
"Mas Aliff kok malam sekali pulangnya, kamu kemana dulu Mas?" kata Marwah sambil membukakan jas Aliff.
"Aku lagi banyak kerjaan," kata Aliff singkat.
"Besok kita pulang saja ya Mas, aku tidak enak di rumah Bang Husein lama lama," kata Marwah.
"Pulang? akan lebih sulit untuk mengurus Sarah, jarak dari rumah ku ke kantor polisi sangat jauh" batin Aliff.
"Bagaimana Mas?" kata Marwah lagi.
"Hmm biar nanti aku pikirkan," kata Aliff sambil beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai Aliff mandi, di lihatnya Marwah begitu sangat cantik nan menggoda.
Baju tidur yang tipis membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.
Namun ia sama sekali tidak tertarik lagi dengan istrinya, yang ada di pikirannya hanya Sarah.
"Mas, kenapa kau menolak ku? bukankah selama ini kau selalu bergairah jika denganku?" kata Marwah dengan nada yang memelas.
"Aku sedang lelah, tidurlah kau," kata Aliff sambil memunggungi Marwah.
"Biasanya walaupun kamu lelah tapi kamu masih mau menyentuhku, tapi sekarang.. " kata Marwah kecewa.
"Aku sedang tidak ingin, sudahlah aku sangat lelah.. jangan menggangu ku," kata Aliff.
"Kau berubah Mas, apa ada wanita lain?" kata Marwah dengan suara yang mulai bergetar.
"Ya, dialah Sarah," batin Aliff.
Alif pun beranjak dari kasur dan pergi meninggalkan Marwah.
Sedangkan Marwah, masih menangisi kepergian Alif.
"Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain kau Sar, aku sangat mencintai mu.. Bahkan jika dulu Jeff tidak mau bertanggung jawab, aku bersedia menikahi mu dan menjadi ayah dari anak mu, mungkin kau tidak akan seperti ini Sar," batin Alif sambil duduk di ruang tengah rumah Husein.
"Om Alif?" kata Elvira yang baru keluar dari kamar.
"El? kamu belum tidur?" kata Alif kaget.
__ADS_1
"Aku haus Om, kenapa Om Alif belum tidur?" kata Elvira
"Om tidak bisa tidur," kata Alif sambil tersenyum.
"Hmm, El mau ambil minum dulu ya Om," kata Elvira.
Elvira pun mengambil minumnya dan di lihatnya Alif masih dengan posisi duduk dan wajah yang tampak gusar.
"Om, El mau ke kamar dulu ya," kata Elvira.
Alif hanya menganggukkan kepalanya.
Yang ada di pikirannya saat ini hanya Sarah.
"Apa Randi mau menerima uang itu dan membebaskan Sarah," batin Alif.
Alif terus berfikir hingga ia terlelap.
"Aliff, bangun.. Sudah subuh, kok kamu tidur di sini si," kata Umma Zakiah sambil menggoyang kan badan Alif
"Eh Mbak," kata Alif sambil membuka matanya perlahan.
"Aku ketiduran Mbak," kata Alif sambil menguap.
"Ya sudah, sana ke kamar.. Wudhu dulu lalu solat," kata Umma Zakiah.
"Iya Mbak," kata Alif sambil berjalan.
"Fatimah adik mu ini emang gak pernah berubah dari dulu," gumam Umma Zakiah.
Fatimah Kakak dari Alif adalah teman satu pesantren Umma Zakiah dan Umma Zakiah pun sangat mengenal keluarganya Alif.
Pernikahan Alif dan Marwah pun karena di jodohkan oleh Umma Zakiah, sebenarnya Alif masih tidak mau menikah sebelum bertemu dengan Sarah, namun ia terpaksa menikahi Marwah atas permintaannya Ibunya.
Setelah selesai solat mereka pun bersiap siap untuk pergi ke kantor serta ke sekolah.
Di rumah Abah Hussein pagi pagi memang sangat sibuk, Umma Zakiah membantu ART untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Kak Zakiah dan Abang Husein nanti siang aku, Shava dan Mas Alif akan kembali ke rumah," kata Marwah sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
Alif sangat kaget dengan perkataan Marwah, bukankah ia belum memutuskan.
"Loh Kakak kira kalian akan lama di sini," kata Umma Zakiah.
"Tadinya, tapi aku tidak enak dengan Kakak dan Abang jika terlalu lama di sini," kata Marwah sambil melirik ke arah Alif.
Sementara Alif sudah pasang mode jutek nya.
"Ya sudah, terserah kalian saja," kata Umma Zakiah.
"Oh iya Omar, bagaimana dengan Bu Sarah? apa ada perkembangannya?" tanya Umma Zakiah.
Setau Umma Zakiah, Omar lah yang mengurus Sarah.
"Oh itu," kata Omar gugup.
Alif menajamkan matanya ke arah Omar.
"Aku sedang mengurusnya Umma, semoga secepatnya Bu Sarah akan segera keluar," kata Omar.
Elvira tampak sedikit lega karena ibunya akan segera keluar.
"Kenapa kalian sibuk mengurus wanita malam itu, bukankah itu salahnya? Sudah sepatutnya dia ada di penjara kan," kata Marwah dengan santainya.
"Marwah, tidak baik berkata seperti itu," tegur Umma Zakiah.
"Loh memang pantas kan wanita rendahan itu berada dalam penjara, tak usahlah kalian mati matian membelanya," kata Marwah
Wajah Alif sudah memerah menahan marah, tangannya mengepal begitu sangat keras, untuk makan pun ia sudah tidak berselera.
Sementara Elvira menunduk dan menangis mendengar ucapan Marwah, dan Tantry mengusap usap punggung Elvira berusaha untuk menenangkannya.
Abah Husein hanya geleng geleng kepala mendengar ucapan pedas adiknya tersebut, ia sudah sangat lelah menasihati Marwah, namun tidak pernah di dengarkan.
Satu satunya orang yang mengerti akan kemarahan Alif hanya Omar.
"Gubrak" Alif menggebrak meja makan dengan sangat keras.
"Jaga bicara mu Marwah!!" bentak Alif dengan sangat keras.
__ADS_1