Tuhan.. Apa Salahku??

Tuhan.. Apa Salahku??
Kebebasan Sarah


__ADS_3

"Kriingg kriiingggg,"


Suara telpon di pagi hari membangunkan tidur Alif.


"Siapa pagi - pagi menelpon ku terus menerus," gumam Aliff .


Di lihat handphone nya yang sedang berdering, dengan setengah kesadaran Alif pun mengangkat telpon tersebut.


"Kemana kamu tidak pulang semalaman? tidur dengan para pelac*r lagi?"


Suara yang begitu kencang dan sangat menyakitkan telinga.


"Siapa ini pagi - pagi sudah berani membentak ku," batin Alif.


Alif membuka matanya secara sempurna.


"Marwah," gumam nya.


"Alif, tidak bisakah kau setia hanya kepadaku? Alif dengarkan aku!! Aku sangat mencintai mu, berhentilah bermain main dengan perasaanku Lif, lupakan semua masa lalu mu.. Termasuk wanita yang selalu kau selalu sebut sebut itu, aku istri mu!! aku yang berhak atas dirimu,"


"Kau bawel sekali, aku lelah.. Berhentilah menuntut ku untuk terus mencintai mu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintai mu Marwah!!"


Alif mematikan sambungan telpon nya, setiap hari Marwah selalu minta untuk di perhatikan, selalu menuntut untuk di cintai.


"Aku tau, aku suami mu dan kau berhak atas diriku, tapi.. Aku tidak pernah bisa mencintai mu Marwah, aku hanya mencintai Sarah dan sampai kapanpun akan tetap Sarah yang aku cintai," batin Alif.


Alif membuka kembali handphone nya, ia ingin tau apa ada perkembangan dari Sarah.


"Om Alif tadi aku di telpon dari polsek, pihak keluarga dari Pak Arman mencabut semua tuntutan untuk Bu Sarah, kemungkinan Siang nanti Bu Sarah sudah bisa bebas," pesan dari Omar cukup membuat Alif merasa senang setelah tadi berdebat pada Marwah.


"Kerja bagus Randi, tak sia sia aku membuang uangku untuk membebaskan mu Sar," gumam Alif.


"Lalu bagaimana Omar? apa Om yang akan mengurus kepulangan Sarah?"


"Tak usah Om, aku sedang mengurusnya.. Nanti siang Om bisa menjemput Bu Sarah di kantor polisi,"


"Apa kau sudah memberi tahu yang lain?"


"Belum Om, aku memberi tahu Om dulu.. Apa aku harus mengabari Umma dan Abah serta Elvira?"


"Tak perlu, jangan sampai mereka tau dulu.. Biar Om saja nanti yang beritahu, jangan biarkan mereka ke kantor polisi,"


"Baik Om,"

__ADS_1


Punya keponakan yang bisa di ajak kerja sama seperti Omar memang sangat menguntungkan.


Omar kurang lebihnya sudah tau baik dan busuknya Alif.


Alif pun sesegera mungkin mandi dan pergi ke kantor polisi untuk menjemput Sarah.


Akan ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Sarah.


Siang pun tiba, sudah dari jam sepuluh pagi Alif menunggu Sarah.


Alif sangat antusias dengan kebebasan Sarah, ia sangat senang bisa bersama dengan wanita yang ia cintai sedari kecil.


"Kau menunggu ku Lif?" tanya Sarah bingung.


"Untuk apa aku di sini jika bukan untuk menunggu mu, ayo kita pulang," kata Alif yang langsung menarik tangan Sarah.


"Pulang? kita mau kemana? kenapa Elvira tidak menjemput ku?" tanya Sarah.


"Aku ingin berbicara hanya berdua pada mu, Elvira, Umma maupun Abah belum tau jika kau telah bebas," jelas Alif.


"Apa Omar tidak memberi tahunya ya," gumam Sarah.


"Aku yang melarang Omar untuk tidak memberitahu mereka," kata Alif


"Sudahlah jangan banyak tanya, ayo masuk ke dalam mobilku, ini sudah siang dan sangat panas, apa kau tidak merasakannya?" kata Alif kesal.


"Kau nih tidak pernah berubah," kata Sarah sambil membuka pintu mobil Alif.


Alif pun melajukan mobilnya.


