
Sesampainya kami di kampung sebelah
"Sudahlah Sar, jangan menangis terus kasihan bayi dalam kandungan mu" ucap Kak Fatimah
"Bayi? Aku tidak ingin bayi ini Kak, karena bayi ini aku harus seperti ini, karena bayi ini Bapak harus meninggal, karena bayi ini juga kami harus menanggung malu karena terusir dari rumah" ucapku sambil memukul mukul perutku
"Astagfirullah, istighfar Sar.. Bayi ini tidak salah"
"Bagaimana tidak salah Kak, karena dia aku harus kehilangan Bapak dan terusir dari kampung" aku terus memukul mukul perutku.
Kak Fatimah lalu memegang tanganku dengan erat, sementara ibu hanya diam seribu bahasa melihatku, mungkin ibu kecewa dengan ku
"Yang salah itu kamu Sar, yang berdosa itu kamu dan Jeff, bukan bayi ini" ucap Kak Fatimah
"Dengarkan Kakak Sar, bayi yang kamu kandung ini tidak tahu apa apa, dia tidak salah sama sekali, yang salah itu kau dan Jeff karena telah berbuat seperti itu sebelum kalian menikah, kalian yang salah" ucap Kak Fatimah kembali
Aku hanya menunduk lemas, benar kata Kak Fatimah bayi ini tidak salah, akulah yang salah dan akulah yang bodoh.
"Maafkan aku Kak" ucapku sambil berderai air mata
"Sudah, istirahat dulu.. Besok aku dan Bang Khalid akan kesini lagi"
Sementara Ibu masih terlihat syok dan bingung
"Bu" ucapku pelan
"Kau berhasil membuat keluarga kita hancur Sar, kau lempar kotoran ke wajah ibu mu ini" ucap Ibu sambil menangis dengan tatapan yang kosong
"Maafkan Sarah bu" ucapku sambil memohon
__ADS_1
"Maaf kau bilang Sar? dengan semua yang sudah kau lakukan kau bilang maaf?" ucap ibu sambil terus menangis
"Lalu Sarah harus berbuat apa Bu?"
"Kejar Jeff minta pertanggung jawabannya"
"Bagaimana mungkin Bu, Jeff sudah tidak mau bertanggung jawab, kita sudah terusir dari kampung itu"
"Lalu kau menyerah Sar? semurah itu harga dirimu Sar?"
Bagai pisau yang menusuk hingga ke jantungku, Ibu yang paling ku sayang dan hormati berbicara seperti itu padaku.
"Bu" ucapku lirih
"Jangan pernah panggil aku ibu lagi Sar, aku telah gagal mendidik mu, aku telah berdosa telah melahirkan wanita hina seperti dirimu Sar"
"Ibu maafkan Sarah bu, apa tidak adakah pengampunan untuk anakmu ini Bu"
"Bu, apa ibu tidak dengar apa yang di ucapkan Kak Fatimah, anak ini tidak salah bu"
"Kau mau melihat ibumu ini mati Sar?"
"Apa yang ibu katakan?"
"Sar, sudahlah gugurkan saja kandungan mu, ibu tidak sudi melihat anak itu lahir Sar, sakit hati ibu Sar"
"Bu, Sarah tidak mau menggugurkan nya, yang salah itu Sarah dan Jeff Bu, bukan bayi ini"
"Bayi itu pun salah Sar, salah karena telah berada di rahim mu"
__ADS_1
"Ibu cukup!! Sarah tidak mau dengar lagi.. Sarah tidak mau menggugurkan kandungan ini Bu"
"Baik kalau begitu, kau memilih ibu yang mati"
"Bu, sudahlah Sarah tidak mau berdebat.. Lebih baik ibu istirahat saja, Ibu sepertinya sangat lelah"
Aku mengantarkan Ibu hingga ke dalam kamar
"Sarah akan menemani Ibu"
"Tidak perlu, tidurlah di tempatmu, rumah ini mempunyai dua kamar"
"Tapi Bu"
"Dengarkan Ibu Sar" bentak ibu padaku
Dengan segenap hati dan jiwa akhirnya aku memilih untuk keluar dan tidur di kamar utama.
Rumah ini memang sudah lengkap, ada kasur di kamar utama dan kamar ke dua.
serta sudah ada sofa di ruang tamu, Bang Khalid bilang rencananya rumah ini untuk istrinya tinggal, tapi karena aku dan ibu lebih membutuhkan jadinya untuk kami sementara waktu.
"Dubrak.. "
Baru aku akan merebahkan badanku tiba tiba aku mendengar suara sesuatu terjatuh.
"Mungkin kucing" gumam ku..
"Tapi.. Ah coba aku lihat dulu"
__ADS_1
Betapa terkejutnya aku melihat ibu dengan tali yang tergantung di lehernya.
"Ibuuuuu" teriakku sejadi jadinya