
"Lif.. Kamu tunggu di sini saja ya, temani Marwah.. Mba mau ke rumah Mba Kia dulu," kaya Fatimah.
Alif hanya menganggukkan kepalanya, sementara Marwah yang sudah sadar hanya senyum kecil.
"Mbak pulang dulu ya, kamu jangan lupa minum obat sama makan," kata Fatimah sambil mengelus elus rambut marwah.
"Iya Mba," kata Marwah sambil tersenyum.
Sepulangnya Fatimah dan Zakiah, suasana kamar pun menjadi hening.
Alif sedang asik memainkan ponselnya, seakan tidak memperdulikan Marwah.
"Kamu sampai kapan tidak perduli padaku?" tanya Marwah dengan suara lirih.
Alif hanya melirik dan kembali bermain ponselnya.
"Aku sudah mau mati begini tapi kamu masih tidak mau perduli Mas?" kata Marwah dengan mata yang berkaca kaca.
Alif lalu mendekati Marwah dan duduk di samping ranjang Marwah, lalu membelai pipi Marwah.
"Kau sudah tau aku tidak mencintai mu, tapi kau terus memaksa!!" kata Alif pelan.
Marwah lalu memalingkan wajahnya dan menangis.
"Aku ingin sekali saja kau hargai, kau cintai, kau manja atau bahkan kau sayang.. Seperti wanita yang selalu kau sebut sebut itu," kata Marwah sambil memandang kosong ke jendela.
"Wanita? astaga.. Aku lupaaa, Sarah masih di apartemen ku," batin Alif.
Alif lalu menghubungi asistennya untuk bisa menjaga Marwah.
Marwah melirik ke arah Alif, sedangkan Alif sedang sibuk menelpon asistennya tersebut.
Kurang lebih dua puluh menit akhirnya Rafa pun tiba.
"Kau bisa menjaga Marwah?" tanya Alif.
"Iya tentu bisakah," kata Rafa.
Marwah terlihat bingung, mengapa orang lain yang disuruh untuk menjaganya, padahal Alif adalah suaminya.
"Mau kemana kau Mas? aku sedang sakit," kata Marwah.
"Aku ada urusan," kata Alif.
"Tak bisakah kau tinggalkan urusan mu," kata Marwah.
"Ini lebih penting dari mu," kata Alif bergegas keluar.
Marwah pun menangis
"Mengapa di saat seperti ini pun kau masih tidak memperdulikan aku," gumam Marwah
Rafa langsung menyodorkan tisu untuk Marwah.
"Berhentilah menangis," kata Rafa sambil tersenyum.
Rafa.. Sahabat sekaligus asisten pribadi Alif, lelaki yang telah menaruh hati lama pada Marwah, namun Marwah seolah enggan untuk membuka hatinya untuk Rafa.
Marwah menoleh ke arah Rafa dan mengambil tisu yang di berikan pada nya.
"Berpisah lah dengan Alif, aku rasa kau tidak pantas menerima ini semua," kata Rafa sambil memandang iba Marwah.
"Aku tidak bisa, aku sangat mencintainya," kata Marwah sambil mengusap air matanya.
"Cinta? untuk apa cinta jika dia tidak mencintai mu," kata Rafa dengan senyum meremehkan.
Marwah kembali memandang jendela, ia tahu.. Akan sulit menaklukan Alif, membuat Alif jatuh cinta, tapi.. Apakah salah jika ia memperjuangkan cintanya.
"Ada aku yang mencintai mu, aku tidak akan pernah memperlakukan kamu seperti Alif," kata Rafa
"Aku tidak mencintai mu," kata Marwah datar.
Lalu Rafa mendekatkan diri di samping ranjang.
"Bukankah kita sama, mencintai seseorang.. Yang tidak mencintai kita," bisik Rafa.
__ADS_1
***
Alif lari tergesa gesa menuju mobilnya, seharusnya aku memberikan dia ponsel, pikir Alif.
Sesampainya di apartemen, ia melihat Sarah yang sedang duduk di balkon.
"Sedang apa kau di sini," kata Alif.
"Ah.. Sudah lama kau di sana," kata Sarah kaget.
"Cukup lama," kata Alif sambil tersenyum.
Alif kemudian duduk di sofa samping Marwah.
"Abis dari mana?" kata Sarah sambil mengisap rokoknya.
"Aku tidak tahu jika kau seorang perokok," kata Alif sambil menyalakan rokoknya.
Sarah hanya tersenyum dan memandang kembali jalanan yang ramai.
"Aku bertanya tapi tidak kau jawab," kata Sarah setengah merajuk.
"Ada urusan sebentar," kata Alif sambil tersenyum.
"Urusan apa? boleh aku tau?" tanya Sarah.
"Nanti akan ku beritahu," kata Alif
Suasana kemudian hening.
"Lif," panggil Sarah, matanya masih memandang jalanan yang begitu ramai.
"Iya," kata Alif sambil menoleh ke Sarah
"Aku boleh bertanya sesuatu?" kata Sarah
"Tanyalah," kata Alif
"Apa kau sudah menikah?" tanya Sarah, pandangannya beralih ke Alif
Sebenarnya Alif enggan sekali berbicara tentang pernikahannya kepada Sarah, namun ia tau cepat atau lambat Sarah akan membicarakan hal ini pada Alif.
