Tuhan.. Apa Salahku??

Tuhan.. Apa Salahku??
Takdir


__ADS_3

"Lif.. Dimana kau bertemu Sarah? kenapa Elvira bisa berpisah dengan Sarah? kenapa Sarah ada di sini?" pertanyaan yang bertubi tubi datang dari Fatimah.


"Sarah.." kata Alif gugup


"Kenapa Sarah?" tanya Fatimah bingung.


"Tapi Mbak janji ya, gak akan marah," kata Alif setengah berbisik.


"Iya," kata Fatimah singkat.


Alif menarik nafas dalam, menceritakan tentang pekerjaan Sarah dan mengapa mereka bertemu butuh oksigen yang memadai di dalam otak.


"Aku menangani kasusnya Sarah, bukan aku si tapi Omar, jadi Sarah di nyatakan bersalah karena telah membunuh," kata Alif pelan.


"Astagfirullah, maksud kamu itu apa Lif?" tanya Fatimah bingung.


"Aduh Mbak, ini panjang banget ceritanya," kata Alif sambil mengacak acak rambutnya.


"Jelasin dulu sama Mbak," Fatimah menuntut penjelasan dari Alif.


"Jadi Sarah punya hutang sama bank keliling, namanya Arman. Nah si Arman ini mau memperkosa El, Sarah jadinya reflek nusuk si Arman ini, jadilah dia tersangka atas tuduhan pembunuhan," jelas Alif.


"Astagfirullahalazim, kenapa Sarah sampai berhutang pada bank keliling, bukannya dia tau bahwa bank keliling itu riba, memangnya Zakiah atau Bang Hussein gak mau kasih pinjam dia uang?" kata Fatimah bingung.


"Mbak Zakiah ataupun Bang Hussein sudah banyak membantunya Mbak, mungkin Sarah nya yang merasa tidak enak dengan Mbak Zakiah ataupun Bang Hussein," kata Alif.


"Apa sebenarnya pekerjaan Sarah?" tanya Fatimah.


"Wanita malam," kata Alif santai.


"Astagfirullah, Alif jangan asal ucap kamu," kata Fatimah tidak percaya.


"Mbak bisa tanya sama Sarah kalau gak percaya," kata Alif.


"Panggil Sarah, Mbak mau bicara sama dia," kata Fatimah.

__ADS_1


Alif pun menghampiri kamar Sarah.


"Tok.. Tok.. Tok.. "


"Sar, Mbak Fat mau ngobrol sama kamu," kata Alif dari balik pintu.


"Iya sebentar," teriak Sarah.


Tak lama kemudian Sarah pun keluar.


"Ada apa Lif?" tanya Sarah


"Mbak Fat mau ngobrol," kata Alif sambil berjalan menuju ruang tamu.


"Kak Fatimah? mau ngobrolin apa ya," gumam Sarah.


Sarah pun berjalan perlahan menuju ruang tamu, di lihatnya wajah Fatimah yang sedikit agak gusar.


"Kenapa Kak Fatimah?" batin Sarah.


"Sar, duduk dulu sini," kata Fatimah sambil menepuk nepuk kursi di sebelahnya.


"Iya Kak, ada apa Kak?" tanya Sarah.


"Kamu sudah tau bukan jika Alif sudah menikah dan mempunyai istri dan anak?" tanya Fatimah dengan lembut.


Sarah hanya menganggukkan kepalanya.


"Sar, Kakak tau kamu itu sahabat kecilnya Alif, tapi rasanya tidak pantas jika kalian satu rumah seperti ini, Alif sudah mempunyai istri dan anak.. Jadi.. " omongan Fatimah terputus saat Alif memanggilnya.


"Mbak, maksudnya gimana?" tanya Alif bingung.


"Lif.. Mbak gak pernah permasalahin Sarah mau jadi apa atau bagaimana, tapi.. Rasanya tidak pantas jika kalian tinggal satu atap, Marwah sedang sakit Lif.." kata Fatimah lirih.


"Iya Kak, Sarah mengerti.. Hari ini juga Sarah akan pulang ke rumah, Sarah pun sudah rindu dengan El," kata Sarah sambil tersenyum samar.

__ADS_1


"Sar.. Aku mau kau tetap tinggal di sini, masih banyak yang harus kita obrolkan," kata Alif memohon


"Tidak Lif, aku harus pulang," kata Sarah.


"Tapi.. Sar,"


"Lif.. mengerti lah," kata Sarah dengan tatapan sendunya.


"Sar.. Maafin Kakak, Kakak gak maksud mau ngusir kamu," kata Fatimah sambil memegang tangan Sarah.


"Sarah ngerti Kak, sudahlah," kata Sarah sambil tersenyum.


"Aku akan antar kamu pulang," kata Alif sambil beranjak pergi menuju kamarnya.


"Sar.. ada yang mau Kakak bicarakan sama kamu," kata Fatimah sambil menatap Sarah.


"Apa Kak?"


"Sar.. Alif sangat mencintai mu, selama ini.. Dia tidak pernah mencintai istrinya, yang ada di pikirannya hanya kamu Sar.." kata Fatimah lirih


"Alif? lalu?" tanya Sarah bingung


"Jauhi Alif Sar, Selama ini memang kamu sudah pergi dari kehidupan Alif, Alif sedikit banyaknya sudah mulai bisa melupakan kamu, meskipun masih sulit untuk bisa mencintai Marwah, sekarang kamu kembali.. Bukan menutup kemungkinan dia akan melakukan apapun demi kamu, bahkan mungkin dia bisa menceraikan Marwah hanya demi kamu, Sar.. Kamu perempuan kamu pasti ngerti maksud Kakak," kata Fatimah dengan tatapan sedihnya.


"Sarah sangat mengerti Kak, Sarah janji.. Sarah akan pergi jauh dari Alif," kata Sarah sambil menahan tangisnya.


"Maafin Kakak Sar, Kakak beneran gak ada maksud buat bikin kamu jauh dari Alif, tapi.. Kamu harus mengerti juga perasaan wanita yang menjadi istrinya Alif, terlebih lagi mereka sudah punya anak," kata Fatimah.


"Sarah sangat mengerti Kak, Sarah yang harusnya minta maaf sama Kak Fatimah karena sudah masuk kembali ke dalam hidupnya Alif," kata Sarah sambil tersenyum.


Fatimah pun memeluk erat Sarah, wanita yang di anggap sebagai adiknya.


Jika waktu bisa di putar, Fatimah pun ingin Alif menikahi Sarah, Sarah wanita yang baik dan lembut, Sarah wanita yang bisa menyeimbangi Alif.


Wanita yang penuh dengan pengertian dan perhatian.

__ADS_1


Namun takdir berkata lain.


__ADS_2