Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 25 DNA


__ADS_3

"Wulan, kamu tetap anak bunda, nak. Selamanya kamu anak bunda. Mereka hanya ingin memastikan saja, jika benar kamu anak dari tuan Cakra, mereka akan melindungi kamu dari orang orang jahat, nak." Jelas Astuti.


Bara menghela napas malas, entah mengapa tangisan Wulan sama sekali tidak membuatnya tersentuh. Sedangkan Jehan, tertunduk diam, merasa kasihan pada Wulan. Ia memang mudah tersentuh oleh hal hal yang mengharukan seperti kejadian saat ini.


"Orang orang jahat? Apa maksud bunda…"


"Kamu akan tahu setelah tes DNA dilakukan." Ia menghapus air mata dipipi Wulan.


"Dengarkan bunda baik baik… ikutlah dengan mereka ke rumah tuan Cakra."


"Bunda, aku tidak mau…"


"Wulan, dengarkan bunda dulu, nak." Astuti mencoba membuat Wulan merasa lebih tenang.

__ADS_1


"Bunda sudah memberikan sampel rambutmu untuk keperluan tes DNA, sementara menunggu hasil tes tersebut keluar, tinggal lah dulu di rumah tuan Cakra. Tempat itu yang paling aman untukmu saat ini nak."


Wulan menggeleng dan air matanya kembali menetes. Bara sangat bosan dengan adegan mengharukan itu. Rasanya ia ingin segera pergi dari tempat itu sesegera mungkin.


"Ikuti perkataan bunda kali ini, nak. Setelah mereka memastikan apa yang ingin mereka pastikan, mau kamu adalah anak kandung tuan Cakra atau bukan, kamu tetap anak bunda dan tetap boleh tinggal di panti sampai kapanpun." Astuti memeluk Wulan sangat erat. Ia pun ikut menangis.


Saat adegan tangisan mengharu biru itu berlangsung, Jehan berbisik pada Bara, ia ingin keluar sebentar. Dan Bara memberikan izin karena dia juga ikut bersama Jehan.


Jehan memberi kode pada Astuti, bahwa mereka akan menunggu di luar. Astuti pun mengangguk paham dan membiarkan tamunya keluar dari ruangan itu.


"Tapi, bunda… aku tidak kenal siapa mereka. Bagaimana mungkin aku bisa tinggal ditempat orang yang tidak aku kenal." Protesnya.


"Andai aku ikut mereka, aku tinggal di rumah tuan Cakra itu, lalu hasil tes DNA ternyata mengatakan bahwa aku bukan anak kandung tuan Cakra… mereka akan mengantarkan aku kembali ke panti, bunda. Jika hal itu sampai terjadi, aku rasa itu sangat menyedihkan untukku. Mereka pasti akan menatapku dengan tatapan kasihan. Dan bunda tahu kan, aku sangat tidak suka saat orang orang mengasihaniku." Tuturnya, masih dalam keadaan menangis.

__ADS_1


"Bunda tidak akan memintamu pergi andai bunda tidak yakin. Tapi, sayangnya bunda sangat yakin bahwa kamu putri kandung tuan Cakra yang berhasil selamat dari kebakaran itu."


Mendengar perkataan Astuti barusan, membuat Wulan berpikir untuk benar benar pergi ke rumah tuan Cakra.


"Aku ingin menjadi orang kaya. Aku benci dipandang rendah oleh teman temanku karena aku hanya anak yang dibuang ke panti asuhan." Pikirnya.


"Pergilah, Wulan. Bunda sangat yakin kamu putri kandung tuan Cakra. Percaya sama bunda, nak. Kamu akan bahagia tinggal bersama keluarga kaya raya itu. Bukankah cita citamu ingin meneruskan kuliah hingga kamu lulus menjadi sarjana. Inilah jalannya nak. Ini jalannya!"


"Bunda benar, ini jalannya. Aku tidak boleh menyianyiakan kesempatan emas ini." Lanjutnya berdialog dalam pikiran.


"Baiklah bunda. Kali ini aku percaya sama bunda. Aku akan ikut mereka ke rumah tuan Cakra."


Astuti tersenyum, lalu memeluk erat tubuh Wulan setelah mendegar jawaban Wulan yang akhirnya memutuskan setuju untuk tinggal di rumah tuan Cakra.

__ADS_1


"Apapun itu, aku benar benar ingin menjadi putri tuan Cakra yang kaya raya itu." Ucap Keyla penuh tekad dalam hatinya.


Dan sebenarnya, dalam perjalanan sebelum tiba di panti, diam diam Wulan mencari tahu tentang siapa sebenarnya Direktur UT Holding. Karena, hari itu Wulan mendengar lelaki tua yang datang kepanti mengatakan Wulan adalah putri dari seorang Direktur UT Holding tersebut.


__ADS_2