Two Sky Poems

Two Sky Poems
Suku barbar


__ADS_3

Xuan Yi terkejut dan kedua matanya yang berkilauan tiba-tiba menjadi sangat tajam.


Mereka berlima menekan Xuan Yi dengan pedang. Gadis kecil itu berusaha menahan serangan itu dengan sekuat tenaga. Dia di tekan ke bawah, membuatnya berusaha melepaskan diri.


Pemuda yang tidak jauh berada membuka kembali matanya. Dia kemudian mengambil beberapa batu dan mementilnya.


Batu itu melesat cepat dan tiba-tiba menusuk leher empat orang secara bersamaan. Entah kekuatan apa yang ada membuat batu itu mampu menembus leher dan membunuh empat orang itu dengan begitu singkat.


Satu orang tersisa terkejut, dan dia kembali tersadar ketika Xuan Yi mampu mendorong dan mengayunkan pedangnya.


Orang itu melompat ke belakang, kemudian memandang pemuda yang duduk, dan terlihat tenang. Dua kata keluar dari mulut pemuda itu. “Bunuh dia.”


Xuan Yi mengangguk. Dia kemudian berlari dan menyerangnya dengan berbagai ayunan dan kombinasi yang sebelumnya telah dia pelajari.


Sosok itu kewalahan melawan anak kecil itu. Setiap dia mengayunkan pedang, Xuan Yi mampu menghindari dan menangkisnya.


Namun, sekali gadis itu mengayunkan pedangnya, itu mampu membuatnya mati seketika; Xuan Yi mengayunkan pedang dari bawah ke atas untuk mengincar lehernya. Seperti apa yang di harapkan Gadis itu, orang itu menggunakan pedangnya untuk menghalangi serangannya. Dengan cepat pedangnya memutar arah dan menusuk dadah orang itu.


Darah akhirnya keluar dan menyelimuti bilah pedangnya.


Kedua mata orang itu terkejut dan menajam seperti sedang kerasukan. Nafasnya mulai mengecil dan akhirnya menghilang.


Xuan Yi tersenyum mengerikan. Dia menarik pedangnya, dan satu ayunan terakhir membuat kepala orang itu melayang ke tanah, kemudian tubuhnya menyusul.


Pemuda yang tidak jauh berada tidak menyangka gadis di depannya memiliki nafsu membunuh yang sangat mengerikan, yang terlihat dari wajahnya tadi.


Ketika gadis mendekatinya dengan pedang yang masih di lumuri darah, pemuda itu bertanya, “Berapa orang yang telah kau bunuh?”


“Sepuluh orang.” Xuan Yi menjawab dengan berani dan ekspresi wajahnya terlihat sangat tegas.


...----------------...


...----------------...


Di bagian utara kekaisaran Su ada sebuah daerah berumput. Setiap hari, Orang-orang akan berjalan melintasi padang rumput itu. Mereka tidak peduli dengan cahaya Matahari yang menyengat atau suhu dingin di malam hari.


Beberapa kali sudah terlihat orang-orang berjalan dengan unta ataupun kuda mereka. Mereka setiap kelompok memiliki anggota sekitar 10 orang dan saling mengikat persaudaraan. Kadang-kadang ada yang berjumlah 5 orang.

__ADS_1


Bagian ini merupakan tempat suku barbar hidup.


Sepanjang hari, mereka akan terus mencari tempat yang lebih baik untuk bertahan hidup. Dengan padang rumput gersang mustahil bagi mereka untuk hidup. Hanya dengan mengembara mencari berbagai sumber makanan membuat mereka bisa bertahan.


Pertanian sudah tidak bisa di lakukan karena hujan sangat jarang terjadi di daerah ini, membuat rumput-rumput semakin menguning dan gersang.


Oleh sebab itu, sejak bertahun-tahun mereka mulai berlatih perang untuk menguasai daerah di selatan yang lebih asri dan memiliki banyak sumber daya alam. Namun karena mereka memiliki hubungan satu kelompok dengan kelompok lainnya tidak begitu baik, sehingga sangat sulit untuk menguasai daerah selatan yang makmur itu.


Mereka adalah orang-orang primitif yang kurang beradab, Namun memiliki fisik yang sangat kuat, mungkin ini karena hidup mereka yang keras.


Di malam ini ada satu kelompok duduk di sekitar api unggun. Mereka berlima melingkarinya dan menikmati api yang hangat.


Semua pakaian mereka terbuat dari kulit binatang, bahkan topi mereka juga.


Seorang gadis berdiri.


“Kau mau ke mana?”


Seseorang pria gagah memakai kalung taring serigala bertanya.


Gadis itu tidak menjawab dan berjalan menjauh.


