
Pagi sekali Xuan bangun. Dia kemudian mandi dan menyapa Jia Li yang ada di taman. Membantunya beberapa saat, lalu pergi untuk sarapan.
Tapi berhenti di salah satu ruangan ketika dia mendengar suara jeritan seseorang. Dia tahu siapa yang memilikinya. Mengutip dari celah pintu, Mingyue duduk di meja. Di atas meja berserakan anak panah dengan berbagai ukuran. Bau racun menyengat keluar dari ruangan itu.
Mingyue mengangkat anak panah yang belum selesai. Dia kemudian mengambil mata panah berwarna hitam, memutarnya di ujung anak panah itu. Anak panah ini memiliki tiga mata panah, jadi Mingyue memasang tiga mata panah di sana.
Setelahnya, dia menghela nafas, lalu mengambil sebuah kain dan mengelap anak panah itu. Mingyue membuang keringat. Dan dia mengambil busur lalu meletakkan anak panah tadi di sana, kemudian menariknya. Lalu mencoba untuk membidik vas bunga yang ada di ujung ruangan.
Bibir pucat yang merah miliknya tersenyum lebat. “Aku berhasil.”
Dia lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian mengambil batang Bambu berwarna kuning dengan lubang-lubang kecil memenuhinya. Ujungnya ada mata panah berwarna hitam yang terbuat dari besi.
Ketika di angkat, akan terdengar suara kecil dari dalamnya.
Belakang Bambu itu ada beberapa bulu merak dengan ujungnya di ikat benang ke dalam bambu tersebut.
Mingyue mencoba membidik menggunakannya. Dia kemudian menggeleng dan meletakkannya. “Aku memerlukan beberapa hari lagi untuk menyempurnakannya.”
Mingyue kemudian memandang ke arah pintu. “Xuan Yi, kenapa kau berada di sana? Apakah seorang tuan putri harus mengintip di rumahnya sendiri?”
Xuan Yi sedikit terkejut, membuka pintu akhirnya dia menghampiri Mingyue yang berpakaian sederhana.
“Aku takut kau akan menyembunyikan hal ini dariku.”
Mingyue berdiri dan memberi Xuan Yi bambu tadi. “Kau boleh melihatnya.”
Xuan Yi mengambilnya dan melihat berbagai sisi. Setelahnya, dia terkejut jika ada jarum-jarum kecil yang terbuat dari bambu yang sangat kecil memenuhi lubang bambu itu, dan di ikat dengan benang-benang. Posisinya persis menghadap ke luar ke lubang-lubang kecil yang ada di sana. Dia kemudian bertanya heran, “Bagaimana jarum-jarum itu akan terlontar ke luar?”
“Hanya perlu menariknya. Benang-benang ini sangat elastis. Aku hanya perlu menarik bambu kecil yang di ikat benang ini, kemudian melepaskannya. Dalam beberapa jarak, benang ini akan menarik bambu ini dengan keras, ketika menyentuh bambu yang lebih besar, akan terjadi getaran pada benang ini, sehingga membuat dorongan untuk jarum-jarum kecil itu melesat ke luar.”
Mata Xuan Yi cerah. “Itu sangat luar biasa!”
Mingyue mengangguk. “Memang, tapi ini perlu perkembangan lagi.”
Mingyue kemudian meletakkannya dan memandang Xuan Yi lebih dalam. “Aku akan menjadi pelindungmu Xuan, tapi dengan beberapa syarat.”
“Katakan apa itu.”
“Aku memerlukan bantuanmu.”
“Katakan saja.”
“Saat aku berjalan ke sini, aku melihat beberapa anak-anak gelandangan yang hidup tanpa rumah dan orang tua, bisa kau memberi mereka kehidupan yang layak? Selain itu, aku memerlukan undang-undang perlindungan anak jika terjadi hal-hal seperti ini. Ibumu pasti memiliki cara untuk melakukannya. Aku tidak ingin melihat orang-orang hidup sama sepertiku.”
“Aku akan melakukannya, apa itu saja?”
“Aku juga melihat adanya beberapa kelompok orang yang menculik anak-anak itu secara terang-terangan tapi tidak ada yang peduli dengan nasib mereka. Mereka di culik di jadikan pekerja dan di jual. Aku ingin membebaskan mereka.”
Xuan Yi berbalik melangkah ke arah pintu. “Aku akan melakukannya, tapi kau harus mengingat apa yang kau katakan hari ini.”
“Aku mengingatnya.”
Pintu pun tertutup dan Mingyue melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
...----------------...
...----------------...
Sementara itu, Xuan Yi kemudian pergi untuk sarapan. Ibunya telah ada di sana dan makan sejak tadi. Xuan Yi ingin bertanya apakah boleh memberi Mingyue makanan, tapi dia mengurungkannya ketika mengingat bagaimana sibuknya gadis itu hari ini. Dia tidak ingin mengganggunya lagi.
Setelah makan, tiba-tiba Su Jiao bertanya kepada Xuan Yi, yang membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk berdiri. “Apa kau telah mengenalnya?”
Setelah berpikir sejenak, Xuan Yi teringat dengan apa yang di perintahkan ibunya, dia kemudian mengangguk. “Sudah ibu, gadis itu sangat bertalenta. Aku akan belajar berbagai hal tentangnya, terutama tentang senjata.”
“Bagaimana kepribadiannya?”
“Lumayan baik. Tapi dia ingin kau mewujudkan sesuatu untuknya agar bersedia menjadi pelayanku.”
“Katakan saja.”
