Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 22 Mencari tahu


__ADS_3

Saat ini Diki sedang berada dihadapan Bara, Jehan dan Timo. Ia baru saja mendengar cerita Bara tentang pak tua yang datang pagi tadi. Lalu, ia pun menceritakan kejadian dua puluh tahun lalu.


"Tentang kebakaran dua puluh tahun lalu, memang benar. Tapi, setahu om, semua pelaku pembakaran malam itu menghilang begitu saja tanpa jejak. Bahkan sampai saat ini polisi tidak bisa menemukan mereka. Ada kemungkinan, orang orang itu telah dimusnahkan." Tuturnya.


"Tapi, tentang bayi… om sama sekali tidak tahu menahu." Lanjutnya tampak bingung.


"Tuan muda, izinkan saya memeriksa panti asuhan yang dimaksud oleh pak tua itu." Ucap Jehan.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Bara.


"Saya akan memeriksa apakah ada bayi perempuan seperti yang diceritakan pak tua itu." Jawab Jehan.


"Jika ternyata benar ada, apa yang akan kita lakukan, Je? Haruskah kita mengatakan pada Papa bahwa sebenarnya putrinya masih hidup?"


"Iya. Dan jika benar putri tuan Cakra ada di panti asuhan itu, kita akan memintanya melakukan tes DNA untuk memastikan keaslian hubungan mereka."


"Om setuju dengan ide cermelang mu, nak Jehan. Dan menurut Om, sebaiknya kita rahasiakan dulu tentang hal ini dari pak Cakra, sampai kita bisa memberikan bukti yang nyata." Sambung Diki.


"Saya menyetujui saran, Om Diki."


"Baiklah, kalau kalian sudah sepakat, maka tidak ada alasan untuk tidak ikut menyepakati keputusan kalian."


"Saya juga setuju dengan kesepakatan ini." Ujar Timo yang sejak tadi hanya jadi pendengar.

__ADS_1


Setelah rapat singkat itu berakhir, Timo kembali mengantar om Diki pulang, lalu menjemput ibunya di klinik Hewan. Sedangkan Jehan mulai bergerak menuju panti asuhan bersama Bara. Ia bersikeras mau ikut meski kondisinya belum pulih seutuhnya.


Saat mobil yang Jehan kendarai berhenti di depan halaman panti, ia dan Bara tidak langsung turun. Jehan mendapat telepon dari orang yang ia perintahkan mengikuti lelaki tua yang mendatangi Bara pagi tadi.


Jehan terlihat serius mendengarkan laporan tentang lelaki tua yang katanya tidak mencurigakan sama sekali.


"Sepertinya apa yang lelaki tua itu katakan memang benar, Bar." Ucapnya yakin setelah mendapat laporan yang menurutnya akurat.


"Semoga saja begitu."


"Apakah panti ini termasuk dalam daftar bantuan sosial perusahaan?" Lanjut Bara bertanya.


"Iya, tuan muda. Sudah sejak dua belas tahun lalu, panti ini menjadi penerima bantuan sosial dari perusahaan." Jelasnya.


Tok, tok…


Bara dan Jehan dikejutkan oleh suara ketukan yang tiba tiba di kaca mobil. Mata mereka akhirnya menangkap pelaku yang mengetuk. Ia adalah Astuti, pengasuh sekaligus pemilik panti.


"Je, turunkan kaca." Perintah Bara. Ia pun langsung menurunkan kaca mobil sehingga Bara bisa bicara dengan Astuti.


"Selamat siang, bu. Maaf mengganggu." Sapa Bara ramah.


"Ada keperluan apa kalian datang ke sini?" Tanya Astuti sambil menatap curiga pada mereka.

__ADS_1


Menyadari mereka dicurigai, akhirnya Bara dan Jehan memutuskan untuk turun dari mobil.


"Saya Bara Leonardo Handoko CEO UT Holding." Ia langsung memperkenalkan diri dengan sedikit menyombong.


"Oh ya ampun, tuan muda. Maafkan saya tidak mengenali anda." Astuti merunduk hormat.


"Tidak apa apa, bu." Dengan ragu Bara menyentuh tangan wanita tua itu dan memintanya untuk berdiri tegap seperti sebelumnya.


"Apakah anda ibu Astuti?" Tanya Jehan.


"Iya, saya Astuti."


"Maaf karena kedatangan kami mengejutkan ibu Astuti." Ucap Bara.


"Tidak apa apa tuan muda. Saya yang seharusnya meminta maaf karena tidak mengenali tuan muda."


Bara tersenyum dalam kebingungan. Ia merasa heran, karena pemilik panti ini mengenali dirinya yang baru pertama kali datang ke tempat itu. Berbeda dengan Bara, Jehan justru tidak merasa heran sama sekali. Tentu saja Astuti mengenal Bara, karena setiap enam bulan sekali selama dua belas tahun terakhir, Cakra memberikan bantuan sosialnya untuk panti ini. Sudah pasti Astuti menggali informasi tentang Cakra Handoko. Dan Bara satu satunya pewaris Cakra Handoko yang terdaftar dalam data kepewarisan itu.


"Alangkah baiknya jika tidak keberatan, kita bisa mengobrol sebentar di dalam. Bagaimana tuan muda?" Tanya Astuti ragu ragu.


"Boleh, bu. Kebetulan memang ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan juga." Ucap Bara.


"Mari ikut saya tuan muda."

__ADS_1


Bara dan Jehan mengikuti langkah Astuti menuju rumah panti. Sambil berjalan, Bara melirik anak anak yang tengah bermain bola di lapangan kecil panti. Ia memperhatikan anak anak itu sambil tersenyum senang, seakan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan anak anak itu saat sedang bermain di alam bebas tanpa memikirkan hal apapun.


__ADS_2