
“Bisa kau menjauhkan pedang ini dari leherku? Aku bukan orang jahat.”
Sebelum pemuda itu melakukannya, Xuan Yi mendorongnya dengan kasar. Dia kemudian melompat ke depan dan berbalik. “Kau menggunakan pedang dengan baik, seperti sedang menari.”
“Aku tidak menari, itu adalah teknik pedang yang sedang aku latih.”
“Aku tidak peduli apa namanya, itu sungguh indah. Bisa kau melakukannya lagi?”
“Tidak bisa, itu bukan pertunjukan.”
Xuan Yi cemberut. “Jika tidak mau, bisa kau mengajariku bagaimana cara melakukannya?”
“Tidak juga.”
Wajah gadis itu tiba-tiba berubah menjadi sangat serius. “Tidak ada gunanya jika ahli pedang sendiri di dunia ini, itu akan membuatmu menjadi tidak berarti.”
“Aku tidak mengerti.”
“Apa kau pikir dengan mencapai puncak dalam seni pedang, membuatmu bahagia? Itu akan membuatmu menjadi bosan karena tidak ada lawan yang membuatmu bersemangat. Berbagi latihan denganku, kau bisa memiliki lawan dan membuat kemajuan lebih mudah.”
Pemuda itu menghela nafas dan berjalan menjauh. “Kita bertemu besok di sini.”
“Jadi, apakah kau akan mengajariku?”
Pemuda itu mengangguk dan dalam sekejap menghilang.
...----------------...
...----------------...
Ketika matahari mulai terbit, Su Jiao membuka matanya perlahan-lahan.
Cahaya matahari tepat mendarat di wajahnya, membuat wajah yang bagaikan dewi itu bercahaya. Dia kemudian ingin berdiri, tapi selimut yang ada di punggungnya jatuh, sehingga dia mengambilnya dan bertanya-tanya siapa yang membawakannya.
Tidak mau memikirkannya, dia kemudian merenggangkan tubuhnya dan berjalan menuju kamarnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, dia pergi ke tempat makan.
Di sana Xuan Yi telah duduk. Gadis itu menunggu Su Jiao datang.
Ketika Su Jiao duduk, dia bertanya, “Bagaimana pelajaranmu kemarin?”
Su Jiao kemudian mengambil mangkuk dan menuangkan nasi.
“Berjalan baik. Aku sangat menikmati pembelajaran cara membuat kaligrafi. Meski masih jelek, setidaknya kaligrafi yang aku buat berhasil.”
Xuan Yi kemudian mengambil mangkuk dan supit. Dia menuangkan nasi dan kuah yang ada di meja.
Setelah satu suapan, Dia membuka mulutnya, “Ibu, ketika matahari terbenam, aku akan berlatih menggunakan senjata.”
“Lakukan apa yang kau inginkan, tapi kau harus ada yang menjaga. Dengan siapa kau berlatih?”
“Seseorang pemuda dengan pakaian lusuh, aku bertemu dengannya tadi malam.”
__ADS_1
Su Jiao memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Setelah mengunyahnya, dia memperingati, “Berhati-hati menggunakan senjata, aku tidak mau kau terluka.”
“Emm, aku akan berhati-hati.”
Mereka kemudian sibuk menikmati hidangan masing-masing. Setelahnya, seperti biasa Xuan Yi akan mencuci semua mangkuk.
Su Jiao membiarkannya begitu saja. Dia terheran-heran, bagaimana bisa seorang penjahat seperti Tong Mu mampu mendidik anak perempuan dengan sangat baik dan anggun seperti Xuan Yi. Sebagai penjahat kelas atas, seharusnya anak itu akan memiliki sikap yang keras kepala dan kejam. Apakah ini yang di sebut darah ibu mengalir sempurna ke dalam anaknya?
Dia kemudian pergi dari sana, ada banyak hal yang harus dia selesaikan. Daerah provinsi masih menantinya dan gajih para tentara masih tunggak. Masalah itu harus di selesaikan secepat mungkin.
...----------------...
...----------------...
Setelah mencuci mangkuk dengan bersih, dia kemudian menemui Jia Li dan mengajaknya pergi menemani ke rumah Xionglue.
Mereka kemudian pergi.
Sebelum pergi, Jia Li tidak lupa membawa sebuah pedang di punggungnya untuk berjaga-jaga adanya bahaya yang datang.
Dia adalah pelayan terdekat Su Jiao dan orang kepercayaannya. Dia mengetahui tindakan-tindakan yang di lakukan oleh tuan putri dan rahasia-rahasianya.
Ketika di beritahu Xuan Yi adalah anaknya, dia telah berpikir gadis itu akan banyak di incar, karena perbuatan ayahnya di masa lalu. Tidak ada yang tahu siapa Su Jiao berhubungan badan kecuali dirinya, oleh karena itu, dia telah mempersiapkan semuanya.
Ketika berjalan-jalan menuju ke sana, Xuan Yi banyak bertanya tentang makanan-makanan yang di jual para pedagang.
Jia Li menjelaskannya dengan lembut dan bersabar.
“Itu namanya kue bulan. Yang itu namanya manisan dan itu namanya.... Nanti setelah tuan putri pulang, bibi akan membelikannya.”