Empat orang yang tersisa hanya menonton. Tidak ada yang berani dengan pria itu. Dia adalah pimpinan mereka. Segala otoritas di pegang olehnya.


Gadis itu adalah orang yang di selamatkan oleh salah satu anggota. Sikapnya yang dingin memang selalu menjadi api kemarahan pria pimpinan itu. Mereka berdua saling berseteru.


Gadis itu terus berjalan.


Pria itu sangat marah. Dia melihat tombak yang tergeletak dan mengambilnya. Dalam tiga tarikan nafas, tubuhnya telah berada di depan gadis itu dan mengayunkan tombaknya.


Gadis itu merespon dengan jungkit balik sebanyak tiga kali ke belakang kemudian memandang pria itu dengan wajah dingin.


Empat orang yang menonton semakin takut, jika hal ini menjadi peristiwa berdarah. Tapi tidak ada yang berani menghentikan mereka.


“Batukhan, apakah kau benar-benar ingin menyerangku?”


“Memangnya kenapa?”

__ADS_1


Gadis itu bernama Sarnai. Itu bukan nama aslinya, dia sesungguhnya berasal dari kekaisaran Su, tapi karena ada kelompok yang memburunya membuatnya jatuh ke tebing. Dan oleh kelompok Batukhan, dia di selamatkan dan memberikannya nama.


“Maka, aku tidak menahan diri lagi.”


Sarnai melontarkan tendangan yang mengarah ke kepala Batukhan. Dengan cepat pria itu menghindar ke kanan, kemudian menangkap kaki Sarnai, tapi sebelum terjadi, gadis itu melompat ke belakang, lalu menyerang kembali.


Batukhan yang memegang tombaknya berusaha menyerang dengan mengayunkan ke kanan dan kiri, sesekali dengan gerakan menonjok. Pertarungan itu berlanjut.


Dengan senjata yang masih berada di tangan Batukhan, Sarnai sulit untuk mengalahkannya. Oleh sebab itu, dia mengayunkan kaki tepat ke pergelangan tangan Batukhan dengan gerakkan cepat dan menipu.


Akhirnya itu berhasil mengenainya dan menjatuhkan tombak. Sarnai dengan cepat ingin menggapainya.


Batukhan dengan panik berusaha mengambil senjata itu, namun terlambat; tangan Sarnai telah menggapainya. Gadis itu tanpa perasaan memutar tubuh dan menusukkan tombak tepat ke tenggorokan Batukhan.


Darah berjatuhan. Mulut Batukhan terbuka lebar-lebar dan mengeluarkan darah. Kedua matanya melotot tajam dengan warna merah.


Sarnai menarik kembali tombaknya dan mayat Batukhan terjatuh.


Sarnai tidak peduli dengan keterkejutan kelompok Batukhan; dia berjalan menjauh dan akhirnya menghilang dari kegelapan malam.


...----------------...


...----------------...


Malam yang panjang akhirnya berlalu, di pagi ini Su Jiao duduk di taman hanya sekedar menikmati kedamaian di pagi hari dengan secangkir anggur. Para pelayan seperti biasa membersihkan kebun, dan Xuan Yi membantunya dengan sangat gembira.


Dia mendengar gadis itu berkata, “Bibi, biarkan aku yang membersihkannya!” “Tumbuhan ini sangat menarik untuk aku potong, bagaimana kalau kita Potong dengan gaya seperti ini?” “Bibi, mengapa kau melakukan itu?” gadis itu memiliki sikap yang baik dan lembut, tapi kadang-kadang sikapnya itu membuat pelayan kesal. Jika Xuan Yi adalah seorang pelayan, dia tidak akan mendapatkan perlakuan yang baik dari setiap pelayan.


Walaupun banyak yang menginginkannya, tapi jika terlalu seperti itu, akan sangat mengganggu.


Ada beberapa pelayan yang takut, jika nanti Xuan Yi terluka, sehingga kadang-kadang menolak dengan lembut. Mereka semua tahu, jika putri itu terluka, tentunya mereka yang mendapatkan hukuman. Walaupun gadis itu akan bertanggung jawab dengan perbuatannya, itu belum cukup menyelamatkan para pelayan.


Su Jiao kemudian memandang ke arah lain, di mana tiba-tiba muncul seseorang pemuda berusia 12 tahun dengan pakaian lusuh.


Dia adalah Yan Lin, pemuda yang telah mengajari Xuan Yi berlatih pedang dan menjadi penjaga Su Jiao.


Dia meletakkan pedang di atas meja, kemudian berkata, “Dalam sepuluh hari, aku harus meninggalkan tempat ini.”

__ADS_1


“Mengapa kau mengatakannya sekarang?”


__ADS_2