"Aku ingin tahu, apakah aku tidak boleh tau?" tanya Sarah.
Alif kemudian masuk ke dalam apartemennya tanpa berbicara apapun pada Sarah.
"Lif," panggil Sarah, kemudian Sarah pun menyusul Alif masuk ke dalam.
"Sudah," kata Alif sambil duduk di sofanya.
"Hah? kau sudah menikah? kenalkan akun dengan istrimu dong, dimana dia sekarang?" kata Sarah dengan semangatnya.
"Dia di rumahnya," kata Alif dengan nada yang malas.
"Maksud mu?" tanya Sarah bingung.
"Sudahlah, aku malas membicarakannya," kata Alif.
"Aku ingin mengenal istrimu, aku tidak ingin dia cemburu padaku," kata Sarah.
Alif hanya melirik ke arah Sarah, membahas tentang Marwah adalah sesuatu yang paling membuatnya malas.
"Siapa nama istrimu?" tanya Sarah lagi.
Alif seolah tidak mau mendengar, ia malah pura pura tidur.
"Lif.. Kau ini, aku sedang berbicara," kata Sarah sambil menggoyang goyang kan badannya Alif.
"Aku malas membahas istriku," kata Alif dengan mata yang tertutup.
"Hmm baiklah," kata Sarah.
Sarah kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Alif. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bermanja manja seperti ini.
"Ada Mbak Fatimah di rumahnya Mbak Zakiah, apa kau ingin bertemu?" tanya Alif.
__ADS_1
"Hah? Mbak Fatimah, aku sangat merindukannya," kata Sarah.
"Besok akan ku bawa dia kesini," kata Alif.
"Dengan El?" tanya Sarah.
"Tidak, Mbak Fatimah bukannya sudah tau siapa ayahnya El?" kata Alif.
"Iya, jadi?" tanya Sarah bingung
"Jika aku membawa Mbak Fatimah dan El ke sini, Mbak Fatimah pasti akan mengatakan siapa ayahnya El," kata Alif.
Sarah hanya diam..
"Kita harus kong kali kong dulu sama Mbak Fatimah," kata Alif.
"Kong kali kong?" tanya Sarah bingung.
"Iya, bilang sama Mbak Fatimah jangan katakan apapun tentang Jeff pada El," kata Alif.
Sarah menarik nafas dalam, ia sudah sangat rindu dengan putri semata wayangnya itu.
"Lalu kapan aku bisa bertemu dengan El?" tanya Sarah sambil cemberut.
"Setelah semuanya selesai," kata Alif.
"Maksud mu?" tanya Sarah bingung.
"Tidak akan lama, tenang lah," kata Alif.
"El.. Apa kau akan baik baik saja tanpa ibu, Ibu sangat merindukan mu di sini nak," batin Sarah.
Sementara itu sesampainya Zakiah dan Fatimah di rumah Zakiah.
"Assalamu'alaikum," salam dari Zakiah.
"Waalaikumsalam, Umma sudah pulang," kata Tantry sambil membukakan pintu.
"Sudah sayang," kata Zakiah yang langsung masuk ke dalam di susul Fatimah.
"Ya Allah, ini Tantry ya? sudah besar sekali kamu," kata Fatimah sambil mencubit pipi Tantry.
"Ada Ummi Fatimah, bagaimana Ummi kabarnya? bagaimana kabarnya Jasmin? kenapa gak dibawa ke sini si?" kata Tantry.
"Gak beda jauh sama Umma nya,"
"Alhamdulillah Ummi baik sayang, Jasmin juga baik, cuma kan Jasmin lagi sekolah.. Jadi gak bisa ikut Ummi ke Jakarta," kata Fatimah sambil tersenyum
"Shava mana?" tanya Zakiah.
"Ada di kamar, sepertinya sedang tidur.. Shava sangat terpukul sekali Umma, tadi dia nangis terus," kata Tantry dengan raut wajah yang sedih.
"Biar Umma liat Shava dulu ya,"
"Fat, kamu mau di sini dulu, atau mau ke kamar," kata Zakiah.
"Aku di sini dulu, mau ngobrol dengan Tantry hehe, kabarin aku keadaannya Shava," kata Fatimah.
Zakiah hanya menganggukkan kepala nya, dan masuk ke dalam kamarnya Shava.
"Tan.. kamu sudah berapa tahun si? Ummi sampai lupa, apa kamu seumuran dengan Jasmin?" tanya Fatimah.
"Nggak lah Mi, aku sama Jasmin kan beda tiga tahun, tuaan aku heheh," kata Tantry.
"Oh iya iya," kata Fatimah sambil tersenyum.
"Oh ya, aku mau kenalin Ummi sama sahabat aku, dia lagi nginep di sini loh Mi, sebentar ya.. Aku panggil dulu," Kata Tantry
Tantry kemudian masuk kedalam kamarnya, dan keluar membawa Elvira
Fatimah pun sibuk dengan ponselnya.
"Ummi.. Kenalin, ini Elvira," kata Tantry.
Saat Fatimah melihat Elvira, betapa terkejutnya dia..
__ADS_1
"Sarah... Kenapa anak ini seperti Sarah di waktu muda dulu,"