
Ketika mereka berjalan pulang, Jia Li datang dengan tergesa-gesa. Dia memberi hormat kepada Xuan Yi dan Xionglue. “Maaf tuan putri, master. Ada beberapa masalah yang harus saya selesaikan terlebih dahulu.”
“Tidak apa bibi, aku baik-baik saja.”
“Tuan putri harus di jaga lebih ketat. Siapkan seorang pendekar untuk menjaganya,” ucap Xionglue dengan dingin.
“Baik, saya akan mempersiapkannya.”
Meski Jia Li telah datang, Xionglue tetap mengantarkan Xuan Yi pulang. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan gadis itu.
Setelah mencapai gerbang rumah, Xionglue pergi. Dia telah di tawarkan untuk masuk oleh Xuan Yi dan Jia Li, tapi dia menolaknya.
Sekali lagi, Jia Li meminta maaf dan bersimpuh di depan Xuan Yi. “Maafkan saya Tuan putri, saya tidak bermaksud terlambat menjemput anda.”
“Bibi, kenapa kau harus bersimpuh seperti itu?” Xuan Yi memegang kedua bahu Jia Li dan mengajaknya berdiri.
Setelah berdiri, dia melanjutkan, “Aku tahu bibi sedang sibuk, jadi terlambat mencariku. Bibi tidak perlu meminta maaf, lihatlah, aku kembali selamat tanpa ada luka sedikit pun. Dan lagi pula siapa yang berani dengan putri ini?”
“Tuan putri, anda sangat baik. Bibi tidak akan mengulanginya lagi.”
“sekarang aku ingin tidur, bibi bisa beristirahat.”
Jia Li mengangguk dan memberi hormat kemudian pergi.
Setelah Jia Li pergi, Xuan Yi kemudian pergi mencari ibunya. Dia bertanya kepada setiap orang yang di temuinya. Mereka mengatakan, Ibunya sekarang sangat sibuk, mungkin tengah malam akan pulang.
Mengetahui tidak akan bertemu ibunya, dia memutuskan untuk tidur di kamarnya. Xuan Yi ingin bertemu ibunya, hanya sekedar untuk bercakap-cakap mengenai apa yang telah dia pelajari hari ini dan mengajak Ibunya untuk mengajarinya besok.
Di dalam kamar, ada beberapa lilin yang hidup, Xuan Yi meniup semuanya dan kemudian tidur.
...----------------...
...----------------...
Tepat tengah malam, Akhirnya Su Jiao kembali pulang. Dia di kawal oleh beberapa dayang. Tubuhnya saat ini terasa sangat kelelahan.
__ADS_1
Tidak jauh dari sana, ada beberapa meja dan kursi kecil untuk duduk, dia memutuskan untuk duduk di sana dan memerintahkan pengawalnya untuk pergi.
Para pengawalnya enggan untuk pergi setelah melihat wajah Sang putri pucat, tapi mendengar nada tegasnya, mereka tidak punya pilihan lain.
Setelah mereka pergi, Su Jiao meletakkan kepalanya di atas meja dan melentangkan satu tangannya. Dia menikmati ketika kulitnya menyentuh permukaan meja yang dingin. Dia perlahan-lahan menutup mata dan tertidur.
Sepanjang hari ini, dia sangat sibuk. Setelah melakukan pertemuan dengan para tabib, dan mengusulkan rencananya, ternyata ada beberapa masalah terhadap usulan itu.
Pertama, bahan-bahan yang dia usulkan untuk menggantikan bahan yang sebenarnya, sulit untuk di temukan dan tidak ada di kekaisaran Su, di provinsi mana pun. Jika membelinya di wilayah negara lain, tentu saja akan sangat mahal, mengingat pajak yang akan di tanggung. Oleh karena itu, Su Jiao kemudian pergi ke tempat Xionglue.
Dia mengenal wanita itu bertahun-tahun dan telah memecah berbagai masalahnya. Dengan pengetahuannya, dia harap akan mendapatkan solusi.
Saat itu, dia mengisyaratkan Xionglue untuk tidak memberitahu anaknya terkait kehadirannya.
Mereka kemudian berjalan-jalan. Su Jiao langsung mengutarakan niatnya, “Kau tahu di mana tempat untuk membeli bahan-bahan ini?” dia langsung mengeluarkan daftar dan menyerahkannya.
Suara Su Jiao terkikis di antara orang-orang lewat dan berteriak-teriak. Siang itu suasana desa gunung hijau sangat ramai. Terlihat beberapa titik orang-orang saling bercakap-cakap dan bermain-main. Anak-anak akan berlarian memainkan baling-baling yang terbuat dari kertas. Para pedagang mulai mempromosikan produknya.
Su Jiao tidak akan pernah di ketahui oleh rakyatnya, karena dia selalu pergi dengan menyamar. Dengan tingkat kultivasinya sekarang, dia dapat dengan mudah menipu orang-orang. Namun jika itu seorang pendekar, maka itu akan menjadi masalah untuknya.
