
"Ya Allah Tantry.. " ucap Marwah dengan nada emosi
"Tan.. Bukankah El itu mengajar les untuk Shava, kenapa harus memandang dia seperti itu tan, bukankah tante yang minta untuk di carikan guru les"
"Iya.. Tapi tidak seperti itu Tantry, apa jadinya jika orang orang tau kamu berteman dengan nya, anak dari seorang wanita malam, yang bapaknya pun tidak jelas siapa, apa hal itu tidak mencoreng nama baik keluargamu?"
"Tante.. Aku, Kak Omar, Abah dan Umma tidak pernah memikirkan nama baik, selama kami berbuat baik pada orang lain, selama kami selalu membantu orang, orang lain pun akan memandang kami baik tan"
"Kamu salah Tantry, orang lain akan memandang keluarga mu jelek, seorang Ustad ternama anaknya berteman dekat dengan anak seorang pelac*r, apa kamu tidak malu?"
"Aku tidak pernah memikirkan omongan orang lain tan, selama yang apa yang ku buat tidak merugikan mereka"
"Ah sudahlah, percuma berdebat dengan orang keras kepala seperti mu Tan, pokoknya tante tidak mau Shava diajar les oleh teman mu itu"
"Tapi kan tan, El itu anak yang berprestasi, nilainya pun selalu memuaskan"
"Sudahlah Tan, tante bilang tidak ya tidak, bilang pada temanmu agar segera pulang dari sini"
Lalu Tantry pun keluar kamar dan menemui El..
El sudah sangat gelisah dan takut
"Tan.. bagaimana? apa aku bisa langsung mengajar les?"
"El.. Maafkan aku, Shava sedang tidak enak badan sekarang, nanti aku akan kabarin lagi ya mulai kapannya kamu akan mengajar les" ucap Tantry gugup
"Apa karena aku anak dari seorang wanita malam Tan?"
"Maksud mu?"
"Ya, tadi tante Marwah bertanya pekerjaan ibu ku, dan sepertinya tante Marwah kecewa"
"Hmm, aku antar kamu pulang yah" ucap Tantry mengalihkan pembicaraan
"Ya sudah Tan"
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, Tantry yang merasa tidak enak dengan El , sementara El merasa tante Marwah kecewa karena ia anak dari seorang wanita malam
Sesampainya di rumah Elvira
__ADS_1
"Kamu mau mampir dulu Tan? "
"Tidak El, aku harus segera pulang, maafkan aku ya El, nanti akan aku kabarin lagi"
"Ah santai saja Tan"
"Aku pulang dulu ya Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah Tantry pulang, El pun masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya sedang duduk termenung
"Assalamu'alaikum bu"
"Eh Elvira, kamu kok baru pulang? "
"Jawab dulu atuh bu salam El"
"Waalaikumsalam, kenapa baru pulang El? "
"Tadi ke rumah Tantry bu, ada tugas"
"Hmmm ya sudah, ganti baju terus makan dulu ya, ibu sudah siapkan makanan untuk mu"
"Tok..Tok..Tok"
"Sarah, buka pintunya"
"Ah.. El, cepat masuk ke dalam kamar"
"Ada apa bu? siapa itu? "
"Sudah sana masuk"
"Tapi Bu.. "
"Sudah sana"
Ibu Sarah pun mendorong Elvira hingga masuk ke dalam kamarnya
__ADS_1
"Lama sekali lu buka pintunya" ucap si Penagih hutang
"Maaf" ucap Sarah pelan
"Mana uangnya? lu bilang mau bayar"
"Gue cuma ada uang segini Man"
"Lu gila kali Sar, utang lu aja banyak banget terus lu ngasih gue cuma lima puluh ribu?"
"Gue pasti cicil Man, sekarang gue baru ada duit segitu"
Diambilnya uang yang ada di tangan Bu Sarah
"Gue ambil nih duit, besok lu harus bayar lebih dari segini"
Lalu si Penagih hutang itu pun pergi
Elvira yang dari tadi hanya mengintip dari kamarnya pun keluar setelah orang itu pergi
"Buu.. " ucap Elvira lirih
"Ah El, kok belum ganti bajunya? "
"Tadi itu yang nagih hutang lagi kah Bu? "
"Sudah tidak usah di urusin, itu urusan Ibu"
"Tapi El harus tau bu, untuk apa Ibu meminjam uang pada bank keliling"
"Kamu tidak perlu tau El, biar ini jadi urusan dan masalah Ibu, sudah sana cepat ganti baju lalu makan" bentak Bu Sarah
"Ini pun sudah menjadi urusan El Bu, El tidak tega kalau Ibu terus menerus di teror seperti itu"
"Sudahlah El, dengarkan kata Ibu"
"Seandainya saja Bapak El ada, pasti kita tidak sesusah ini kan Bu" ucap Elvira lirih
"Tidak usah kau bicarakan lagi tentang bapak mu itu El" ucap Ibu Sarah sedih
__ADS_1
"Siapa Bapak El Bu? apa benar El ini anak haram? seperti yang orang orang bilang? apa benar El ini anak dari hasil pelac*ran?"
Bu Sarah pun menampar wajah El, El pun menangis dan masuk ke dalam kamarnya..