Two Sky Poems

Two Sky Poems
Potong ingatan-ingatan


__ADS_3

Xuan Yi sudah kesal dan marah dengan ujian yang absurd ini, namun dia menahan untuk mengejek dan mengungkapkan kemarahannya.


Beberapa menit lagi akhirnya berlalu, Xuan Yi kemudian berdiri dan ingin melangkah, tapi dia menahannya. Jika ini 7 kali gravitasi, maka tubuhnya akan hancur. Segera, dia akan berteriak menyerah. Sangat di sayangkan, namun Xuan Yi telah berusaha sebaik mungkin.


Xuan Yi kemudian melangkah.


Hal yang tidak pernah di dugaannya muncul; tidak ada tekanan gravitasi, tapi ada kabut tebal di depannya. Dan dia tiba-tiba berada di danau yang di penuhi kabut. Cuacanya sangat dingin membuat Xuan Yi kedinginan. Butiran-butiran air berjatuhan dengan pelan. Ketika menyentuh dasar danau, tercipta suara alunan nada yang khas.


Xuan Yi bingung dengan semua ini. Dia menoleh ke segala ara, namun kabut begitu tebal sehingga semua yang terlihat hanya warna kabut putih bagaikan awan.


Xuan Yi juga terheran-heran, bagaimana bisa dia berdiri di atas air. Dia kemudian menoleh ke bawah. Ikan-ikan warna merah bergerak hilir mudik dan berputar-putar seperti penasaran akan sosok Xuan Yi.


Kemudian, dari pantulan di air yang terlihat abu-abu itu perlahan-lahan sosok wanita berpakaian putih bercampur hijau muncul. Gambar bunga-bunga plum terlukis di Han Funya.


Xuan Yi terkejut, kemudian tanpa sadar mundur ke belakang bersamaan dengan menoleh ke arah wanita itu. Dan tanpa sadar menanyakan siapa wanita itu.


Namun, wanita itu tidak menjawab; dia kemudian berbalik dan berjalan pergi. “Ikut aku.”


Xuan Yi diam sebentar dan ragu-ragu mengikuti wanita itu, akan tetapi tidak lama kemudian dia mengikutinya.


Dia berjalan antara kabut putih dengan alas air. Semua pemandangan terlihat seperti itu, hingga akhirnya mereka tiba di pinggir danau.


Di atas air ada sekumpulan bunga-bunga teratai hijau, wanita itu memetiknya satu kemudian berjalan lagi.


Xuan Yi memandang bunga itu sebentar, lalu berjalan lagi.


Mereka pun kemudian tiba di sebuah pondok dengan dua pohon berwarna merah di depannya. Di sana pita-pita kuning dan hijau bergelantungan. Andai saja ada angin, pita-pita itu akan sangat indah.


Setelah tiba di depannya, wanita itu diam sebentar, kemudian memandang ke arah ujung kanan, yang ada sebuah lonceng yang sangat besar, yang terlihat begitu suram dan memiliki aura mistis.


Dia kemudian berjalan ke sana dan terdiam setelah tiba. Dia kemudian berbalik memandang Xuan Yi. “bantu aku membunyikannya.”


Xuan Yi terdiam memandang wanita itu, kemudian bertanya, “Mengapa kita harus membunyikannya?”


Wanita itu tidak menjawab dan dia kemudian berbalik, lalu tangan kanannya menyentuh lonceng itu, akan tetapi, dia tidak membunyikannya.


Xuan Yi terheran-heran, tapi kemudian dia berjalan di sisinya dan ikut menyentuh itu.


Mereka kemudian mendorong perlahan-lahan lonceng itu.


Dong....

__ADS_1


Dong....


Dong....


Wanita itu kemudian menarik tangannya.


Xuan Yi kemudian ikut melakukannya. Tapi setelah itu, dia tiba-tiba melihat seberkas cahaya emas dari dahinya. Cahaya itu kemudian terbelah menjadi dua kemudian mengitari tubuh Xuan Yi lalu kembali ke dahinya. Xuan Yi merasa kesakitan dan berteriak keras. Namun, tiba-tiba rasa sakit itu di gantikan dengan rasa nyaman dan pelan-pelan membuat Xuan Yi membuka matanya.


“Selamat tuan putri.”


Dia akhirnya tiba di depan patung wanita itu dan When Shu menyambutnya.


Gadis itu merasa senang, namun rasa lelahnya membuatnya tidak bisa merayakannya dengan cepat; dia akhirnya memejamkan matanya dan pingsan.


...----------------...


...----------------...


Gelap. Hitam. Bahkan bunga Lily laba-laba yang ada di halaman rumahnya tidak mampu menyejukkan hatinya yang karam di lautan hitam lepas. Di balik jeruji besi yang hitam itulah dia selalu melihat awan-awan hujan yang akan mencurahkan air-air yang tidak terhitung jumlahnya.


