Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 47 Tawaran


__ADS_3

Susi dan Intan benar benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka saat tuan muda pulang. Lagian, tuan Cakra juga datang tanpa pemberitahuan sama sekali.


"Bagaimana ini, mbak?" Bisik Intan khawatir.


"Saya tidak tahu, Intan. Semoga saja tuan muda cepat pulang." Susi berharap tuan muda segera pulang.


"Kamu mau menjadi pengawal tuan putri?" Tanya Cakra pada Keyla.


Pertanyaan itu sungguh membuat Susi dan Intan ingin berteriak mengatakan bahwa Keyla bukan pembantu baru, melainkan tamu spesial tuan muda. Tapi, apalah daya lidah terasa berat untuk berucap.


"Kalian sepertinya seumuran. Wulan pasti senang jika pengawalnya seumuran dengannya." Ujar Cakra.


"Wu…la… Wulan?" Ulangnya Ragu.


"Tuan putri Wulan, putri saya." Jawab Cakra yang akhirnya membuat Keyla tampak bingung.


"Tunggu! Apa lelaki ini tuan Cakra yang merupakan orangtua kandung Wulan? Benarkah putrinya yang ia maksud adalah Wulan sahabatku, atau mungkin hanya kebetulan saja nama putrinya sama dengan nama sahabatku." Keyla berdialog sendiri di dalam pikirannya.


"Tidak, tidak... Jika lelaki ini benar tuan Cakra, berarti pemilik rumah ini tuan muda, anaknya..."


Keyla semakin tidak mengerti mengapa anak tuan Cakra membawanya kerumah ini, seakan telah mengenalnya sebelumnya.


Cakra memperhatikan mimik wajah Keyla yang berubah rubah seakan sedang memikirkan sesuatu. Bukan hanya Cakra saja yang memperhatikan wajah Keyla, Susi dan Intan juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Bagaimana nak…?" Cakra tidak tahu nama gadis itu, ia melirik pada Susi untuk menanyakan nama si pembantu baru itu.


"Keyla tuan. Nama saya Keyla!" Jawab Keyla tegas. Kini ia sudah menyusun rencananya sendiri.


"Keyla." Ulang Cakra sambil tersenyum.


"Jadi bagaimana? Apa nak Keyla mau menjadi pengawal tuan putri?"


Sebelum menjawab, Keyla melirik sebentar pada Susi dan Intan yang memberi kode agar menolak tawaran tuan Cakra. Rupanya, kode dari mereka membuat Keyla semakin bersemangat untuk mewujudkan rencananya.


"Kalau boleh tahu, apa tugas saya sebagai pengawal tuan putri, tuan?" Tanya Keyla.


"Mmm…, tugas nak Keyla hanya perlu mengantarkan, menemani dan menjaga tuan putri, di manapun, kapanpun dan dalam kondisi terburuk sekalipun." Jelas Cakra.


Cakra tertawa, lalu ia melangkah menuju sofa ruang tamu. Saat bersamaan Susi menghampiri Keyla.


"Nona, jangan menerima tawaran pekerjaan itu. Setidaknya tunggulah sampai tuan muda pulang." Bisiknya pada Keyla.


"Tadinya saya juga berpikir begitu, tapi tawaran pekerjaan ini membuat saya bersemangat." Balas Keyla ditelinga Susi.


"Nak Keyla, kemarilah." Cakra menggamit kearahnya.


Dengan segera ia bergegas menghampiri Cakra.

__ADS_1


"Iya tuan."


"Duduklah dulu, kita bahas tentang pekerjaan."


Keyla pun ikut duduk. Ia yang tidak terbiasa menghormati orang lain lebih dari sekedar rasa hormat sebagai sesama manusia, membuatnya merasa santai dan biasa saja saat berhadapan dengan tuan Cakra. Baginya ia sudah cukup sopan dihadapan lelaki yang jauh lebih tua darinya itu.


"Jika kamu setuju untuk menjadi pengawal tuan putri, kamu akan diajarkan menyetir mobil oleh anak buah saya. Tentang tempat tinggal? Tidak usah khawatir, kamu bisa tinggal di rumah yang sama dengan tuan putri. Ya, meski tempat tidurmu berada dibarisan kamar tidur para pelayan di rumah saya."


Keyla tersenyum mendengar penuturan Cakra. Ia juga melihat lelaki tua itu benar benar ingin mempekerjakannya sebagai pengawal tuan putri Wulan yang diyakininya adalah Wulan sahabatnya.


"Aku akan menerima tawaran ini. Setidaknya untuk memastikan apakah putrinya benar benar Wulan sahabatku. Jika benar putrinya adalah Wulan, aku hanya akan bekerja selama beberapa hari saja untuk memastikan seperti apa kehidupan baru Wulan sebagai tuan putri. Tapi, jika ternyata bukan Wulan sahabatku, aku akan bekerja untuk waktu yang lama." Ucapnya dalam hati.


"Baiklah tuan, saya setuju dengan tawaran tuan." Jawabnya yakin.


"Kalau begitu bersiaplah, kita berangkat sekarang!"


"Berangkat kemana tuan?" Tanya Keyla bingung.


"Ke rumah saya, tempat dimana tuan putri berada."


"Baiklah tuan."


Keyla merasa bahagia dan berharap Wulan yang dimaksud adalah Wulan sahabatnya. Sedangkan Susi dan Intan merasa khawatir dan takut dimarahi tuan muda karena membiarkan Keyla pergi bersama Cakra.

__ADS_1


__ADS_2