
Aliff pov
Saat aku masuk ke dalam kamar rumah sakit, Marwah masih tertidur membelakangi pintu, entah tidur atau tak ingin melihat ku .
Aku duduk di sofa sambil memainkan handphone.
“Kau masuk saja tanpa melihat ku dulu,” ucap Marwah masih dalam posisi yang membelakangiku
“Aku fikir kau tidur,” ucapku datar
Marwah menoleh ke arah ku dengan mata yang berkaca kaca
“Besok kau harus pulang, keadaan mu sudah lebih baik, aku capek kalau harus pulang pergi ke rumah sakit,”
Marwah hanya diam sambil sesekali menghapus air matanya .
“Sampai kapan kau mau begini,”
Aku hanya diam, tak memperdulikan pertanyaan nya
“Aku capek Lif kalau kamu kayak gini terus,”
“Kalau capek, ya sudah kita udahan aja,” ucapku dengan entengnya
“Lalu bagaimana dengan Shava ? Apa kau tak memikirkan perasaannya Shava?”
“Shava bukan anak ku,”
“Memang Shava bukan kamu, tapi orang - orang tau nya selama ini kalau Shava anak mu,”
“Katakan saja pada mereka apa yang sebenarnya terjadi, beres kan ?”
“Lalu aku ? Bagaimana dengan ku? Perasaan ku ? Cintaku ?”
__ADS_1
“Aku tidak perduli,” ucapku ketus
“Aku mencintai mu Liff, sangat mencintai mu, kenapa kau lakukan ini padaku ?”
“Sudahlah, aku sudah muak dengan semuanya , tangis mu, pertanyaan mu, kalau memang sudah capek sama ku ya sudah kita cerai saja ,”
Marwah hanya diam sambil sesekali menghapus air matanya nya .
“Aku harus mengurus semua kepulangan mu,” ucapku sambil membuka pintu .
****
“Kenapa kau begitu tega padaku Liff, apa kau tidak merasa bahwa aku sangat mencintai mu, perempuan itu .. ya perempuan yang namanya selalu kau sebut dalam tidur mu, perempuan yang sangat kau cintai, aku harus mencarinya,” batin Marwah
***
“Bu .. bagaimana ibu bisa keluar ? Kok bisa sama Om Aliff bu? Bukannya urusan ibu harusnya sama Bang Omar ?” Tanya Elvira sambil memotong - motong cabai
“Apa ibu ada hubungan sama Om Aliff?” Tanya Elvira bingung
“Kamu ni bicara apa ? Bagaimana mungkin ibu ada hubungan dengan Om nya Tantry,”
“Tapi bagaimana ceritanya kok bisa si ibu bebas dan Om Aliff,” tanya Elvira bingung
“Sudahlah El, yang terpenting ibu sudah bebas,”
“Kamu sudah selesai belum memotong cabainya ? Dari tadi kok ga beres - beres,” ucap ibu sambil tersenyum
“Eh iya ini bu hehe,” ucap Elvira
***
Elvira pov
__ADS_1
Apa hubungan ibu dan Om Aliff, aku sangat penasaran, ibu sepertinya sangat dekat dengan Om Aliff.
Pertanyaan itu terus menerus memutar di otak ku, apa Tantry tau ?
Ah rasanya Tantry gak akan tau persoalan ini, atau Bang Omar ? Apa aku tanya saja ke Bang Omar ya ?
Aku melihat ibu sangat bahagia setelah bertemu dengan Om Aliff, apa ibu punya perasaan dengan Om Aliff ..
Aaarkkkhh sudahlah El .. sudah jangan di fikirin terus .
“El .. kamu kenapa ?” Tanya ibu mengagetkan lamunan ku
“Ah gak apa - apa bu, aku hanya .. hmmm ini bu,”
“Kamu nih kenapa ? Sudah ayo makan , lauknya sudah matang, kamu rindu kan masakan ibu,”
“Ah iya bu,”
“Bu .. apa ibu akan bekerja di rumah bordir lagi?” Tanyaku
“Ya .. ibu mau kerja dimana lagi? Bu Deva sudah tidak mau memperkerja kan ibu lagi,”
“Tapi bu ..” aku sangat takut jika ibu kembali ke rumah bordir itu lagi, aku takut ibu akan bertemu dengan anak buahnya Arman
“Kamu tenang saja, ibu ga akan kenapa - kenapa,”
ibu tentu sangat tau apa yang aku khawatirkan .
“Bukannya di rumah bordir itu banyak anak buahnya Arman?”
“Ya .. tapi sudahlah, mau bagaimana lagi .. darimana kita mendapatkan uang kalau ibu tidak bekerja, yang terpenting kamu belajar yang rajin biar bisa jadi kebanggan ibu,”
Aku hanya menganggukan kepala, rasanya ingin sekali aku membantu ibu bekerja, tapi apa yang bisa dilakukan anak dengan kaki kayu seperti ku.
__ADS_1