
Keesokan harinya Aliff pun menemui Sarah di dalam penjara.
"Sar.. Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kau malah jadi seperti ini?" kata Aliff begitu Sarah datang.
"Tak bisakah kau berbasa basi dulu Liff," kata Sarah.
"Sudahlah Sar jawab saja," kata Aliff.
"Ini sudah takdirku Lif, takdir yang harus ku jalani," kata Sarah dengan suara lirih.
"Takdir kau bilang? menjadi wanita malam dan seorang pembunuh kau bilang takdir Sar? aku benar benar tak habis pikir dengan mu Sar," kata Aliff menahan kesalnya.
"Kamu menemui aku untuk bertanya hal itu saja kah Lif?" kata Sarah kesal.
"Siapa ayahnya Elvira?" kata Aliff menatap tajam mata Sarah.
Sarah hanya menunduk, ia tidak ingin Aliff tahu tentang masa lalunya.
"Jeff kah Sar?" kata Aliff.
Sarah masih terus menunduk sambil menangis, luka yang ia rasakan kini seperti kambuh kembali, luka itu begitu besar dan menganga.
Laki laki yang telah menghancurkannya, menghancurkan keluarganya..
Untuk menyebut namanya pun rasanya Sarah tak kuasa.
"Benarkan Jeff adalah ayah dari Elvira?" tanya Aliff lagi mencoba menyakinkan.
Sarah hanya diam seribu bahasanya, mulutnya terasa kaku untuk mengucapkan iya.
__ADS_1
"Katakan Sarah!!!" bentakan Aliff membuat Sarah sangat takut.
"Jika memang iya kenapa? apa urusannya sama kamu Liff?" kata Sarah sambil menangis.
Aliff mengepal tangannya dengan sangat keras, jelas terlihat wajah merah Aliff yang menahan marah dan kesal.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku Sar!!" ucap Aliff sambil pergi meninggalkan Sarah.
"Aliff.. mengapa kau jadi seperti itu, kemana Aliff yang lembut dan murah senyum itu," batin Sarah.
***
"Hal pertama yang harus aku lakukan adalah ke rumah si Penagih hutang itu, akan aku bebaskan Sarah terlebih dahulu," batin Aliff.
"Tok tok tok," ketukan pintu yang sangat kencang dari Aliff.
"Tak bisakah kau menggedor rumahku dengan pelan?" kata orang yang membuka pintu tersebut.
"Iya, saya anaknya.. Ada apa?" kata orang tersebut.
"Saya tidak mau banyak berbasa basi di sini, saya mau menyelesaikan permasalahan Arman dan Sarah," kata Aliff dengan dinginnya.
"Tidak ada yang harus di selesaikan Pak, tinggal hukum yang berjalan," kata orang tersebut.
"Siapa namamu?" kata Alif.
"Randi," jawabnya singkat.
"Randi, berapa hutang Sarah pada Bapakmu," kata Aliff masih dengan dinginnya.
__ADS_1
"Sebentar aku akan lihat buku catatannya dulu," kata Randi sambil mengambil sebuah buku di dalam laci.
"Sepuluh juta ditambah bunga nya totalnya lima belas juta," kata Randi lagi.
"Aku bisa berikan lebih dari pada itu, aku bisa kasih kamu uang seratus juta, dua ratus juta atau bahkan satu miliar jika kamu mau, tapi tentu dengan syarat," kata Aliff
"Syarat? syarat apa?" kata Randi yang sepertinya mulai menyetujuinya.
"Bebaskan Sarah dan jangan pernah ganggu Sarah ataupun anaknya," kata Alif masih dengan mode dinginnya.
"Satu miliar hanya dengan membebaskan Sarah, bukankah itu jauh lebih baik.. Untuk apa aku susah susah mencari anaknya si Sarah itu dan menjualnya jika aku bisa mendapatkan uang satu miliar hanya dengan cuma cuma," batin Randi.
"Bagaimana? apa kamu setuju dengan tawaran saya," kata Aliff.
"Saya tidak yakin, apa anda akan memberikan uang itu secara cuma cuma, bagaimana jika anda berbohong," kata Randi.
"Baiklah, ini lima belas juta untuk membayar lunas hutangnya Sarah, lalu ini ada deposit senilai satu miliar dan ini hanya bisa di cairkan dengan tanda tangan saya dan di cairkan nya juga gak bisa langsung satu miliar, tapi bertahap.. Itu sebagai jaminan jika anda tidak akan mengganggu Sarah dan anaknya lagi," kata Aliff sambil memberikan sejumlah uang dan deposit.
"Bagaimana jika deposit ini palsu? setelah saya membebaskan Sarah tapi saya tidak mendapat apa yang sudah anda janjikan?" kata Randi masih tidak mau percaya dengan ucapan Aliff.
"Oke kalau begitu, jika kamu tidak mau deposit ini, saya akan berikan cek senilai satu miliar dengan bertahap," kata Aliff mencoba menyakinkan.
Randi masih terus menimbang nimbang, tidak mudah baginya percaya pada orang yang baru ia kenal.
"Ini kartu nama saya, secepatnya kau bebaskan Sarah dan kau akan cepat pula mendapat satu miliar," kata Aliff sambil memberi kartu namanya.
Aliff pun pergi meninggalkan rumah Randi dengan mobil mewahnya.
Di tangan Randi ada uang senilai lima belas juta, kartu nama Aliff serta deposit.
__ADS_1
"Muhammad Aliff Pramudja," gumam Randi.
"Satu miliar dalam deposit ini, aku tidak terlalu mengerti tentang deposit, baiklah aku akan bertanya pada kawanku yang mengerti saja," gumam Randi.