Two Sky Poems

Two Sky Poems
Keributan di sebuah kedai


__ADS_3

Xuan Yi tersenyum saat mendengarnya, dia lalu melompat turun dan menancapkan tongkat di tanah, lalu duduk bersama Mingyue. Sementara Mingyue tidak terpengaruh dengan gerakan Xuan Yi; dia tetap fokus dengan pekerjanya itu. Hingga akhirnya dia memasukkan kembali semua alat-alat yang akan di gunakan ke dalam kain yang di bawanya. Setelahnya berdiri dan berkata, “aku sudah selesai, bagaimana denganmu tuan putri?”


Xuan Yi berdiri lalu mengambil tongkatnya kemudian meletakkan di belakang punggung. “Aku juga.”


Mereka kemudian pergi ke salah satu tempat yang akan di gunakan untuk menyusun rencana. Tapi sebelum mereka melakukannya, mereka berdiam di salah satu kedai yang ada di sana. Mereka hanya memesan dua cangkir teh dan buah-buahan yang telah di potong.


Mingyue dan Xuan Yi meletakkan semua barang-barang mereka di bawah meja.


Ketika mereka masuk dan mulai makan, orang-orang memandang mereka dengan ekspresi tajam dan memiliki niat buruk.


Jauh di ujung, lima orang gemuk dan gagah memandang dengan ekspresi yang sangat tajam. Saat Mingyue dan Xuan Yi melintas mereka telah memegang golok besar yang di bawanya.


Setelah melihat Xuan Yi duduk, mereka tersenyum jahat kemudian berdiri dan pelan-pelan mendekati meja Xuan Yi.


Xuan Yi dan Mingyue menyadari hal itu, tapi mereka bersikap seolah tidak melihat mereka dan tetap menikmati rasa yang ada di dalam teh.


Seorang pria kekar berjalan paling depan. “Nona, Nona,” dia tersenyum jahat. “Maaf mengganggu acara minummu sekarang!!!” saat berkata, dia mengeluarkan golok panjang dari punggungnya dan menebas meja Xuan Yi, menyebabkan meja itu terbelah menjadi dua. Secara otomatis peristiwa itu menjadi perhatian semua orang.


Para pelayan merasa takut dengan kejadian itu. Mereka sangat tidak berharap akan terjadi keributan di kedai kecil mereka. Pemilik kedai hanya bisa memusingkan dan berdoa agar tidak terjadi lagi kerusakan seperti itu.


Baik Xuan Yi mau pun Mingyue tidak terpengaruh oleh serangan itu, Mingyue terlihat meminum teh dengan tenang dan memandang kejernihan, serta mencium bau teh yang di pegangnya, sementara Xuan Yi hanya mencium bau teh sembari mata tertutup.


Pria itu merasa di kucilkan, dia lantas mengayunkan goloknya ke arah leher Xuan Yi, tapi tiba-tiba gadis itu berbicara dan membuat golok Pria itu berhenti sangat dekat dengan lehernya.


“Jika kau berani membunuhku, maka kau tidak akan selamat.”


Pria itu kemudian menancapkan goloknya ke lantai.


“Hemp! memangnya siapa kau, berani mengancamku seperti itu!?”


Xuan Yi membuka pelan matanya. Dia kemudian memandang pria gagah di sampingnya. Meski memiliki tubuh yang kekar, Xuan Yi tidak merasa takut dengan pria itu.


“Apa kau tahu mengapa orang-orang harus merasa takut jika orang berkata seperti itu?”


“Jangan membuatku marah gadis kecil!!” pria itu kemudian menarik golok dan mengayunkan ke arah Xuan Yi.

__ADS_1


Xuan Yi mengeluarkan mata panah dari gaunnya, kemudian melemparkan ke arah pria itu.


Tang!!!!


Mata panah itu berhasil terblokir, tapi itu berhasil mengenai sedikit pipi Pria itu, kemudian membuatnya mengeluarkan darah.


Selain itu, Xuan Yi kemudian melompat mundur bersama tongkatnya kemudian tersenyum penuh kemenangan.


“Kau telah kalah.”


“kalah? Hemph! Biarkan aku menunjukkan apa itu kekalahan!”


Pria itu kemudian berjalan mendekati Xuan Yi, tapi tiba-tiba di hentikan oleh Mingyue.


“Tuan, anda telah kalah, jangan banyak bergerak, jika anda tidak ingin cepat mati.”


“Apa yang kau maksud?” mengerutkan kening, pria itu bertanya.


Mingyue kemudian berdiri, dia lalu mengambil dua gumpalan kain yang di bawanya, lalu menyerahkan satu untuk Xuan Yi, lalu memandang pria itu. “Jika kau masih hidup ketika kami pergi, maka langit masih menginginkanmu, jika tidak, itu adalah takdir yang harus kau terima. Datang keluar, jika kau masih hidup, maka aku akan memberimu harta yang banyak.”


