Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 72 Kelanjutan misi


__ADS_3

Sementara Timo dan Bara masih terperangkap di kantor polisi Malaysia, Jehan justru bergerak menjalankan misinya untuk membuktikan bahwa Keyla adalah putri kandung Cakra.


Diam diam Jehan menyusup masuk ke gudang tempat Keyla di kurung oleh Yuda.


"Jehan!" Seru Keyla berbisik saat melihat kedatangan Jehan.


Jehan hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak membebaskan ikatan di tangan dan kaki Keyla, tapi dia hanya mengambil sedikit rambut Keyla untuk dijadikan bahan tes dna.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Keyla bingung.


"Maafkan aku, nona Keyla. Bertahanlah sebentar lagi di sini. Ada yang harus aku buktikan sebelum membebaskan nona." Ujarnya.


Kemudian, Jehan langsung pergi dari gudang itu setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Jehan segera menuju lab dan mengawasi sendiri proses tes dna tersebut tanpa neninggalkan lab sama sekali.


Sementara itu, tangannya juga bekerja mengirimkan foto foto karina pada Cakra. Jehan juga mengirimkan rekaman yang baru saja dikirimkan Mona padanya. Rekaman itu menunjukkan adegan dimana Karina mengaku dirinya tengah hamil dihadapan Jeydan, lalu Jeydan memerintahkan Karina merayu Cakra dan dijadikan sebagai mata mata.

__ADS_1


Betapa Cakra terkejut mengetahui kenyataan itu. "Karina.."


Cakra langsung pulang. Dia menemui Karina yang tengah asyik bermain bersama Klara dan Wulan.


"Apa ini?" Dengan tanpa memperdulikan Wulan dan Klara, Cakra memperlihatkan rekaman itu pada Karina yang membuat Karina terkejut dan gemetar.


"Kau membohongi aku selama ini, Karina?" Teriak Cakra murka, hingga membuat Wulan dan Klara terdiam ketakutan.


"Ampuni aku, mas. Iya awalnya aku memang menjadi mata mata atas perintah tuan Jeydan. Tapi sungguh aku sudah tidak melakukan itu lagi selama lima tahun terakhir. Aku tulus mencintai kamu, mas." Karina berlutur mengiba dihadapan Cakra.


"Tidak ada ampun untuk wanita murahan sepertimu. Lagi pula tidak ada yang perlu aku jadikan pertimbangan untuk mempertahankan kamu. Toh Klara juga bukan putriku, dia putri Jeydan.. laki laki yang telah merenggut kebahagiaan keluargaku. Dia laki laki yang membunuh istriku."


"Ma, apa yang papa maksud?"


"Maafkan mama Klara. Tapi, papamu bernar nak. Kamu bukan putri kandungnya. Kamu putri dari orang lain." Jawab Karina jujur sambil menatap wajah sedih Klara.

__ADS_1


"Tinggalkan rumahku segera. Atau aku akan membunuh kalian berdua!" Titahnya penuh penekanan.


Lalu, Cakra mendekati Wulan yang sejak tadi terdiam bingung dengan apa yang baru saja terjadi dihadapannya.


"Wulan, mari ikut papa, nak." Cakra merangkul Wulan. Lalu mereka melangkah pergi meninggalkan Karina dan Klara yang sama sama berlutut di lantai.


"Sayang, kita harus meninggalkan rumah ini." Karina mengajak Klara keluar dari rumah itu meski dengan perasaan sedih dan merasa bersalah pada Cakra.


Saat Karina dan Klara baru saja naik taksi untuk meninggalkan rumah itu, mobil Beni justru baru memasuki perkarangan rumah itu.


Beni menemui Cakra dan Wulan yang tampak duduk bermenung di sofa ruang tamu. Beni sudah mendengar apa yang telah terjadi dari Jehan.


"Maafkan aku datang terlambat pak Cakra." Ujar Beni yang langsung berlutut di hadapan Cakra.


"Apa maksud anda, Beni? Mengapa anda berlutut.."

__ADS_1


Beni menyerahkan satu dokumen penting pada Cakra yang langsung di baca oleh Cakra.


"Apa lagi kali ini?" Mata Cakra membola saat mengetahui isi dokumen tersebut yang amat sangat membuatnya terkejut.


__ADS_2