
"Tidak Lif, aku rasa kau harus tahu semuanya.. Kau harus tau kenapa aku pergi, siapa ayahnya Elvira, dan tentang kedua orang tuaku," kata Sarah sambil meneteskan air mata.
"Cerita lah Sar," kata Alif lembut.
Sarah menarik nafas dalam untuk menguatkan diri.. Bercerita tentang masa lalu nya memang sangat menyakitkan hati, luka yang berangsur pulih kini seakan kambuh lagi.
"Rasanya.. Aku.. " kata Sarah sambil menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Alif pun menarik nafas dalam dalam, ia tahu akan sulit membuat Sarah bercerita tentang masa lalunya.
"Siapa ayahnya El?" tanya Alif.
Hal yang harus ia tahu lebih dulu..
Sarah menatap wajah Alif, menatap tajam bola matanya yang coklat, dengan linangan air mata yang deras membasahi pipinya.
"Apa Jeff?" tanya Alif lagi.
Kali ini Sarah hanya menunduk dan menangis lebih keras.
Tak sanggup rasanya menyebut nama lelaki brengsek itu.
Alif mengepal tangannya dengan sangat keras, ia sudah tahu jawabannya pasti Jeff ayah dari Elvira.
"Mengapa kau bodoh sekali Sarah? bukankah dulu sudah ku peringatkan, jangan pernah bermain main dengannya ataupun keluarganya," bentak Alif dengan sangat keras.
Sarah hanya bisa terdiam dan menangis, jika saja dulu ia menuruti Alif semuanya takkan pernah menjadi seperti ini.
"Lalu kenapa kau pergi?" tanya Alif dengan mode dinginnya.
"Aku hanya tau ayahmu meninggal, ceritakan lah Sar semuanya padaku," bentak Alif.
Sarah menarik nafas kembali..
"Aku hamil sama Jeff, saat aku dan kedua orangtuaku meminta pertanggung jawaban dari Jeff, kami justru di usir dan mereka bilang aku di suruh gugurkan kandunganku.. " Jelas Sarah dengan suara yang masih terisak.
"Bapak bukan orang bodoh, Bapak tentu gak mau melakukan itu, padahal mereka telah memberi uang banyak untuk menggugurkan kandungan ku, Bapak bersikeras meminta pertanggung jawaban dari Jeff, sampai pada akhirnya Bapak kehabisan kesabaran dan membentak balik Pak Broto.. Pengawalnya tentu tidak terima dan menyeret kami keluar dari rumah itu, namun Bapak bersikeras tak mau pergi sebelum Jeff bertanggung jawab, tapi... " tangis Sarah makin pecah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan nya dan menangis dengan sangat keras.
"Tapi apa?" tanya Alif.
"Salah satu pengawalnya mengeluarkan pisau dan menusuk Bapak membabi buta huaaaaa" tangisnya semakin pecah dan Alif pun memeluk erat Sarah.
"Setelah pemakaman banyak warga dan antek antek dari Pak Broto yang berdemo untuk mengusir aku dan ibuku, mungkin karena mereka tau meninggalnya Bapak karena di tusuk oleh salah satu antek anteknya, lalu Bang Khalid bilang untuk tinggal di salah satu rumahnya di kampung sebelah," kata Sarah dengan nada yang penuh penekanan.
"Aku dan Ibu di usir dari kampung itu, dan pindah ke rumah nya Bang Khalid, terus.. Ibu bilang 'Gugurkan saja kandungan itu, gara gara bayi ini Bapak meninggal dan kami harus di usir' tapi aku kekeuh gak mau gugurin kandungan ini, aku gak mau nambah dosa lagi biar bagaimana pun bayi ini tidak salah, aku dan Jeff lah yang salah, aku pikir Ibu lelah dan syok dengan kejadian yang bertubi tubi, aku meminta Ibu untuk beristirahat di kamar agar nanti pikiran Ibu bisa tenang, tapi apa yang aku dapat.. Ibu.. Ibuu" kata Sarah sambil menangis dengan keras.
"Ibu, Ibu kenapa?" tanya Alif lirih.
"Ibu gantung diri dan meninggal.. " kata Sarah sambil menangis di pelukan Alif.
__ADS_1
Tanpa terasa Alif pun meneteskan air matanya..
"Maafkan aku Sar, seandainya aku ada di sana saat itu, mungkin semuanya gak akan jadi begini, aku siap menikahi mu dan menerima anak itu," kata Alif sambil mencium rambut Sarah.
