
“Aku tidak tahu kondisi apa yang akan terjadi saat itu, dan juga.” Yan Li mengeluarkan buku dari bajunya dan meletakkan di meja. “Ini adalah buku yang tidak aku mengerti, kau boleh mengambilnya.”
Su Jiao mengambil dan membukanya dan terkejut. Hanya ada halaman kosong, dan tidak ada sama sekali huruf. “Apa ini? Apa karena ini kau di kejar oleh kelompok itu?”
“Bukan, ada satu kitab suci yang aku dapatkan, mereka menginginkannya.”
Yan Lin melanjutkan, “Buku itu berjudul puisi langit. Aku mendapatkannya dari seorang pria tua buta di pinggir jalan. Dia mengatakan buku itu sangat berharga. Karena aku tidak memahaminya, aku memberikan itu kepadamu, itu juga sebagai rasa terima kasihku.”
Su Jiao menghela nafas. “Apa ini benar-benar penting?”
“Kepalaku menjadi jaminannya.” Yan Lin kemudian mengambil pedangnya. “Dan satu lagi, putrimu selalu di incar.”
Yan Lin kemudian menghilang tanpa apa pun seperti angin berhembus.
“Aku tahu.”
“Tahu apa?” Tanya tiba-tiba Xuan Yi. Dia telah berada di samping Su Jiao, tapi dia tidak bisa melihat apa yang telah terjadi di sana. Oleh karena itu Su Jiao tetap tenang.
Tetapi itu tidak membuat Su Jiao terkejut. Setelah meletakkan air panas, Su Jiao bertanya dingin, “Ada yang kau inginkan?”
Xuan Yi duduk di seberang. “Aku ingin membeli senjata, apakah ibu memberikannya?”
“Pergi saja.”
“Terima kasih. Buku apa itu?”
Xuan Yi kemudian mengambil dan membukanya. Berbeda dengan reaksi Su Jiao, gadis itu terlihat tenang dan tidak terkejut dengan isi buku itu.
Setelah membuka dan membacanya, dia kemudian bertanya, “Buku apa ini? Tidak ada isinya.”
Dia meletakkan di meja. “Ibu, aku pergi dulu.”
Setelah gadis itu pergi, Su Jiao memandang pohon yang tumbuh di luar rumahnya, sebelumnya ada bayangan di sana, kemudian samar-samar menghilang.
Su Jiao kemudian berdiri. Dia akan pergi memastikan semuanya berjalan baik, terutama bahan-bahan yang di belinya.
...----------------...
...----------------...
Xuan Yi pergi bersama Jia Li ke tempat senjata. Mereka telah mengelilingi tempat penjual senjata dan mencari-cari tempat yang sesuai. Dia datang mencari Tongkat besi panjang untuk senjatanya. Meski tumpul, tongkat memiliki kelebihan di bentuknya yang panjang dan mudah untuk mengeluarkan serangan yang kuat, tentunya perawatan yang di perlukan lebih mudah di bandingkan pedang.
“Paman, aku memerlukan tongkat langsing, memiliki berat yang ringan tapi sangat kuat untuk menyerang, apakah ada senjata seperti itu?”
Pria paru baya itu kemudian mengajak Xuan Yi masuk ke dalam ruangan yang di penuhi senjata.
__ADS_1
“Kau tunggu sebentar.”
Xuan Yi mengangguk.
Tidak lama setelahnya, pria itu kembali membawa senjata yang di inginkan Xuan Yi. Tongkat yang di bawa mempunyai panjang 4 meter dan tidak terlalu langsing. “Apakah ini yang kau mau?”
Xuan Yi menggenggamnya, kemudian menusuk dengan kasar ke lantai, menimbulkan suara bergeming.
“Ini tidak terlalu buruk, tapi terlalu tinggi dan kurang kecil.”
Pria itu mengambilnya lagi, setelah Xuan Yi mengulurkannya. Dia kembali masuk dan mengambil yang lain.
“Apa ini cocok?” Pria itu mengulurkan tongkat dengan panjang 3 meter dan lebih kecil dari sebelumnya.
Setelah mengambil dan mempertimbangkannya, Xuan Yi dengan gembira berkata, “Sempurna! Berapa harganya?”
“Seribu keping emas.”
Xuan Yi memandang Jia Li. “Apakah bibi bisa membayarnya.”
“Baik, nona.”
Jia Li mengeluarkan sekantong koin dan menyerahkannya.
Sebelum pergi, mereka meminta tali kepada pria itu. Dengan senang hati dia memberikannya. Dan setelah mendapatkannya, Xuan Yi mengikat ujung tombak dan satu ujungnya lagi, kemudian mengaitkan di punggungnya.
