
"Marwah mencoba bunuh diri lagi, memang gila wanita yang satu itu," gumam Alif.
"Siapa Lif?" tanya Sarah.
Alif langsung menyembunyikan ponselnya.
"Bukan siapa siapa," kata Alif
"Kamu di sini dulu ya, aku ada keperluan mendadak, kalau mau makan di kulkas kayaknya masih ada bahan makanan, terus ini uang kalau kamu mau beli sesuatu, pasword apartemen ini nanti aku catetin," kata Alif lagi.
"Hmm aku mau pulang aja Lif, mau ketemu sama Elvira," kata Sarah.
"Kamu di sini dulu ya, masih banyak yang mau aku omingin sama kamu," kata Alif sambil memegang bahu Sarah.
Sarah hanya mengangguk pelan.
"Aku jalan dulu ya, ini pasword apartemen ini," kata Alif sambil menaruh secarik kertas dan uang di atas meja.
"Iya, hati hati kamu," kata Sarah.
***
"Marwah ini gak pernah berubah dari dulu, setiap kali bertengkar pasti lebih milih bunuh diri, kenapa gak mati aja si sekalian.. Nyusahin aja bisanya," gerutu Alif.
Alif pun melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit Karya Medika, ia langsung menuju ruangan yang telah di beritahu oleh Hussein.
"Bang, maaf tadi saya.. " kata Alif, namun ucapannya terpotong.
"Sudah sudah, yang penting kamu sudah ada di sini," kata Hussein.
"Bagaimana keadaan Marwah? Shava dimana?" kata Alif sambil celingak celinguk mencari Shava.
"Shava ada di rumah dengan Tantry, Lif ada yang mau Abang bicarakan dengan kamu," kata Hussein dengan wajah yang serius.
"Mau bicara apa Bang?" tanya Alif.
"Ini sudah kesekian kalinya Marwah mencoba bunuh diri, Lif.. Abang tau kamu tidak mencintai adik Abang, tapi Abang mohon sekali sama kamu, tolong.. Tolong hargai dia, dia itu istri kamu, dia itu adik Abang," kata Hussein dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Alif menarik nafas dalam, ia sudah tau bahwa Bang Hussein akan membicarakan ini padanya.
__ADS_1
Namanya perasaan, tidak bisa di paksa bukan? begitulah pikirnya.
"Alif tau Bang, Alif juga minta maaf sama Abang.. Alif sudah mengecewakan Abang dan Mbak Zakiah," Alif kembali menarik nafas dalam.
"Bukankah perasaan tak bisa di paksa Bang, Alif sudah berusaha mencintai Marwah, tapi gak pernah bisa Bang," kata Alif.
Hussein lalu menepuk nepuk punggung Alif, ia tahu betul bagaimana Alif mencoba mengerti dan mencinta adiknya, namun di sisi lain Marwah adalah adiknya, ia tidak tega jika adiknya terus di permainkan seperti itu.
"Abang mengerti, tapi.. Tolong lah jika dekat dengan Marwah, jika kamu berada di sisinya Marwah buatlah dia seakan merasa di cintai Lif, jangan terlalu dingin dengannya, jangan terlalu cuek padanya," kata Hussein.
Alif memandang pilu istrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Mencintai Marwah? mana mungkin, saat tidak ada Sarah saja sangat sulit, apalagi kini sudah ada Sarah," batin Alif.
"Assalamu'alaikum," kata Zakiah dan Fatimah sambil membuka pintu.
"Woaaahh, Mba Fat.... " kata Alif sambil memeluk Fatimah.
"Kamu ini sudah kayak anak kecil saja, lihat itu istri mu.. Apa yang sudah kamu lakukan padanya," kata Fatimah sambil menjitak pala Alif.
"Sudah sudah temu kangennya nanti saja," kata Zakiah sambil melepaskan pelukan Alif dari Fatimah.