Petir menyambar, tapi itu tidak membuatnya merasa ketakutan. Ruangan itu semakin gelap dan perlahan-lahan dia membaringkan tubuhnya merasakan ranjang yang beralas jerami seadanya dan itu pun sudah bertahun-tahun di gunakan.


“Semua hari sama saja.”


Dia kemudian terbangun untuk melihat hujan lebih dekat, kemudian kembali ke ranjang, menutup mata dan akhirnya tertidur.


Kemudian di tengah malam dia akan merasakan punggungnya gatal-gatal karena tidur di ranjang.


Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan, maka dia berusaha tetap tidur dalam keadaan seperti itu. Malam semakin larut dan tubuhnya akan kedinginan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Di pagi hari, pintu terbuka, seorang wanita paru baya datang dan mencambuknya.


“Ini sudah pagi!”


Ibunya selalu membentak dan menyuruhnya untuk bekerja sebagai pelayan di kebun. Setelahnya dia akan memberinya makan sedikit dan selalu menyiksanya.


Beberapa tahun dia berhasil menjalaninya, akan tetapi tahun-tahun berikutnya dia tidak tahan lagi. Tubuhnya sangat kurus, yang bahkan tulang-tulang kerangka dapat terlihat begitu jelas. Rambutnya memutih dan wajahnya hanya di balut kulit, yang menyebabkan dia bagaikan hantu hidup.


Ibunya terus menyiksanya tanpa henti, yang bahkan jika dia mati, ibunya tidak akan merasa bersalah ataupun menangisinya.


“Mengapa dia melakukan itu?”

__ADS_1


Dia pernah bertanya seperti itu, dan menemukannya ketika ibunya terbunuh, yang mana dia membuat sebuah surat kepada ibunya di luar sana yang telah tua.


Surat itu sangat panjang dan penuh penderitaan, yang inti dari surat itu menceritakan bagaimana perasaannya beberapa tahun yang sangat buruk, setelah pemerkosaan itu terjadi.


Kata-kata dalam surat itu memberitahunya, tetapi dia tidak merasa bersedih. Mengapa dia tidak bersedih? Dia tidak tahu apa yang menyebabkannya.


Kemudian ada sebuah rangkaian kata yang sangat di ingatnya dan mungkin sebuah metafora yang di tulis ibunya. Dia berkata : malam telah mati dan bintang-bintang tidak bercahaya lagi.


Gadis itu tidak tahu apa yang di maksud ibunya, tetapi dia tidak akan pernah berusaha memahaminya.


Setelah membunuh ibunya yang terbalut dalam kain putih dengan darah-darah yang bagaikan bunga, dia kemudian menguburnya di depan rumah dengan bunga Lily laba-laba merah.


Dia mencakup kedua tangannya dan memejamkan mata. Ini bukan doa; ini adalah ucapan selamat tinggal kepada ibunya, yang telah melahirkannya; yang telah hampir membunuhnya dengan siksaan-siksaannya.


Setelahnya, dia akhirnya berguru dan penampilannya kembali normal. Dan guru itu memberinya nama, namun dia sekarang hilang ingatan.


Sebelumnya, dia hidup tanpa nama. Ibunya tidak memberikannya nama. Ketika dia bertanya siapa namanya.


Ibunya akan membentak. “Kau tidak memiliki nama!”


Setelah mencari dan mencari, akhirnya dia tahu mengapa ibunya tidak memberinya nama. Nama berarti eksistensi dan keberadaan. Tanpa nama, dia tidak akan pernah ada. Dia akan hidup seperti angin, hanya untuk di ketahui, dirasakan bukan untuk di ingat.


Ibunya melakukan itu karena sejak awal dia tidak pernah menginginkannya. Oleh karena itu, dia hidup tanpa nama. Dia hanya bisa mengingat itu saja setelah tertidur beberapa saat.


...----------------...


...----------------...


Akhirnya dia membuka mata. Orang-orang desa telah berkumpul di perbatasan desa. Mereka saling berbicara membicarakan seseorang yang datang ke desa.


Sarnai ingin pergi, tapi gadis tadi bersamanya telah menyandarkan kepala di bahunya. Oleh karena itu dia perlahan-lahan mendorongnya dan memberikan gadis itu tertidur di tanah. Tetapi, dia tiba-tiba membuka matanya dan mengusapnya.


Dia kemudian bangun dan mengangkatnya kedua tangannya.


Sarnai berdiri dan mendekati kerumunan orang itu. Melihatnya, gadis itu mengikutinya.


Ternyata ada beberapa orang-orang hebat dari berbagai sekte. Mereka mendata orang-orang yang akan mengikuti ujian masuk.


“Ini kejadian langka!” Seru gadis itu.


Sarnai terdiam saja.

__ADS_1


Gadis itu tidak mempedulikan reaksi Sarnai. “Jika aku memiliki bakat, aku akan datang mengikuti ujian itu. Tapi sayang seribu sayang, aku tidak memiliki bakat bela diri apa pun.”


__ADS_2