Sarah kemudian menarik diri dari pelukannya Alif
"Itu yang aku tak mau Lif, aku tak mau kau yang harus bertanggung jawab atas anak ku dan kesalahanku, makanya aku bilang sama Kak Fatimah dan Bang Khalid untuk tak menceritakan apapun padamu," kata Sarah
"Kak Fatimah dan Bang Khalid tau?" tanya Alif kaget.
Sarah hanya menganggukkan kepalanya.
"Mereka tak menceritakan apapun padaku," kata Alif.
"Aku yang meminta," kata Sarah dengan suara lirih.
Alif menarik Sarah kembali untuk bisa berpelukan dan menenangkan Sarah.
"Aku berjanji Sar, akan ku cari Jeff sampai dapat dan akan ku hancurkan sampai sehancur hancurnya," batin Alif.
Sarah kemudian menarik diri dari pelukan Alif dan menghapus air matanya.
"Bukankah saat di kampung dulu kita bertemu? kemana kau saat itu?" tanya Sarah.
"Ya aku di suruh kembali lagi ke pesantren sore itu juga, ada beberapa pelajaran yang wajib di ikuti dan itu sangat mendadak," jawab Alif santai.
"Kau mau makan? aku akan memasak untuk mu," kata Alif
"Kau meremehkan ku?" tanya Alif.
"Bukankah kau hanya jago makan tapi tidak untuk memasaknya?" ledek Sarah.
"Hey Sar, aku sudah berubah.. Aku bisa masak" jawab Alif penuh percaya diri.
"Sudahlah kau duduk manis di sini saja, aku meragukan kemampuan memasak mu, biar aku saja yang memasak," kata Sarah sambil berdiri dan jalan menuju dapur.
"Ya sudah aku pun sudah rindu masakan mu, masak seperti biasa ya, kesukaanku," teriak Alif.
"Aku sampai lupa, dimana handphone ku," gumam Alif.
Alif pun sibuk mencari handphone nya..
"Dimana ya," gumam Alif sambil mencari cari handphone nya.
"Coba di telpon pakai telpon rumah," gumamnya lagi
Alif pun mencoba menelpon, namun tak mendengar nada dering dari handphone nya.
"Lupa gue, kan gue silent," gumamnya.
__ADS_1
"Lif.. Kau sedang cari apa?" tanya Sarah sambil membawa pisau.
"Mencari.. " Alif langsung mengalihkan pandangannya ke Sarah.
"Ngapain bawa bawa pisau," kata Alif
Sarah malah maju sementara Alif malah mundur.
Dalam hatinya Sarah menahan tawa melihat wajah Alif yang sangat ketakutan.
"Pisau ini?" kata Sarah sambil mengarahkan pisau ke hadapan Alif.
"Jangan main main Sar," kata Alif dengan wajah ketakutan.
"Sama pisau kau takut?" tanya Sarah.
Sarah lalu tertawa terbahak bahak melihat Alif ketakutan.
"Kenapa kau ketawa?" tanya Alif bingung.
"Apa kau gila? mana mungkin aku mau melukai mu, kau pikir aku mau masuk penjara lagi," kata Sarah sambil tertawa.
Alif menggaruk kepalanya
"Sudahlah, tolong carikan handphone ku.. Jangan lupa pisaunya di taruh di dapur," kata Alif.
"Baiklah Mas Alif," kata Sarah sambil berjalan menuju dapur.
"Apa kau sudah selesai masaknya?" kata Alif sambil sibuk mencari ponselnya.
"Belum, tadi aku mendengar suara berisik makanya aku ke sini, dan aku melihatmu seperti mencari sesuatu," kata Sarah senderan manja di tembok.
"Sar, aku meminta tolong untuk mencarikan ponselku, kau malah sender senderan gitu," kata Alif sambil memandang Sarah.
"Oke baiklah," kata Sarah.
Sarah pun bergegas mencari ponsel milik Alif, belum ada lima menit Sarah telah menemukan ponsel Alif.
"Ini ponselnya," kata Sarah sambil memberi ponsel di hadapan Alif.
"Woah.. Cepat sekali kau menemukannya, apa jangan jangan kau yang menyembunyikan ponselku ya," kata Alif.
"Sembarangan, aku menemukannya di jas yang tadi kamu pakai," kata Sarah.
"Aku sampai lupa," kata Alif.
"Banyak sekali panggilan masuk dan pesan dari Bang Hussein," gumam Alif.
"Lif, Abang sudah menelpon dan mengirimi mu pesan begitu banyak, kemana saja kau...?? Marwah masuk rumah sakit, percobaan bunuh diri!! Temui Abang di rumah sakit Karya Medika,"
__ADS_1
"Marwah mencoba bunuh diri lagi, memang gila wanita yang satu itu,"