"Kita mau kemana?" tanya Sarah, ia memegang segala sesuatu yang ada di dalam mobil Alif.


"Apartemen," jawab Alif singkat.


"Hah? ngapain ke apartemen? ada siapa di sana?" tanya Sarah kaget.


"Kau nih bawel sekali si Sar, aku hanya ingin mendengar semua penjelasan mu, aku rasa di apartemen ku adalah tempat yang nyaman untuk kita berbagi kerinduan," Kata Alif sambil menggoda.


"Kau nih bicara apa si Lif, kenapa ngomong mu semakin ngaco seperti itu," kata Sarah sambil cemberut.


"Sudah lama kan aku tidak menggoda mu, apa salah jika sekarang aku menggoda mu kembali, di tambah plus plus nya," kata Alif menahan ketawanya.


Wajah Sarah memerah karena malu, plus plus apa yang di maksud Alif, pikir Sarah.

__ADS_1


"Kenapa wajah mu jadi merah seperti itu, hahahahaha," Alif malah mengejek Sarah.


"Kau nih Lif, gak pernah berubah," kata Sarah sambil memukul tangan Alif.


Sesampainya di apartemen Alif, Sarah sangat terpukau dengan semua yang ia lihat.


"Ini beneran punya kamu Lif," tanya Sarah yang melongo melihat semua yang ada di apartemen Alif.


"Jika kau mau tinggal di sini, silahkan saja," kata Alif santai.


"Elvira pasti senang Lif, tapi.. " Sarah tidak melanjutkan kembali ucapannya, ia tahu jika di suruh memilih.. Elvira pasti lebih senang tinggal di rumah gubuknya dari pada di apartemen mewah ini.


Karena apartemen ini di hasilkan bukan dari uang halal.


"Beri penjelasan pada Elvira, aku yakin dia pasti akan mengerti," kata Alif sambil tersenyum.


"Sar, mau sampai kapan kau mengagumi isi apartemen ku, aku mengajak mu ke sini untuk menceritakan semua nya, kau masih punya hutang penjelasan padaku," kata Alif yang sedang Asik duduk di sofanya.


Sarah pun terhenyak dan mendekati Alif, memang luar biasa, ia sangat mengidamkan apartemen seperti ini, tidak terlalu mewah tapi cukup elegan.


"Aku ingin punya apartemen seperti ini dari dulu, tapi uangku tidak pernah cukup untuk membelinya," kata Sarah sambil duduk di samping alif.


"Jika kau mau, apartemen ini bisa kau tempati.. Aku yang akan memberi mu," kata Alif sambil merangkul Sarah.


"Elvira pasti menolak Lif, aku tau anak itu sangat keras kepala.. Tidak akan mudah membujuknya," kata Sarah sambil menyenderkan kepalanya pada dada Alif.


Alif kaget saat Sarah menyenderkan kepalanya, sesuatu yang tak pernah Sarah lakukan jika dengannya, di rangkul saja Sarah selalu menolak.. Kini dengan mudahnya ia malah senderan.


Alif mengusap rambut Sarah dengan lembut, seandainya istri nya saat ini adalah Sarah, itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak akan pernah ternilai.


"Mau kah kamu menceritakan semuanya padaku Sar?" tanya Alif pelan.


"Apa yang kau ingin tahu?" Sarah mendongakkan wajahnya.


"Banyak hal," jawab Alif singkat.


Mata mereka saling berpandangan, ada rasa ingin mencumbui Sarah saat itu juga, tapi Ia tahu sekarang bukanlah saatnya.


Sarah melepaskan pelukan nya dari Alif, ia menunduk dan menghela nafas dalam..


Bercerita tentang masa lalunya memang seperti mengorek luka lama, namun ia tahu Alif pasti ingin tahu kenapa ia pergi.


"Jika kau belum bisa bercerita, biarlah.. Aku akan menunggu sampai kau siap untuk menceritakannya padaku," kata Alif sambil membelai rambut Sarah.

__ADS_1


"Tidak Lif, aku rasa kau harus tahu semuanya.. Kau harus tau kenapa aku pergi, siapa ayahnya Elvira, dan tentang kedua orang tuaku," kata Sarah sambil meneteskan air mata.


__ADS_2