Xuan Yi mengatakan semuanya dengan singkat dan jelas.
Su Jiao kemudian berdiri. Setelah berpikir beberapa saat, dia menjawabnya, “Aku akan melakukannya.” Dia kemudian berbalik. “Oh iya, sebentar lagi kita kedatangan tamu.”
“Siapa dia?” Xuan Yi bertanya penasaran.
“Kau akan melihatnya nanti.” Su Jiao kemudian pergi tanpa mengatakannya.
“Ibu, beberapa hari aku akan pergi.”
“Pergi saja.”
Ibunya tidak ingin mengetahui lebih dalam ke mana Xuan Yi pergi dan beberapa lama, itu membuat Xuan Yi bertanya-tanya, kemudian menghentikannya.
...----------------...
...----------------...
Ying Sha menatap pemandangan desa beberapa saat sebelum menutupnya kembali.
Beberapa saat kemudian, kereta kuda berhenti. Dan Ying Sha berjalan keluar.
Dia akhirnya mengunjungi rumah anaknya setelah beberapa tahun tidak bertemu. Rasa-rasanya sangat indah ketika mengunjungi dan melihat pemandangan megah di depannya. Selain itu, dia juga bertanya-tanya, bagaimana keadaan cucunya sekarang, apakah sudah bertambah besar dan seberapa cantik dia sekarang?
Serta, dia juga mengingat bagaimana keras kepala anaknya ketika di undang pulang ke istana. Anaknya sangat keras kepala, meski sudah beberapa kali di bujuk, dia tetap dengan pendiriannya.
“Dasar kepala batu.”
Tapi Ying Sha maklum dengan apa yang di putuskan wanita dewasa itu. Istana yang sebelumnya sebagai rumah tempatnya untuk pulang perlahan-lahan menjadi sesuatu yang mengerikan bagaikan neraka yang tidak mau dia kunjungi.
“Yang mulia, kita telah sampai,” Kata gadis pelayan yang bersamanya.
“Ayo kita masuk.”
Gadis pelayan itu mengangguk kemudian mengikuti dari belakang.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
Su Jiao telah mendengar suara dari kereta kuda yang datang, dia kemudian menutup bukunya.
Tidak lama kemudian seorang pelayan datang melaporkannya.
“Aku akan datang menyambutnya.”
Su Jiao beranjak berdiri kemudian berjalan pergi.
Setelah tiba di ruangan tamu, Ying Sha dengan pakaian hijau duduk. Tidak ada ekspresi senang ataupun sedih di wajahnya.
Su Jiao kemudian menghampirinya. Dia menuangkan teh kepada ibu dan dirinya, lalu duduk di sampingnya.
Ying Sha meminum sedikit tehnya. “Bagaimana kabarmu?”
Seperti biasa, ibunya sangat dingin dan berbicara menjaga jarak, selain itu dia berkata seolah kepada bawahannya.
“Jiao,er sangat sehat dan bahagia tinggal di sini. Dan ibu, bagaimana kabarmu?”
“Tidak buruk. Tapi akhir-akhir ini ayahmu sangat takut dengan ancaman kekaisaran Wei. Sikapnya itu membuatku pusing menenangkannya.”
“Ayah memang seperti itu. Menjaga setiap jengkal dan mempertahankannya adalah kewajibannya sebagai kaisar.”
“Kau benar, tapi jika pikirannya terus-menerus di hantui rasa takut, aku takut dia tidak bisa mengambil keputusan yang benar.”
“Jiao,er, kau tahu, pikiran adalah sesuatu yang paling mengerikan di dunia ini.”
“Ibu pernah mengatakannya. Hanya pikiran yang mampu menghancurkan atau menenangkan seseorang.”
Ying Sha kemudian meminum lagi. “Lupakan saja. Biarkan permaisuri yang mengatasinya. Sekarang aku ingin tahu di mana cucuku.”
“Dia tidak ada di sini.”
“Jangan menipuku Jiao,er, kau tidak akan bisa melakukannya.”
“Sekarang kau mencarinya ketika sudah besar, tapi saat aku melahirkannya, kau tidak ada. Ibu, kau mengatakan untuk melahirkan bayi ini dan mengatakan tidak baik jika membunuhnya. Itu adalah anugerah dari langit yang harus di syukuri. Tapi kau tidak ada ketika aku melahirkan.”
“Kau salah, sudah aku katakan, aku akan membantumu. Ketika kau makan setiap hari, aku telah mencampuri berbagai gizi dan pil agar bayi dan proses kelahirannya tidak terganggu. Apa yang kau katakan padanya?”
“Aku menyelamatkan reputasimu. Aku tahu kau memang membantuku, bukan memang seharusnya begitu.”
“Apa bantuanku tidak cukup bagimu?”
Su Jiao kemudian meminum tehnya beberapa saat. “Aku hanya ingin mengetahui sikapmu.”
“Kau aneh.”
“Aku memang begitu.”
Mereka kemudian terdiam setelah mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Ternyata, itu adalah Su Xuan Yi dan Mingyue.
Di punggung mereka telah ada gumpalan kain dengan berbagai barang. Gumpalan kain milik Mingyue lebih besar dari pada Xuan Yi, yang menandakan jika dia membawa barang-barang yang lebih banyak.
__ADS_1
Mereka kemudian memberi hormat. Xuan Yi lalu membuka mulutnya, “Maaf mengganggu waktu ibu dan nenek.” Xuan Yi kemudian menatap ibunya. “Ibu, aku ingin pergi sekarang. Kami tidak punya banyak waktu.”