
"Lif.. Mbak mau pulang dulu ke Bandung, kasian Jasmin kalau Mbak tinggal lama - lama," kata Fatimah.
"Mau Alif antar gak Mbak?" tanya Alif.
"Gak perlu, nanti Mbak bisa naik travel,"
"Sarah, jaga dirimu baik baik, Kakak sayang sama kamu," kata Fatimah sambil memeluk Sarah.
"Iya Kak, Sarah pun sayang sama Kak Fatimah.. Hati hati di jalan Kak," kata Sarah sambil memeluk kembali Fatimah.
Alif hanya tersenyum melihat adegan ke dua wanita yang ia sayangi saling berpelukan.
"Lif.. Kamu jangan lupa abis antar Sarah langsung ke rumah sakit, kamu harus liat keadaannya Marwah," kata Fatimah.
"Iya Mbak," kata Alif malas.
"Ya sudah, Kakak pamit dulu ya.. Assalamu'alaikum," kata Fatimah.
"Alif bantu bawain barang Mbak Fat, Alif antar juga sampai depan ya Mbak," kata Alif sambil menenteng tas Fatimah.
"Sar.. Tunggu di sini dulu ya," kata Alif.
Sarah hanya mengangguk pelan.
Setelah Fatimah dan Alif keluar, Sarah pun duduk di sofa.
"Alif mencintai ku? ah.. Apakah mungkin? bukankah dia hanya menganggap ku sebagai sahabatnya saja," gumam Sarah.
"Kemana aku harus pergi setelah ini, bagaimana dengan El? aku tidak ingin menghancurkan rumah tangganya Alif," gumam Sarah sambil menyenderkan badannya pada sofa tersebut, matanya ia pejamkan.. menarik nafas sedalam mungkin, cobaan apa lagi ini.. pikirnya.
Tak lama kemudian Alif pun masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
"Sarah, apa kau tidur di sana?" kata Alif.
"Eh Lif.. Aku hanya menutup mata saja," kata Sarah kaget.
"Tidur pun tak apa, biar nanti aku gendong kamu ke dalam kamar hehehe," kata Alif sambil tertawa.
"Apaan si kamu Lif," kata Sarah sambil memukul lengan Alif.
"Pukulan mu kuat juga, beda sama dulu.. Hmm mungkin kalau dulu pukulannya pakai sayang kali ya hehehe," goda Alif.
"Sudahlah Lif.. Jangan menggoda ku terus, lebih baik antarkan saja aku pulang," kata Sarah.
"Apa yang sudah Mbak Fat bicarakan padamu?" tanya Alif dengan tatapan yang serius.
"Tak ada, Kak Fatimah hanya menanyakan kemana saja aku selama ini, lalu bagaimana dengan El.. Begitu saja," kata Sarah sambil melirik ke arah lain.
"Jangan berbohong kepadaku," kata Alif.
"Aku tau kau sedang berbohong Sar, bicaralah yang jujur padaku," kata Alif sambil menatap tajam matanya Sarah.
"Aku beneran gak bohong Lif," kata Sarah.
"Jika bicara denganku bisakah kamu melihat mataku? Aku tidak suka jika lawan bicaraku tak melihat ke arahku," kata Alif tegas.
Sarah menarik nafas dalam..
"Sar.. Apapun yang Mbak Fat bilang aku mohon jangan di dengarkan, Mbak Fat itu lebih membela Marwah, tanpa mau tau perasaan adiknya ini," kata Alif.
"Maksud mu?" tanya Sarah bingung.
"Kamu tau? Mbak Fat itu single parent," kata Alif
__ADS_1
"Hah? aku baru tau, hmm.. Kalau boleh tau memangnya kenapa?" tanya Sarah.
"Mantan suaminya kecantol sama pelakor,"
"Kok bisa? Kak Fatimah kan cantik, lembut lagi.. Laki laki itu matanya buta apa ya," kata Sarah geram.
"Itulah sebabnya kenapa Mbak Fat sayang banget sama Marwah, karena Mbak Fat ngerasa pernah ada di posisinya Marwah, tapi.. Mbak Fat gak pernah tau gimana Marwah sebenernya," kata Alif sambil menyalakan sebatang rokok nya.
"Memangnya Marwah gimana?" tanya Sarah.
Alif memandang lekat Sarah, wanita yang sangat mengerti dirinya, biasanya ia selalu menceritakan apapun masalahnya pada Sarah.
"Lif.. " panggil Sarah pelan.
"Aku malas membahasnya, lebih baik bahas yang lain saja," kata Alif.
"Aku mengerti kamu tidak mencintainya, tapi.. Belajarlah demi anak mu Lif," kata Sarah.
"Hahaha kau bilang anak ku? apa kau pikir Shava itu anak ku?" kata Alif sambil tertawa.
"Maksud mu apa?" tanya Sarah bingung.
"Wajahmu kalau lagi bingung gitu sangat menggemaskan," kata Alif sambil mencubit pipi Sarah.
"Lif.. Kita sudah tua, jangan seperti anak - anak," kata Sarah sambil mengusap usap pipinya.
"Biarkan saja, aku senang menggoda mu, wajahmu lucu jika sedang bingung, ngambek, apalagi marah," kata Alif sambil mencubit kembali pipi Sarah.
"Aliiiiffffffff," teriak Sarah sambil mencubit perut Alif.
"Iya iya ampun, ampun Sar.. " kata Alif sambil nyengir kesakitan.
__ADS_1