Tuhan.. Apa Salahku??

Tuhan.. Apa Salahku??
Sebenarnya


__ADS_3

"Udah.. Udah cukup bercandanya Lif, aku capek," kata Sarah sambil tertawa.


"Capek apa? capek ketawa," kata Alif sambil terus menggelitik pinggang Sarah.


"Udah ah Lif.. sumpah sakit perut aku," kata Sarah sambil terus tertawa.


"Oke - oke, aku udahan," kata Alif sambil mengangkat kedua tangannya.


Mereka pun bersandar pada sofa, rasa lelah sehabis bercanda seperti habis tempur.


"Udah lama banget kita gak ketawa kayak gini ya Sar," kata Alif sambil melirik Sarah.


"Iya, nafas aku sampai ngos ngosan gini," kata Sarah sambil tersenyum.


"Kayak abis ngapain aja si, segala ngos ngosan hahahha," kata Alif sambil tertawa puas.


Sarah hanya tersenyum sambil melirik ke arah Alif.


"Jangan pernah tinggalin aku lagi Sar," kata Alif sambil memeluk erat Sarah.


"Lif, jangan seperti ini," kata Sarah sambil melepaskan pelukan Alif.


"Jangan menolak ku terus Sar," kata Alif dengan nada lemas.

__ADS_1


"Aku bukannya mau menolak mu, tapi.. kamu harus ingat dengan anak dan istri mu Lif," kata Sarah.


Alif memandang lekat Sarah.


"Sar.. Apa kau tidak mencintai ku?" tanya Alif


Sarah terdiam, wajahnya menjadi sendu.


"Sarah," panggil Alif kembali.


"Aku hanya teringat ucapan Kak Fatimah," kata Sarah pelan.


"Ucapan? apa katanya?" kata Alif.


"Aku harus meninggalkan mu," batin Sarah.


"Kau sudah mempunyai anak dan istri, bagaimana pun mereka adalah keluarga baru mu, kamu harus bisa menerima mereka dan melupakan aku," kata Sarah sendu.


"Aku tidak mencintai Marwah dan Shava bukan anakku, mengertilah Sar," kata Alif tegas.


"Anak mu namanya Shava?" kata Sarah sambil tersenyum.


"Jangan mengalihkan pembicaraan," kata Alif.

__ADS_1


Sarah menjadi salah tingkah, bagaimana cara menghadapi Alif yang keras kepala ini, ia tahu betul.. Apapun yang Alif inginkan harus di dapatkan.


"Lif," kata Sarah lirih.


"Aku mencintai mu Sar, aku menikah dengan Marwah hanya karena perjodohan konyol," Alif menarik nafas dalam.


"Aku sudah berusaha melupakan mu, mencoba untuk mencintai Marwah.. Namun semuanya sia - sia, aku tidak bisa Sar," kata Alif lirih.


"Semakin aku melupakan mu, semakin besar aku mencintai mu Sar," kata Alif.


"Jika tidak mencintai Marwah, bertahanlah demi anak mu, bertahanlah demi Shava," kata Sarah tidak mau kalah.


"Shava bukan anakku, sudah berapa kali aku katakan," kata Alif kesal.


"Tapi kamu menikahi ibunya, yang sudah pasti dia menjadi anak mu Lif," kata Sarah.


"Astaga ya Tuhan Sarah.. Dengarkan ceritaku,"


"Aku di jodohkan dengan Marwah oleh Mbak Zakiah dan Ummi sangat menyetujui perjodohan itu, karena kata Ummi usia ku sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga, aku sebenarnya tidak ingin menikah dengan Marwah, karena Marwah sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Tapi saat itu Ummi dengan sakit," Alif menarik nafas.


"Ummi bilang, mau melihatku menikah agar nanti jika Ummi sudah tiada, Ummi bisa tenang dan bahagia melihat anak - anaknya sudah berumah tangga," mata Alif mulai berkaca - kaca.


"Aku mau tidak mau menyetujui perjodohan konyol ini, ya.. Karena aku pikir Marwah wanita yang baik, wanita yang lembut, ramah, sopan, dan cantik," Alif tersenyum sinis.

__ADS_1


"Nyatanya setelah menikah, aku baru tahu ternyata Marwah tidak sebaik, selembut, seramah apalagi sesopan yang aku pikir. Dia memang cantik, tapi tidak dengan hatinya," Alif mengusap wajahnya kasar.


"Dia telah hamil di luar nikah, entah dengan siapa, dan aku harus bertanggung jawab dan aku sangat muak dengan semua sikapnya, yang selalu mengatur dan ingin lebih, aku mencoba mengikutinya.. Namun dia seperti tidak pernah puas," kata Alif sambil menahan rasa emosinya


__ADS_2