Tuan Putri Yang Hilang

Tuan Putri Yang Hilang
Bab 45 Tidak untuk berbagi


__ADS_3

Beni sedang mencabut rumput rumput kecil yang mulai tumbuh di ladang pertaniannya yang mengganggu pertumbuhan tanaman sayur mayur yang ia tanam.


Ladang pertaniannya tidak begitu luas, hanya sekitar 10 meter per segi. Ia menaman, cabe, kol, sawi, kacang panjang, terong dan juga timun, ia juga menanam jagung dan tebu.


Semua sayur mayur itu di beli setiap kali panen besar oleh pedagang sayur mayur di pasar raya. Sementara, tebu di beli oleh pedagang es tebu.


Dari sanalah Beni menghasilkan pundi pundi uang untuk kebutuhan hidup sehari hari dan juga modal perawatan kebunnya.


Sejak Lanjani meninggal, Beni memutuskan untuk menetap di kampung halaman istrinya itu dengan memanfaatkan lahan tanah yang menjadi harta warisan peninggalan kedua orangtua Lanjani.


"Sayang, lihatlah rumput rumput ini mulai tumbuh lagi. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku cabut." Rutuknya, ia seakan bicara dengan istrinya.


"Andai kamu masih disini. Saat aku membersihkan rumput rumput ini, kamu memasak makan siang untukku." Gumamnya sambil tersenyum membayangkan jika saja istrinya masih hidup.


Saat sedang asyik mengkhayal, mobil mewah memasuki perkarangan rumahnya. Mobil itu milik Bara, dan kini mobil itu berhenti tepat di depan rumah.


"Bara!" Seru Beni.


Ia langsung berdiri memandang kearah Bara.


Perkebunannya tidak jauh dari rumah, hanya perlu menyeberang jalan setepak, lalu menyeberangi jembatan sungai kecil dan tibalah diperkebunannya.


Beni berlari bahagia menyambut kedatangan putranya yang hampir tiga bulan terakhir tidak pernah datang. Terlebih setelah dua minggu lalu, Bara mengalami insiden penembakan misterius itu.


"Putra ayah datang!" Panggilnya dari seberang sungai.


Bara yang baru melangkahkan kakinya turun dari mobil, menoleh kearah sumber suara. Ia melambaikan tangan dan tersenyum pada lelaki tua yang ia panggil ayah itu.


"Kamu datang! Kenapa tidak memberitahu terlebih dahulu. Ayah bahkan belum memasak makan siang." Celotehnya saat tiba di dekat putranya.


Ia merangkul bahu Bara dan mengajaknya untuk duduk di kursi teras rumahnya.


"Tunggu sebentar ayah ambilkan minum." Saat Beni akan bangkit dari kursinya, tiba tiba Bara memeluknya.


"Kenapa, nak? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Beni sambil mengelus punggungnya.


Bara tidak menjawab, ia malah menangis tersedu sedu dalam pelukan ayahnya. Beni merasa sesuatu telah terjadi, tangisan Bara seperti ini sama dengan tangisnya saat bundanya meninggal. Dan setelah hari itu, Bara tidak pernah lagi menangis untuk siapapun dan untuk hal apapun.


Beni menepuk nepuk pelan punggung Bara. Ia membiarkan putranya menangis untuk melepas rasa gundah dalam hatinya. Beni juga memutuskan untuk tidak bertanya sampai Bara sendiri yang akan membahas apa yang sebenarnya terjadi hingga ia menangis seperti ini.

__ADS_1


Saat suasana hati Bara sedang tiba baik baik saja, berbeda dengan Wulan yang merasa menjadi seorang princess. Saat ini ia sedang di mall bersama Karina dan Klara.


Mereka berbelanja banyak barang barang mewah, saat ini mereka berada disalah satu toko pakaian. Karina meminta Wulan untuk mencoba beberapa dress dan pakaian mahal lainnya.


"Mbak, tolong pilihkan beberapa baju yang cocok untuk putri saya." Ujar Karina pada penjaga toko.


"Mari ikut saya, nona." Ia mengajak Wulan untuk melihat beberapa koleksi dress mewah yang cocok untuknya.


Wulan terpesona melihat baju baju indah berharga mahal itu. Ia melangkah perlahan sambil sesekali menyentuh baju baju tersebut. Hingga akhirnya ia memilih satu dress berwarna pink muda dengan gaya yang sangat cocok untuk gadis seusianya.


