa Mawar.


"Selamat malam, kapten Yuda." Seorang pengawal yang bertugas menjaga di depan gerbang menyapa Yuda yang baru saja tiba.


Mobil Yuda memasuki halaman luas Villa itu. Ia langsung memasukkan mobilnya ke garasi yang sudah dibuka oleh pengawal lainnya.


"Apa tuan masih menonton televisi?" Tanya Yuda pada pengawal itu.


"Masih, kapten."


Yuda turun dari mobil, lalu ia melangkah menuju kamar utama dimana Jeydan sedang menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai.


"Selamat malam tuan. Maaf mengganggu istirahat anda, tuan." Yuda menundukkan punggungnya sebentar dihadapan Jeydan.

__ADS_1


"Langsung katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan. Saya sedang menonton acara lawak yang membuat perut saya sakit karena terus terusan tertawa." Tuturnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.


"Rencana tuan berjalan dengan baik. Cakra benar benar percaya bahwa Wulan adalah putri kandungnya. Dan sejauh ini, menurut mbak Karina, Wulan sudah semakin angkuh dan memiliki rasa ingin memiliki semua kekayaan Cakra."


Mendengar laporan itu, membuat Jeydan mengalihkan pandangannya. "Karina? Siapa Karina?"


"Mbak Karina, wanita yang tuan tugaskan untuk merayu Cakra dan sekarang sudah menjadi istrinya."


"Oo… oo… istri baru Cakra yang ia nikahi delapan tahun lalu?" Tebaknya. Ia benar benar lupa, karena terlalu banyak orang yang diperintahkannya untuk memata matai Cakra.


"Benar tuan."


"Hahahhaaa… cerita kamu jauh lebih lucu dari pada para pelawak itu." Pekiknya sambil tertawa terbahak bahak.


"Lalu, apa wanita itu memiliki seorang anak?"


"Iya tuan. Nama putrinya Klara." Yuda memperlihatkan foto Klara pada Jeydan.


"Kenapa kamu memberikan foto gadis kecil ini pada saya?" Ia bingung.


"Mungkin tuan ingin melihat wajahnya. Itu yang dikatakan mbak Karina." Jawab Yuda.

__ADS_1


Sejenak Jeydan mencoba berpikir, lalu ia meraih selembar kertas foto yang ia letakkan begitu saja di atas meja.


"Apa gadis kecil ini putri saya?" Tebaknya ragu.


"Benar tuan. Mbak Karina hanya ingin memperlihatkan foto putrinya pada tuan. Tidak ada maksud lain sama sekali."


Tiba tiba Jeydan bertepuk tangan, lalu ia tertawa. Satu tangannya menunjuk nunjuk kelayar televisi, sementara tangan yang satunya memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa.


"Oh sungguh menggelikan. Ini benar benar luar biasa lucu. Aku rasa aku akan awet muda selamanya." Ucapnya saat tawanya mulai berhenti.


Sekali lagi Jeydan menatap foto Klara sambil tersenyum. Ada perasaan bahagia dalam hatinya, tapi ia juga merasa menyesal karena dulu menolak untuk menikahi Karina yang tengah mengandung bayinya.


"Waktu itu, aku hanya tidak ingin menikahi wanita yang sudah jelas mantan pe la cur. Aku sudah berbaik hati dengan menembusnya supaya keluar dari rumah pe la cu ran itu. Sudah sepatutnya dia membalasku dengan tubuhnya. Dan beraninya dia menampung benihku…" Ia bicara sendiri.


"Waktu itu aku berpikir begitu. Tapi, ternyata setelah melihat wajah gadis kecil ini, membuatku menginginkannya."


"Aku akan memberikan UT Holding untuk putriku." Lanjutnya.


"Aku akan menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalang bagi putriku untuk mendapatkan seluruh UT Holding." Tegasnya penuh tekad.


Kini ia tidak hanya bertekat menghancurkan Cakra dan UT Holding, tapi ia ingin menghancurkan Cakra dan merebut UT Holding secara utuh untuk putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Ternyata apa yang dulu ibuku katakan benar rupanya. Dulu ibu mengatakan, di zaman milenial, manusia bisa meniliki anak tanpa harus menikah. Dulu aku menertawakan ibuku, dan sekarang aku benar benar bisa memiliki anak tanpa harus menikah..." Ia kembali tertawa. Ia menertawakan betapa lucunya kehidupan dan betapa lucunya musuhnya yang tertipu oleh orang orang kepercayaannya.


Yuda berdiri diam menemani tuannya yang sedang berbicara sendiri. Ia tidak pernah ikut campur saat tuannya sedang tidak mengajaknya bicara. Ia tetap berdiri disana, karena belum diperintahkan untuk pergi oleh tuannya. Seperti itulah kesetiaan Yuda pada Jeydan yang telah menyelamatkan hidupnya dari kecelakaan maut yang hampir menewaskannya sebelas tahun lalu.


__ADS_2