
"Astagfirullah Sar.. " kata Fatimah.
"Kenapa Kak?" tanya Sarah bingung.
"Anak itu harus tau siapa orang tuanya, kasian kan El kalau harus mengira ngira siapa ayahnya, lagian El kan anak perempuan.. Saat menikah nanti dia butuh Jeff untuk menjadi walinya, tidak boleh pakai wali hakim," kata Fatimah sambil membelai halus punggung tangan Sarah.
"Tapi Sarah gak bisa Kak menceritakan semuanya sama El, rasanya Sarah gak sanggup kalau harus mengungkapkan semuanya," kata Sarah sambil tertunduk lesu.
"Sar.. El itu sudah besar, sudah seharusnya kamu sebagai Ibu dan orang tua memberi tahu siapa ayahnya, Kakak tau kok kalau kamu sakit hati dengan perlakuan Jeff, tapi.." ucapan Fatimah terpotong.
"Sudahlah Mbak, Sarah masih butuh waktu.. Biarkan dia memilih kapan saatnya untuk bercerita dan berterus terang siapa ayah nya El," kata Alif.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja Sar," kata Fatimah.
Sarah hanya tersenyum tipis, ia mencerna setiap ucapan Fatimah, bagaimana pun Fatimah adalah panutannya sejak kecil dulu..
Saat kecil dulu, ia bercita cita ingin seperti Kak Fatimah yang lembut, pemaaf dan baik hati, wanita yang mungkin saat ini sangat sulit untuk di temukan.
"Sar.. Kakak mau bicara dengan Alif berdua saja, boleh kan?" tanya Fatimah dengan senyuman yang menyejukkan
"Tentu Kak, Sarah izin ke kamar dulu ya," kata Sarah.
Sarah pun masuk ke dalam kamarnya, ia hanya memikirkan setiap ucapan Fatimah.
"Apa aku harus memberitahu El siapa ayahnya, tapi.. Sekarang aja aku gak tau dimana Mas Jeff," gumam Sarah.
Sementara di ruang tamu, Fatimah sudah memasang wajah yang sangat serius.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Marwah?" tanya Fatimah.
"Aku gak tau," jawab Alif dengan santainya.
"Astagfirullah Lif, kamu suaminya.. Bagaimana mungkin kamu tidak tau keadaan Marwah?" kata Fatimah dengan mode kesalnya.
"Semalam aku di apartemen menemani Sarah," kata Alif dengan santainya.
"Lif.. Istri mu itu Marwah bukan Sarah, cobalah mencintai Marwah Lif, jangan egois seperti ini," kata Fatimah mencoba merubah sikap Alif
"Siapa yang egois Mbak? Alif atau Marwah? bukankah selama ini Alif selalu mengikuti kemauan Marwah? bukankah selama ini Alif pun belajar untuk mencintai Marwah? tapi apa.. Dia selalu menuntut lebih Mbak, Alif muak Mbak kalau harus di tuntut ini itu," jelas Alif
"Lif.. tapi Mbak mohon, jaga perasaannya Marwah, jaga perasaan Shava juga.. Mbak gak enak sama Bang Hussein kalau kamu terus terusan kayak gini," kata Fatimah
"Gak tau lah Mbak, liat nanti aja," kata Alif sambil rebahan
"Rafa," kata Alif singkat
"Astagfirullah Alif," kata Fatimah kaget
"Apalagi si Mbak," kata Alif
"Kamu tuh bener bener," kata Fatimah sambil menjewer kuping Alif
"Marwah itu istri mu, kenapa kamu malah menitipkan nya pada laki laki lain, apa nanti kata Bang Hussein jika tau kau menitipkan adiknya pada laki laki lain,"
"Biarkan sajalah Mbak," kata Alif sambil mengusap usap kupingnya.
__ADS_1
"Alif.. Mbak mohon, berubah lah demi Shava.. Dia putri mu," kata Fatimah
"Hmm.. Shava, haruskan aku jujur pada Mbak Fat, siapa Shava sebenernya," batin Alif.
"Sebelum ada Sarah saja sikap mu sudah acuh pada Marwah, bagaimana jika sekarang ada Sarah," Fatimah menatap adiknya dengan tatapan yang sendu, ada ketakutan dan ke tidak enakan pada sahabatnya, Zakiah.
"Marwah itu adik dari sahabat Mbak, Marwah juga sudah lama menaruh hati pada mu Lif, yang Mbak tau Marwah itu anak yang manis dan baik, Ummi juga dulu sangat menyayangi Marwah bukan? mengapa kau malah memperlakukan Marwah seperti ini Lif,"
Fatimah memandang lurus, matanya mulai berkaca kaca.. Ia berkaca dari rumah tangga Bang Khalid yang penuh dengan drama, istri yang tak hanya satu.
"Mbak gak mau kalau kamu sama seperti Bang Khalid, memang poligami itu di izinkan.. Tapi kita harus lihat dulu, seperti apa wanita yang akan di nikahi,"
Fatimah mengeluarkan air matanya, pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral, ia sebagai perempuan pun tak mau jika harus di poligami apalagi di acuhkan sebagaimana Marwah.
"Mbak mu ini perempuan Lif, Mbak juga gak mau di acuhkan dan di duakan, Mbak maunya jadi istri satu satunya, sama seperti Marwah,"
Fatimah menghapus air matanya.
"Jadi.. Belajarlah mencintai dan menyayangi Marwah, demi Shava.. jangan jadikan Shava korban dari sikap egois mu Lif, dia masih kecil.. Masih belum mengerti, lupakan lah Sarah Lif,"
Fatimah kembali memandang lekat adiknya, wajah Alif berubah menjadi haru mendengar ucapan Fatimah.
"Haruskah aku jujur pada mu Mbak, siapa Marwah sebenarnya agar kau tau betapa buruknya wanita yang telah kau bela itu, tapi.. Kau sangat menyayanginya," batin Alif.
"Lif.. Dimana kau bertemu Sarah? kenapa Elvira bisa berpisah dengan Sarah? kenapa Sarah ada di sini?" pertanyaan yang bertubi tubi datang dari Fatimah.
"Sarah.." kata Alif gugup
__ADS_1