Ketika mencapai di tempat sepi, tiba-tiba seseorang berkata, “Kalian mau ke mana?”
Setelah beberapa saat mencari-carinya, ternyata seseorang gadis duduk di atas pohon memakai gaun berwarna putih. Kedua matanya tampak jernih dan terlihat pintar.
“Kami akan pergi belajar.”
Jia Li terkejut dengan jawaban Xuan Yi, dia seharusnya tidak boleh menjawab pertanyaan. Di dunia ini akan sangat berbahaya jika seseorang hidup dengan sikap polos.
Dan dari tampaknya, gadis yang ada di atas mereka bukan orang sembarangan, melihat dia membawa pisau kecil yang di putar-putar dengan ujung genggamannya ada gantungan kipas.
Gadis itu kemudian melompat turun dan mendekati mereka. Dia memperhatikan Xuan Yi dan Jia Li.
Xuan Yi hanya terdiam di tatap seperti itu.
“Aku ikut.”
“Kau tidak boleh ikut,” ujar Jia Li.
Namun gadis itu tidak mendengarkannya dan melompat ke atap-atap rumah dan menghilang begitu saja.
“Tuan putri, anda seharusnya tidak menjawabnya. Ada banyak sekali orang-orang yang menginginkan kematian anda.”
“Aku tahu. Oleh sebab itu aku bersikap seperti ini. Ayo bibi, kita berjalan lagi.”
__ADS_1
Jia Li merasa heran dengan sikap Xuan Yi yang mendadak serius seperti itu bukan sikap aslinya. Namun dia tidak begitu mempedulikan apa maksud dari Gadis itu.
Setelah mencapai gerbang rumah, Xuan Yi berkata, “Terima kasih telah mengantarkanku bibi. Nanti sore, bibi bisa menjemputku.”
“Belajar yang baik, tuan putri.”
Xuan Yi mengangguk kemudian berjalan mendekati pintu, dan Jia Li pergi.
Saat dia membuka pintu, gadis tadi telah berada di halaman rumah menyambutnya. Dia tersenyum riang ketika Xuan Yi datang. Gadis itu juga memutar-mutar pisau di tangannya.
“Kenapa kau datang ke sini?” tanya Xuan Yi.
“Aku ingin melihat-lihat, kau belajar apa hari ini.”
“Aku belajar tentang kaligrafi.”
“Itu membosankan.”
“Siapa bilang? Kau tidak mengerti bagaimana cara membuatnya. Kaligrafi adalah ungkapan perasaan melalui seni tulisan.”
“Sudah aku katakan kegiatan itu sangat membosankan.”
“Kau bisa pergi sekarang, jika tidak suka.”
Tepat ketika Xuan Yi berhenti berkata, Xionglue membuka pintu perlahan-lahan, kemudian memandang dua anak gadis itu yang telah memandangnya. Xionglue berucap dengan nada dingin, “Aku tidak suka dengan seseorang dari sekte White Clouds Fairly. Pergi dari sini.”
Gadis yang ada di samping Xuan Yi mengerutkan kening. Dengan kesal memandang Xionglue. “Mengapa kau tidak menyukainya?”
“Aku membencinya.”
Gadis itu melanjutkan. “Sekte White Clouds Fairly adalah salah satu sekte kuat yang ada di wilayah kekaisaran Su. Murid-murid yang belajar di sana sangat cantik-cantik. Semua orang ingin belajar di sana karena memiliki guru-guru spiritual yang tinggi. Tapi syarat untuk masuk lulus sangat sulit, apakah karena itu kau membencinya?”
“Tidak. Aku murni membencinya. Pergi sekarang.”
“Kau pasti iri melihatku lulus masuk!” gadis itu mendengus dan berjalan pergi.
Xuan Yi hanya diam saja sejak tadi. Mendengar apa yang di katakan Gadis itu membuatnya tertarik ingin mengetahui Sekte itu.
Dia berjalan mendekati Xionglue. “Bibi Xionglue, apa itu sekte White Clouds Fairly.”
“Ikut aku.”
Xuan Yi kemudian mengikuti Xionglue dan duduk di meja.
Di atas meja, sudah ada cangkir dan pot teh. “Sekte White Clouds Fairly seperti yang anak itu katakan, adalah salah satu Sekte yang ada di kekaisaran Su. Kau bisa menambah ilmu bela diri di sana. Tapi hanya orang-orang berbakat yang akan di terima dan hanya perempuan.”
Sambil berbincang Xionglue mengangkat pot kemudian menuangkannya dan tangannya sebagai penyangga.
“Mengapa seperti itu?”
“Karena Sekte itu khusus melatih feminisme. Jika kau ingin belajar menjadi wanita anggun dan memiliki kekuatan, tempat itu adalah salah satu pilihan yang baik.”
“Mengapa bibi membencinya?”
__ADS_1
“Karena pelatihan yang mereka terapkan sangat memberatkan, aku membenci cara belajar mereka. Jika kau ingin, kau bisa mencoba keberuntunganmu.”
Xionglue meletakkan satu cangkir yang telah berisi teh di depan Xuan Yi. “Silahkan Tuan putri.”