"Pilihan yang bagus, nona. Dres ini merupakan edisi keluaran terbaru dan belum banyak yang memilikinya karena hanya bisa dimiliki oleh orang orang seperti, nona." Jelas penjaga toko itu.


Wulan tersenyum senang mendengar penjelasan wanita itu. Lalu ia diantarkan ke ruang ganti untuk mencoba dres tersebut. Setelah beberapa menit kemudian ia keluar dari ruang ganti dengan memakai dress pink pilihanya.


"Wah kak Wulan cantik sekali!" Puji Klara sambil mengacungkan jempol pada Wulan.


"Kamu terlihat mengagumkan sayang." Karina ikut memujinya.


"Kalau begitu, bolehkah aku langsung memakai dress ini, Ma?" Tanya Wulan malu malu.


"Tentu saja boleh dong sayang." Karina menghampirinya.


Karina tersenyum menannggapi ucapan terimakasih dari Wulan.


"Pilih beberapa baju lagi, sayang."


"Bolehkah, ma?"


"Tentu."


Wulan tersenyum senang. Ia pun memilih beberapa baju lagi yang dia suka, tapi tiba tiba dia teringat sesuatu tentang Keyla. Ia pernah berjanji akan membelikan dress untuk hadiah ulang Keyla jika saja ia menjadi orang kaya.


"Key, seandainya aku menjadi orang kaya, apa yang kamu inginkan untuk hadiah ulang tahunmu?" Tanya Wulan saat ia menginap di kamar kos


Keyla malam itu.


"Mmm... apa ya?" Keyla mencoba berpikir serius.


"Pikirkan barang atau apapun itu yang paling mahal, bagus dan sangat kamu inginkan."

__ADS_1


"Mungkin… aku ingin punya satu dress cantik seperti yang dipakai girl grup Korea." Ucap Keyla.


"Dress?"


"Iya, dress. Kamu tahu, aku belum pernah sekalipun memakai dress." Ucap Keyla.


Sebentar Wulan melihat penampilan Keyla yang memang selalu memakai celana jeans dan baju baju kaos atau kemeja.


"Baiklah, aku akan mengabulkannya wahai tuan putri Keyla." Ucap Wulan.


Lalu, mereka sama sama tertawa membayangkan betapa konyolnya khayalan mereka.


Dan ternyata, kini Wulan benar benar menjadi orang kaya dan dipanggil tuan putri.


"Ma, bolehkah aku memilih satu dress lagi?" Tanya Wulan.


"Tentu boleh sayang. Pilih berapapun yang kamu mau." Jawab Karina yang kini mulai memilihkan pakaian untuk Klara putri kandungnya.


"Mbak aku mau dress yang ini di bungkus rapi. Untuk kado ulang tahun sahabatku." Pinta Wulan pada wanita penjaga toko itu.


"Boleh, nona. Sini dresnya saya bawa…"


Wulan yang memegang dres tersebut, malah terdiam saat melihat pantulan dirinya di cermin besar itu. Dress itu sangat terlihat pas ditubuhnya.


"Aku menginginkan dress ini." Batinnya.


"Dress ini sangat viral di kalangan anak anak kulihan saat ini, nona. Nona bahkan terlihat sangat cantik dengan dress ini." Penjaga toko itu menjelaskan.


"Jika nona menginginkan dress ini, saya bisa merekomendasikan dress lain untuk hadiah ulang tahun sahabat nona." Jelas penjaga toko.


Setelah mendengar penjelasan mbak penjaga toko itu, Wulan melirik kearah Karina yang sedang memilihkan baju untuk Klara.


"Kenapa aku memikirkan orang lain, sementara diriku sendiri jauh lebih membutuhkan semua kemewahan dan keindahan ini. Maafkan aku Keyla, aku tidak mau berbagi kemewahan ini sedikitpun dengan kamu." Pikirnya.


"Bagaimana nona? Ingin saya rekomendasikan dres lainnya?"


"Tidak mbak. Bungkus dress ini untuk saya sendiri." Jawabnya sambil memberikan dress itu pada penjaga toko.


Wulan benar benar telah berubah menjadi gadis yang egois dan ingin memiliki segalanya untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2