
Bara mulai membuka paper bag itu. Dan dia mengeluarkan beberapa foto dari dalam sana.
"Ini!"
Bara melotot menatap wajah yang ada dalam foto tersebut. Bukan hanya Bara, Timo dan Jehan pun juga begitu.
"Mama!"
Foto foto itu memperlihatkan wajah Karina. Dalam foto itu, Karina sedang bermesraan dengan seorang laki laki yang sangat dikenal oleh Bara, Timo dan Jehan.
"Nyonya Karina memiliki hubungan spesial dengan Jeydan dimasa lalu." Tutur Jehan.
"Je, Tim, kali ini kita akan mencari tahu hubungan Mama dengan Jeydan dimasa lalu seperti apa."
"Baik tuan muda." Jawab mereka berbarengan.
Bara benar benar mendapatkan banyak kejutan hari ini sampai sampai ia merasa tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu.
"Tuan muda, ada panggilan dari rumah." Jehan mendekatkan hp nya pada Bara.
Panggilan itu dari telepon rumahnya. Dengan malas Bara mengangkatnya dan mulai bicara.
"Tuan muda, makan siang anda sudah siap. Nona Keyla sudah menunggu untuk makan siang." Kalimat itu disampaikan oleh Susi.
"Saya tidak akan pulang." Jawab Bara menegaskan.
Jehan dan Timo saling bersitatap, mereka merasa heran dengan ekspresi wajah Bara yang tampak sangat misterius hingga sulit untuk di gambarkan.
"Kita lanjutkan misi ini sekarang juga. Saya tidak mau ketinggalan satu cerita pun tentang masa lalu Mama."
"Baik tuan muda."
__ADS_1
"Tapi sebelum itu saya ingin memberikan ini tuan muda." Jehan menyerahkan memori card yang tadi diambilnya dirumah profesor.
"Apa lagi kali ini Je?"
Bara benar benar tampak lelah karena hari ini terus terusan dihantam oleh hal-hal yang sangat menguras pikirannya.
"Saya menemukan ini dikediaman profesor. Dia menyimpan memori card ini ditempat yang tersembunyi. Jadi, saya rasa ada rahasia didalamnya."
"Kalau begitu perlihatkan apa yang ada dalam memori card ini."
Jehan langsung memasang memori card itu ke hp-nya lalu membuka file satu-satunya yang ada didalam memori card itu. Ternyata video rekaman cctv didepan rumah Cakra tepat empat belas tahun yang lalu.
"Tuan muda saya rasa kita tunda dulu untuk melihat video ini."
"Kenapa? Apa yang diperlihatkan dalam video itu." Bara merebut hp dari tangan Jehan, kemudian dia langsung memutar video tersebut yang memperlihatkan dirinya sedang bergandengan tangan dengan bundanya yang hendak pamit pulang setelah menjenguknya, hari itu empat belas tahun yang lalu.
Bukannya berhenti menonton video rekaman itu Bara malah melanjutkan dan bahkan memakai headset untuk mendengarkan lebih jelas suara bundanya.
Video itu berlanjut yang memperlihatkan Bara kembali masuk kerumah saat bundanya sudah dipastikan masuk kemobil untuk segera diantar oleh sopir pulang. Tapi setelah Bara masuk kerumah bundanya malah turun dari mobil dan menghampiri Diki yang saat itu sedang berdiri menelpon seseorang diteras rumah Cakra.
"Bu Lanjani ada yang bisa saya bantu?" Suara Diki terdengar jelas sekali.
"Begini pak Diki saya mau mengatakan sesuatu berkaitan dengan kejadian pembakaran rumah tuan Cakra." Lanjani mulai bercerita.
"Ya silahkan bu Lanjani. Saya akan mendengarkan."
Lanjani melanjutkan ceritanya. Dia mengatakan bahwa dia mendengar seseorang mengatakan bahwa putri kandung Cakra masih hidup dan saat ini berada dipanti asuhan.
Mendengar penuturan Lanjani membuat raut wajah Diki berubah merah padam, sayangnya Lanjani tidak menyadari itu. Dia terus melanjutkan ceritanya tentang dia yang juga mengetahui bahwa ada beberapa orang yang berusaha menemukan putri kandung Cakra untuk mereka jadikan sandera agar bisa ditukar dengan perusahaan Cakra.
Raut wajah Diki bertambah merah dan tampak jelas menahan emosi. Tapi dia malah tersenyum manis saat Lanjani menatapnya.
__ADS_1
"Saya akan menyampaikan kepada tuan Cakra segera. Untuk saat ini saya rasa bu Lanjani harus segera pulang sekarang."
Begitu Lanjani melangkah pergi Diki menelpon seseorang, dia memerintahkan orang tersebut untuk mengikuti Lanjani dan jika perlu menghabisi Lanjani. Saat itu Diki tidak menyadari Lanjani masih berada disana tepat dibelakangnya sambil menekan tombol perekam pada alat perekam yang ada didalam saku mantelnya yang lupa dia berikan pada putranya Bara.
Mata Bara tampak berkaca kaca. Kini dia tahu siapa yang membunuh bundanya. Dia mengepal erat kedua. Jehan yang melihat ekpresi kemarahan Bara, langsung mengambil lagi hp-nya. Dia melihat video rekaman itu bersama Timo.
"Om Diki!" Jehan menyebut nama itu dengan menggertakkan gigi gerahamnya.
"Aku tidak pernah berpikir om Diki ternyata sejahat ini. Apa yang terjadi dua puluh tahun lalu, pasti berkaitan dengan om Diki. Aku yakin itu. Semua terlihat jelas dari bagaimana dia mencoba menyingkirkan semua saksi yang mengetahui kejadian hari itu." Ujar Timo pelan.
Tiba tiba panggilan masuk di hp Jehan dari Intan asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Bara. Segera Jehan menjawab panggilan tersebut.
"Halo Intan, ada apa?"
Jehan melotot kaget mendengar ocehan Intan dengan suara serah dan gemetar ketakutan.
"Tetap diam disana. Aku akan kesana sekarang juga." Ujar Jehan, lalu dia mengakhiri pembicaraan itu.
"Ada apa Je?" Tanya Timo.
Bukannya menjawab Jehan malah menatap kearah Bara yang masih dalam keadaan menahan segala emosi dan dendam yang meluap dalam dirinya.
"Tuan muda, nona Keyla di culik."
"Apa?" Teriak Timo kaget.
"Sepertinya ini ulah anak Jeydan. Karena mereka mengira bahwa nona Keyla adalah putri kandung tuan Cakra." Jehan menjelaskan.
"Kita susul sekarang. Kita harus menyelamatkan nona Keyla segera." Timo hendak bersiap untuk menyusul anak buah Jehan.
"Biarkan saja." Ucap Bara datar.
__ADS_1
"Tapi tuan muda…" Timo yang tidak tahu apa apa hendak protes, sedangkan Jehan hanya diam saja, dia tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa pada tuan muda nya untuk saat ini, terlebih setelah mengetahui bahwa Keyla adalah putri kandung Diki dan Diki sudah terbukti jelas memerintahkan anak buahnya untuk membunuh bunda tuan muda-nya.
"Tim, sebenarnya Keyla adalah putri kandung om Diki." Ungkap Jehan yang berhasil membuat Timo terdiam dan kembali duduk di kursinya.