Tuhan.. Apa Salahku??

Tuhan.. Apa Salahku??
Maaf


__ADS_3

"Dia telah hamil di luar nikah, entah dengan siapa, dan aku harus bertanggung jawab dan aku sangat muak dengan semua sikapnya, yang selalu mengatur dan ingin lebih, aku mencoba mengikutinya.. Namun dia seperti tidak pernah puas," kata Alif sambil menahan rasa emosinya


"Kamu gak coba cari tau? siapa ayah kandung Shava? apa Kak Fatimah dan keluarga yang lain tau?" tanya Sarah.


"Nggak, gak ada yang tau perihal ini.. Selama dia hamil pun aku gak pernah menyentuhnya, kami tidur di kamar yang berbeda," kata Alif pelan.


"Lif.. Tapi Shava maupun Marwah kini sudah jadi tanggung jawab kamu, kamu seharusnya bisa menerima mereka," kata Sarah sambil mengusap usap punggung Alif.


"Marwah menipu ku, membohongi ku.. Untuk apa aku bertanggung jawab pada pembohonh seperti dia," kata Alif kesal.


"Jika itu aku? apa kau akan melakukan hal yang sama?" tanya sarah pelan.


Alif memandang wajah Sarah, menatapnya dalam dan memeluknya.


"Tidak, karena aku mencintaimu," kata Alif sambil mencium rambut Sarah.


Sarah menundukkan kepalanya, matanya mulai berkaca kaca, tak pernah ada yang mengatakan cinta padanya, selama ini para lelaki itu hanya membutuhkan Sarah untuk memuaskan nafsu nya.


"Aku pun mencintai mu Lif," batin Sarah.


"Tidak.. Alif telah beristri dan mempunyai anak, aku tidak boleh menjadi wanita ke dua dalam rumah tangga nya," batin Sarah.


Sarah mendorong Alif hingga membuat pelukan itu terlepas.

__ADS_1


"Antarkan aku pulang," kata Sarah sambil berdiri.


"Hmm kau tidak mau tinggal disini?" tanya Alif


"El pasti akan curiga," kata Sarah.


"Akan ku berikan rumah yang baru untukmu, tinggal lah di sini dulu untuk sementara waktu, di rumah mu sana sudah tidak layak, akan banyak orang - orang jahat yang akan mengancam mu," kata Alif.


"Tidak, aku bisa menjaga diri ku dan anakku," kata Sarah sambil berjalan menuju kamar nya.


Alif memandangi Sarah yang sedang berjalan, seandainya tak pernah ada Marwah.. Mungkin Sarah mau menerimaku, pikir nya.


Kurang lebih lima belas menit Sarah berada di dalam kamar, ia keluar dengan membawa tas.


"Kan sudah ku katakan, aku mau pulang," kata Sarah.


"Tak bisakah kau menunggu sampai besok saja?" tanya Alif penuh harap.


"Tidak, aku mau pulang Lif.. Aku sudah rindu dengan El," kata Sarah sambil merajuk.


"Hmm baiklah, ayo.. " kata Alif.


Di dalam perjalanan suasana berubah menjadi hening, Sarah hanya terpaku pada jalanan.

__ADS_1


"Sar aku boleh bertanya?" tanya Alif memecah keheningan.


"Apa?" jawab sarah singkat.


"Hmmm" Alif mengetuk ngetuk stirnya, matanya melirik ke arah Sarah yang sedang menunggu pertanyaan dari Alif.


"Kamu mau nanya apa si?" tanya Sarah sedikit kesal.


"Kamu emosian sekali," kata Alif sambil melengos.


"Sejak kapan kamu bekerja jadi wanita malam?" tanya Alif


"Hmm, sejak aku hamil El," jawaban singkat dari Sarah.


"Kenapa gak coba di kantor? atau di pabrik?" kata Alif kesal.


"Aku pergi hanya membawa diri, aku tak membawa apapun," kata Sarah santai.


"Astaga Sarah.." kata Alif kesal.


"Kenapa?" tanya Sarah bingung


"Apa kau tidak berfikir bagaimana anakmu? maksud ku.. Kau melakukan hubungan dengan sembarang orang di saat kau sedang hamil, itu akan berimbas ke anak mu Sar," kata Alif dengan nada tinggi.

__ADS_1


Sarah hanya menunduk, itulah hal yang paling ia sesali seumur hidupnya, kini.. Elvira yang harus menanggung kesalahannya.


__ADS_2