
Jehan mulai merasa kelehan, kakinya seakan tidak lagi mampu untuk berdiri didepan pintu ruangan VVIP itu. Saat itulah Bara tiba tiba keluar dari ruangan itu hingga mengejutkan Jehan.
"Tuan muda!"
"Jehan! Sejak kapan kamu disini?" Tanya Bara sedikit terkejut dan juga heran.
"Maafkan saya tuan muda. Saya mengikuti tuan muda sejak awal."
Jelasnya sambil mengikuti langkah Bara yang sangat terburu buru.
"Apa Timo tertidur di kamarku?"
"Iya tuan muda."
Tangan Jehan menghentikan taksi, lalu mereka masuk ke taksi itu. Bara memerintahkan agar sopir taksi mengantarnya ke hotel dengan cepat.
"Apa yang terjadi, tuan muda?" Jehan merasa Bara terburu buru.
"Jeydan memerintahkan anak buahnya untuk membunuhku malam ini di kamar hotel. Mereka sudah mengawasiku sejak tiba di Bangkok."
"Mereka akan gagal karena tuan muda di sini sekarang, jadi akan lebih baik untuk tidak buru buru, bukan?" Ujar Jehan yang belum sepenuhnya mengerti penjelasan Bara. Mungkin karena ia benar benar kelelahan, hingga otaknya tidak bisa mencerna dengan baik.
"Saat ini mungkin mereka sudah menggepung kamar gue, Je."
"Ya karena itulah, akan lebih baik kalau kita tidak terburu buruu… Cepat pak, kita harus segera tiba di hotel secepat mungkin." Teriak Jehan panik.
"Oh Timo, maafkan gue bro." Ujarnya setelah otaknya kembali berpikir jernih.
Sementara itu, Timo tertidur pulas di kamar Bara, tiba tiba terbangun karena merasa pengap. Rupanya seluruh ruangan kamar itu dipenuhi asap beracun.
__ADS_1
"Uukkhuuhk… hhuukk…" Timo terbatuk. Ia melihat sekelilingnya yang tampak sepi.
"Bara, Jehan…" Panggilnya sambil menutup hidung dan mulutnya dengan bantal.
Ia mulai bangkit dari tempat tidur, lalu melangkah kearah pintu.
"Jehan... Bara, kalian dimana?" Panggilnya.
Ia tiba dipintu, tangannya menyentuh ganggang pintu. Pintu itu terbuka, sayangnya diluar sudah ada beberapa orang berpakaian serba hitam dan memakai masker topeng agar tidak menghirup asap beracun tersebut.
Timo yang sudah hendak keluar dari kamar itu, tiba tiba merasakan perutnya ditendang kuat oleh seseorang hingga ia terpental masuk kembali kedalam kamar. Timo merangkak kesakitan.
Ia benar benar merasakan sakit luar biasa diperutnya. Ditambah lagi napasnya yang semakin sesak karena menghirup asap beracun semakin banyak.
Saat bersamaan, Jehan dan Bara tiba di hotel. Mereka segera menuju kamar, dimana mata mereka menangkap empat orang pria berbaju hitam yang menutupi wajah mereka dengan masker topeng, sedang tertawa. Untungnya mereka tidak menyadari kedatangan Jehan dan Bara.
"Hkiiiiyyyaaakkkk…"
Jehan dan Bara menendang masing masing dua wajah pria pria berbaju hitam itu. Seketika ke empat pria tersebut terpental ke tembok dan juga pintu kamar hotel.
"Je, selamatkan Timo." Ujar Bara.
Jehan pun langsung masuk ke kamar yang ternyata penuh asap beracun. Ia mendapati Timo yang terbaring setengah sadar di lantai. Ia langsung membawa tubuh Timo keluar dari kamar itu.
Sementara Bara sibuk bertarung dengan keempat Pria bertopeng itu.
"Sini maju!" Tantang Bara saat keempat pria itu kembali berdiri.
"Maju! Loe pikir gue takut, harusnya langsung saja suruh Jeydan tua bangka sialan itu yang datang untuk membunuh gue." Ucapnya mengejek pria pria itu.
__ADS_1
Mereka pun kembali menyerang Bara. Mereka menggepung Bara. Saat pria satu hendak memukul wajah Bara, ia merunduk hingga pukulan itu mengenai pria dua. Lalu saat pria tiga hendak menendang kaki Bara, ia melompat hingga tendangan itu mengenai pria satu. Sementara Bara yang melompat cukup tinggi mengarahkan kakinya tepat ke wajah pria empat. Sekali lagi keempat pria itu berjatuhan.
"Wah wah wah!" Ucap Timo yang melihat pertunjukan laga didepan matanya, sesaat sebelum ia pingsan.
"Timo!" Teriak Jehan, yang sejak tadi memapah tubuh sahabatnya itu. Tadinya Jehan hanya akan membawa Timo keluar dari kamar berasap itu, lalu membantu Bara.
Tapi, saat mereka tiba diluar dan Jehan kembali menutup kamar agar asapnya tidak menyebar keluar, Bara sudah menghabisi musuh musuhnya sendiri.
"Timo…" Bara menghampiri Timo.
"Bar, loe bawa Timo ke kamarnya terlebih dahulu."
"Iya Je." Jehan membantu menaikkan tubuh Timo dipunggung Bara.
"Je, loe harus tetap waspada."
"Tidak usah khawatir Bar. Lagian mereka semua sudah loe buat pingsan." Jawab Jehan sambil tersenyum.
Bara segera membawa Timo ke kamarnya yang berada di lantai bawah. Sementara Jehan mengamankan keempat kunyuk yang diperintahkan Jeydan untuk membunuh Bara.
"Sungguh merepotkan." Rutuk Jehan.
Ia mengikat kedua tangan dan kaki ke empat pria itu. Lalu memasukkan mereka kembali ke dalam kamar Bara yang masih berasap.
Tapi tenang, Jehan tidak melepaskan topeng masker keempat pria itu. Ia tidak berniat membunuh mereka, ia hanya ingin memotret keempat pria itu lalu mengirimkan foto itu pada Yuda tangan kanan Jeydan.
"Semoga anda menyukai hadiah dari tuan muda Bara, tua bangka." Ucapnya dengan senyum sinisnya.
Kemudian Jehan meninggalkan keempat pria itu di kamar yang ia biarkan pintunya terbuka agar asap beracun itu tidak menumpuk dan membunuh keempat anak buah Jeydan.
__ADS_1