“Xionglue, kau sangat baik menyembunyikan hal seperti ini dariku, tapi terima kasih tentang informasi penting ini. Jika aku mengetahuinya lebih awal, maka kau akan merasakan bagaimana rasanya tidur dalam jeruji besi.”
Xionglue tetap tenang mendengar ancaman itu. “Yang mulia, aku akan mengawalmu ke sana.”
“Tidak perlu, ada orang lain yang akan mengawalku. Kau hanya perlu menjaga anakku saat ini. Xionglue, ingat, jika terjadi apa-apa dengannya, aku bisa mengangkat pedangku untuk membunuhmu.”
Acaman sekarang mampu membuat Xionglue takut. Putri dari kekaisaran Su adalah salah satu orang terhebat yang pernah ada, meski dia tidak pernah memegang pedang, bukan berarti dia tidak bisa melakukannya.
Xionglue berkata dengan suara tenang, “Anda bisa mempercayaiku.”
“Aku pergi dulu.”
Xionglue menundukkan kepala dan mengepalkan kedua tangannya ke depan.
Setelah itu, kereta kuda di persiapkan untuknya dan seorang pemuda yang telah dia selamatkan beberapa hari sebelumnya menjadi kusir. Su Jiao memerintahkan untuk pergi ke provinsi bagian selatan.
__ADS_1
Perjalanan mereka tidak berjalan dengan baik; setelah berjalan beberapa jam, 20 orang berpakaian hitam muncul dari semak-semak. Mereka seperti ninja menyergap musuhnya.
Tapi sayangnya seorang pemuda yang menjadi kusir tidak terlihat takut sama sekali. Dia menatap dua puluh orang itu dengan dingin. “Semenjak aku berpetualang bertahun-tahun, aku selalu melihat adegan yang sama.” Dia mengambil pedang yang telah dibawanya dari dalam kereta.
Ketika pedang itu telah keluar, dia berkata dengan tenang, “Pedangku sangat haus darah. Bertahun-tahun pedang ini telah merasakan berbagai macam darah. Jika darah kalian tidak mau di rasakan olehnya biarkan kami lewat.”
Dua puluh orang itu tidak menghiraukan kata-kata pemuda itu; mereka langsung berlari dan secara bersamaan melompat. Di udara mereka mengarahkan senjatanya.
Pemuda itu tersenyum dingin.
Salah satu orang mendarat dan mengayunkan pedang ke arah pemuda itu. Namun sayang sekali, pemuda itu menghilang dengan cepat. Kemudian tiba-tiba darah keluar dari dada pria itu, lalu satu tusukan tiba-tiba muncul dan menembus jantung. Dan pria itu terbunuh.
Kemudian kilatan putih muncul mengelilingi sisa-sisa orang-orang di udara. Kemudian mereka tiba-tiba terjatuh dan darah mulai mengalir. Kilatan itu sangat cepat, dan saat melintas, teriakan-teriakan orang-orang terdengar.
Pemuda itu kembali muncul di tempat yang sama dan memandang mayat-mayat itu dengan dingin.
“Kau memiliki tingkat kultivasi yang lumayan tinggi.” Suara Su Jiao terdengar dingin dari dalam.
Pemuda itu duduk kembali. “Mereka yang sangat lemah.” Dia kemudian memacu kudanya kemudian pergi dari sana.
Ketika malam tiba, mereka akhirnya tiba di sebuah pondok dengan pohon willow yang ada di kedua sisi gerbang. Tidak ada yang menarik dari rumah itu. Kedua lampion berwarna merah tergantung di pohon itu. Begitulah markas besar kongsi dagang Teratai. Su Jiao berjalan dengan anggun dan membuka pintu.
Ketika itu, suasana sepi muncul di halaman rumah, hanya ada satu orang wanita yang sedang menyapu di halaman. Dia langsung menghampiri Su Jiao, “Selamat malam nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Kau tidak perlu bertanya seperti itu.” Ujar pemuda yang ada di samping Su Jiao.
Wanita itu bingung dan bertanya, “Apa maksudmu?”
“Kami ingin membeli barang-barang sekarang. Kau tidak perlu berpura-pura seperti itu.”
Wanita itu mengernyitkan dahi. “Jika kau ingin membeli sesuatu, bukan di sini tempatnya.”
Su Jiao sangat bosan dengan kebohongan ini, dia kemudian berjalan mendekati pintu.
Melihat itu, wanita berjalan dengan ekspresi panik. Dia memegang erat sapu yang ada di tangannya. Perlahan-lahan memutarnya, dan dengan cepat menariknya. Sebuah pedang muncul dari sana. Dia kemudian berseru, “Jika kau memaksa masuk, maka kau akan mati!”
__ADS_1