Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 28 Salah Paham


__ADS_3

"Je, sepertinya gadis itu menguping pembicaraan kita." Bisik Bara saat menyadari Keyla menatap sesekali pada mereka, lalu raut wajahnya yang ceria itu berubah menjadi sendu.


"Biarkan saja palingan dia juga tidak akan mendengar dengan jelas, suara Wulan pasti kencang banget ditelinganya." Ujar Jehan kembali berbisik.


"Sepertinya dia salah paham dengan pembicaraan kita Je. Raut wajahnya tampak sedih." Bara mengatakan dengan sangat pelan bahkan tanpa menoleh pada Jehan.


"Dia hanya sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan Wulan." Sahut Jehan.


"Gue rasa bukan…" Kali ini Bara berucap dalam hati. Lalu ia memilih untuk memejankan mata karena memang kondisi kesehatannya yang masih belum seutuhnya pulih.


"Aku tahu, mungkin mereka mengejekku karena aku terlihat kuno. Apakah sangat kentara, wajah bahagiaku duduk di kursi mobil mewah ini?" Ucap Keyla dalam hati.


Ia tidak mendengar sama sekali pembicaraan Jehan dan Bara, ia hanya menerka saat sesekali mereka melirik padanya melalui kaca spion depan lalu saling berbisik. Meski, wajahnya tersenyum menanggapi ocehan Wulan, namun hatinya terasa perih menyadari keadaan dirinya yang kulot dan kampungan dimata orang lain.


Tidak sengaja Jehan menatap raut wajah sedih Keyla, dari pantulan spion depan mobil.


"Senyumnya terlihat sangat menyedihkan. Sepertinya loe benar, Bar. Gadis itu salah paham dengan pembicaraan kita." Pikirnya dalam hati.


Setelah berkendara lumayan jauh, akhirnya Jehan menghentikan mobilnya tepat di depan kos tempat Keyla tinggal.


"Apa kita sudah sampai?" Tanya Bara. Ia terbangun saat merasa mobil berhenti.

__ADS_1


Bara celingukan melihat sekeliling tempat tinggal Keyla.


"Bye bye Wulan. Aku pasti akan sangat merindukan kamu."


"Aku juga…" Setelah berpelukan sebentar, Keyla pun turun dari mobil.


Lalu setelah turun dari mobil, ia mengetuk pintu kaca mobil tepat di sebelah Bara.


"Terimakasih tuan muda. Maaf sudah merepotkan." Keyla mengatakan itu dengan bahasa isyarat yang ternyata dimengerti oleh Bara.


"Saya terlalu kolot dan kampungan bukan? Sekali lagi, terimakasih banyak. Tolong jaga sahabat saya dengan baik." Lanjutnya tetap dengan bahasa isyarat.


Hanya Bara yang mengerti bahasa isyarat itu. Sementara Jehan dan Wulan tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakan Keyla pada Bara.


Setelah Keyla melangkah masuk keperkarangan kosnya, Bara menatap Jehan dengan wajah yang merasa tidak enak.


"Ada apa tuan muda?"


"Bukan apa apa. Sebaiknya kita pulang sekarang, aku rasa tubuhku mulai lelah." Ucapnya yang kembali memejamkan mata.


"Baik tuan muda."

__ADS_1


Jehan melanjutkan perjalanan menuju kediaman tuan Cakra. Sementara Timo sudah berada disana dan menceritakan semuanya pada Cakra. Mereka menunggu kedatangan Wulan, Bara dan Jehan.


Sementara itu, Keyla menangis tersedu sedu di kamarnya. Ia membenamkan wajahnya diatas bantal untuk menahan suara tangisan yang bisa saja terdengar hingga keluar kamarnya.


"Oh tuhan, mengapa aku merasa sangat kasihan pada diriku sendiri? Padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini… hhiikkss…"


"Tidak apa apa, aku tidak seberuntung wulan… tapi… hiikkss hiikkkss…" Hatinya terasa sangat iba.


"Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mau menangis seperti ini..."


Tiba tiba saja handphonenya bergetar. Rupanya panggilan masuk dari mbak Erna.


"Kenapa mbak Erna menelpon?"


Keyla berhenti menangis. Ia mengatur napasnya dan merapikan rambut yang menutupi wajahnya.


"Halo, mbak?"


"Aku tidak punya kegiatan apapun. Ada apa mbak?"


"Ke klinik sekarang?" Keyla melirik jam yang menunjukkan pukul empat sore.

__ADS_1


"Iya mbak, aku ke klinik sekarang."


Keyla segera membasuh wajahnya, lalu berganti pakaian dan segera berangkat ke Klinik.


__ADS_2