...----------------...
...----------------...
Su Jiao datang kembali dengan Yan Lin ke Kongsi dagang Teratai. Ketika mereka datang, beberapa pelayan ada di luar membersihkan halaman.
Meski pun rumah itu terbilang kecil, tapi desain dan arsitekturnya sangat mewah dan penuh dengan keindahan. Beberapa patung-patung di letakan di sudut-sudut rumah. Jenis-jenis tanaman tumbuh subur.
Pelayan yang telah mereka lukai terdiam menatap mereka penuh dendam, tapi ini dilakukan secara diam-diam.
Su Jiao dan Yan Lin tahu, tapi bagi mereka hal itu tidak penting. Untuk apa mereka membuang tenaga meladeni orang-orang bodoh dan tidak berguna seperti pelayan itu.
Su Jiao mengetuk pintu beberapa kali. Dan kemudian datanglah Cao Yong, pria sebelumnya. Dia mengerut kening dan ekspresi benci muncul ketika Su Jiao datang, tapi itu langsung dia ubah dengan ekspresi ramah dan membawa Su Jiao dan Yan Lin masuk. Pria itu tersenyum ramah dan berbicara layaknya telah kenal lama.
Mereka duduk dan beberapa hidangan tersajikan.
Tanpa menikmati makanan itu, Su Jiao bertanya, “Apa kau telah mempersiapkannya?”
“Iya, tuan putri, para Karyawan kami telah mempersiapkannya.”
__ADS_1
“Berapa lama akan datang?”
“Dalam sepuluh hari.”
“Aku tidak mengharapkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam hubungan kita.”
“tentu saja tuan putri.”
Setelah memastikan semua berjalan baik dan sesuai harapan, Su Jiao dan Yan Lin kemudian pergi.
Alis Cao Yong terajut, matanya memerah dan tajam, bibirnya tertarik, memperlihatkan ekspresi marah dan benci ketika dia memandang pergi Su Jiao dan Yan Lin.
“Su Jiao bajingan!!!” dia berseru, saat bersamaan memukul meja, menyebabkan cairan minuman bergejolak dan tumpah.
Di luar, Su Jiao mendengar, tapi dia tidak peduli dan terus berjalan.
Pelayan yang telah mereka lukai kembali memandang mereka. Setelah tidak ada, dia bergegas masuk ke dalam.
“Tuan! Aku telah mendapatkan informasi penting.”
“Katakan!”
Wanita itu sedikit takut setelah melihat majikannya berekspresi seperti itu. Olehnya dia dengan hati-hati berbicara. “Tuan, aku mendapatkan informasi penting untuk melawan tuan putri.”
“Apa itu.” Chao Yong tertarik.
Melihatnya, wanita itu kemudian berbisik-bisik di telinga Cao Yong. Ekspresi Cao Yong yang marah, perlahan-lahan di gantikan senyuman jahat.
“Apa kau tidak berbohong?”
“Tuan, di sini saya sebagai pelayan anda, bagaimana bisa saya berbohong tentang itu, dan lagi pula saya membenci tuan putri ****** itu.”
...----------------...
...----------------...
Sepanjang hari, Tuan putri belajar di rumah Xionglue dan ketika malam, dia akan belajar bersama Yan Lin. Kemudian gadis itu berkembang cepat, tangannya tidak bergetar saat menulis, tidak pula kaku dan sulit melakukannya, sebaliknya itu sudah sangat lembut dan memiliki goresan yang indah, dan tentu saja dia tidak akan bisa menyamai gurunya itu.
Sementara dia belajar menggunakan tongkat besi, dia telah mampu menguasai beberapa gerakan dan telah siap bertempur layaknya sebagai prajurit. Tapi itu belum cukup di dunia ini yang penuh keajaiban.
Awan-awan tipis berwarna keemasan yang di terangi cahaya matahari sore membuat hati orang bergembira menikmatinya.
Xuan Yi berjalan dengan gaun merah muda. Dia menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Jia Li tidak datang menjemputnya, karena ada suatu urusan penting. Karena Xuan Yi sudah mampu menjaga diri, dia berjalan pulang sendiri tidak apa-apa.
Ketika telah tiba di gang sepi, dia merasakan seseorang telah mengawasinya.
__ADS_1
Xuan Yi tersenyum. Jika ada orang yang datang, dia akan tetap baik-baik saja. Dan benar, setelah dia berhenti, segera 10 orang berpakaian hitam muncul dari belakang kedua sisi gang. Wajah mereka tertutup kain dan telah siap untuk menyerang.
Xuan Yi memandang mereka dengan tatapan tajam.