Zakiah pun menaruh obat obatan, minuman serta makanan di meja.
Hussein memang terlihat lelah, sepulang dari acara televisi ia langsung ke rumah sakit untuk melihat adiknya.
"Baiklah, Jika ada apa apa kamu bisa kabarin Abang, Fat.. Abang pulang dulu, Lif tolong jaga Marwah," kata Hussein sambil berdiri.
"Iya Bang, hati hati di jalan," kata Fatimah.
Lalu Hussein pun pulang, sementara Alif malah asik manja manjaan dengan Kakaknya.
"Lif, coba lihat itu istri mu.. Kenapa Marwah bisa sampai bunuh diri si Lif, ada apa sebenarnya?" tanya Fatimah.
"Alif saja tidak mengerti Mbak, wong tadi Abang Hussein menelpon Alif, ngabarin kalau Marwah masuk rumah sakit," kata Alif sambil asik memakan buah anggur.
Zakiah yang sudah tau keadaan rumah tangga Alif hanya bisa geleng geleng kepala.
"Kiah, coba jelaskan sama aku," kata Fatimah menuntut penjelasan dari sahabatnya.
"Lah wong ada adik mu Fat, tanyalah sama Alif," kata Zakiah sambil asik membaca buku.
__ADS_1
"Lif.. Kamu dan Marwah berumah tangga sudah hampir sepuluh tahun loh, tapi kayaknya Mbak lihat kamu tidak pernah harmonis dengan Marwah, kenapa si Lif," kata Fatimah.
"Bukankah Mbak sudah tau jawabannya?" kata Alif sambil mengunyah biskuit.
Fatimah menarik nafas dalam dan menghembuskan nya dengan pelan.
"Pasti Sarah, aku tau dia sangat mencintai Sarah," batin Fatimah.
"Fat.. Nanti kamu mau tidur dimana? mau menginap di rumah ku?" tanya Zakiah.
"Tidak usah, aku bisa tidur di apartemen nya Alif," kata Fatimah.
Alif yang sedang asik makan biskuit pun jadi tersedak mendengar Fatimah mau tidur di apartemen nya, sedangkan di apartemen nya ada Sarah.
"Uhuk uhuk uhuk,"
"Eh hati hati Lif," kata Zakiah sambil menyodorkan minuman.
"Itulah akibatnya kalau mau makan gak baca doa dulu," kata Fatimah.
Air minum pun habis setengah botol oleh Alif .
"Gak bisa Mbak, apartemen ku.. " Kata Alif sambil mencoba mencari alasan.
"Kenapa apartemen nya?" tanya Fatimah
"Lagi di renov, banyak pekerja yang laki laki.. Memangnya Mbak mau?" kata Alif.
"Sudah sudah, tidur saja dulu di rumah ku Fat.. Ada banyak kamar kosong kok," kata Zakiah.
"Ya sudahlah," kata Fatimah pasrah.
Di lihatnya kembali Marwah yang sedang tertidur.
"Coba lihat Lif, jika tidak segera di bawa ke rumah sakit, dia bisa tidak tertolong," kata Fatimah sambil menunjukkan perban yang melilit di pergelangan tangan Marwah.
Alif hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan makannya.
Sementara Zakiah, seolah tidak perduli dengan perlakuan Alif pada Marwah, ia sangat tahu jika Alif tidak mencintai Marwah.
"Dia istrimu Lif, perlakukan lah istrimu dengan baik, jadikan lah dia ratu baik di rumah maupun di hatimu, jangan sakiti istrimu Lif.. Nanti di akhirat kau akan di mintai pertanggung jawaban terhadap istrimu," kata Fatimah sambil memandang Marwah yang sedang tertidur.
__ADS_1
Alif sudah tau, ia pasti akan di ceramahi abis abisan oleh Kakaknya ini, namun ia sudah kebal dengan segala nasihat Fatimah.
"Iya Mbak Fat..." kata Alif malas.