Lima orang yang bersamanya menarik pedang dan segera ingin menyerang Xuan Yi, tetapi saat Xuan Yi menancapkan tongkat ke lantai, mereka tiba-tiba berhenti dan merasakan ketakutan yang luar biasa. Tiba-tiba aura yang mencekam muncul dari tubuh gadis itu, membuat mereka tidak berani melangkah.


Xuan Yi dan Mingyue kemudian ke luar.


“Apa hanya karena dua anak kecil kalian takut!? Cepat! Serang mereka!”


Pria kekar berteriak, tapi semua orang tidak berani melangkah, bahkan satu langkah. Pria itu marah, dia kemudian berjalan ke luar. “Kalian sampah!”


Saat melangkah beberapa langkah, dia merasa pusing dan kehilangan kendali atas tubuhnya, lalu terjatuh.


Salah satu rekannya berlari dan memeriksanya. Ketika tidak terasa hembusan dari dua lubang hidungnya, dia terperanjat berdiri. “M-mati!”


Semua orang terkejut mendengarnya.


“Tuan tidak mungkin mati!”

__ADS_1


Rekan-rekannya mulai memeriksa dam hasilnya sama, pria itu sudah mati.


Keributan mulai menghiasi kedai. Mereka memikirkan dan membicarakan siapa dua gadis yang sebelumnya datang. Tapi tidak untuk seorang gadis yang ada di ujung ruangan. Dia tetap menikmati makanan yang di pesannya.


Setelah beberapa saat dia memandang orang-orang dan bergumam, “Suasana makan siangku di ganggu oleh orang-orang bodoh. Menyebalkan."


...----------------...


...----------------...


Sementara di luar, Xuan Yi dan Mingyue duduk. Mereka terdiam menunggu seseorang yang akan keluar dari kedai tersebut.


Mingyue bertanya pelan, “Apakah benar dia orangnya?”


Xuan Yi mengangguk, “benar.”


Tidak beberapa lama mereka berbicara, seorang gadis kecil dengan kedua rambutnya di kepang perlahan-lahan membuka pintu kedai. Dia seperti seorang dara berwarna putih dengan bulu-bulu halus. Wajahnya yang berwarna kuning Langsat, tidak terlalu mencolok, tapi itulah yang membuatnya sangat cantik dan berseri-seri. Poni datar berwarna hitam yang menghiasi dahinya, yang nyaris menutupi seluruh dahinya, membuat dia seperti seorang gadis yang polos. Kedua matanya cerah berwarna biru langit, memberikan perasaan segar saat orang-orang melihatnya.


Lehernya sedikit panjang, tapi sangat ramping, yang nyaris tanpa noda sedikit pun, di sana ada kalung perak dengan hiasan jantung kecil.


Dia tersenyum ketika melihat Xuan Yi dan Mingyue berada di bawah pohon dekat sana. Setelahnya berlari mendekati dua orang itu.


Kakinya yang mungil dan panjang, akan selalu menjadi daya tarik seseorang saat melihatnya.


“Apa kalian menungguku?”


Xuan Yi mengangguk. “Lalu siapa lagi jika bukan dirimu?”


“Tuan putri, apa rencana yang akan kau jalankan? Aku sudah siap menjalaninya. Tapi anda harus memberikanku imbalan yang cukup untuk semua itu, karena aku sangat memerlukannya. Anda mestinya tahu jika apa yang aku inginkan tidak tercapai bukan? Tidak hanya anda, bahkan semua orang yang dekat dengan anda akan menghilang. Tadi, di dalam orang-orang sangat mengganggu, jadi aku menghukum mereka karena telah mengganggu makan siangku. Untungnya anda memberi surat kepadaku, jika tidak, anda sekarang akan menjadi bagian dari mereka.”


Gadis itu kemudian perlah-lahan membuka pintu penginapan. Dia tersenyum. “Inilah yang di sebut sebuah seni.”


Mingyue menelan ludah saat melihat ke dalam. Dua kata untuk menggambarkannya, ‘sangat mengerikan’ laki-laki dan tangan-tangan terpotong-potong dan bergelantungan di langit-langit. Puluhan kepala di tumpuk di bawahnya menyerupai gunung. Darah-darah hampir semuanya melapisi dinding dan lantai, beberapa titik terlihat seperti bunga mawar yang Indah.


Mingyue bertanya, sejak kapan itu terjadi? Karena, itu terlalu cepat, bahkan tidak terdengar suara apa pun dari dalam kedai itu. Selain itu, itu di lakukan sangat cepat, hanya beberapa menit saja.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum manis. “Lihat lebih dekat, maka kalian akan mendapatkan sesuatu yang mengagumkan.”


__ADS_2