
Tidak beberapa lama Mingyue merasakan ada seseorang mengawasinya. Tangannya langsung mengambil anak panah dan melepaskannya ke arah di mana dia merasa ada seseorang.
Kemudian terlihat bayangan hitam bergerak-gerak. Mingyue kemudian mengambil satu anak panah lagi. Dia mengernyitkan dahi dan mulai membidik sambil mengikuti pergerakan bayangan itu.
Setelah merasa tepat dia membidiknya. Tapi tidak mengenainya. Bayangan itu bergerak-gerak lagi dalam kegelapan malam.
Mingyue hendak mengambil anak panah, namun tiba-tiba sebuah pisau melesat dengan kecepatan tinggi, yang bahkan Mingyue sulit mengikuti gerakannya.
Dia mencoba menghindar, tapi bahunya tergores.
Sebuah pisau lagi-lagi melesat dari arah lainnya.
Mingyue secepat mungkin menghindarinya. Hampir saja pisau itu mengenainya.
Dia kemudian berusaha berdiri setelah terjatuh. Menggapai anak panah yang telah berserakan di tanah. Menarik senar dan ingin membidik. Namun, sebuah pisau telah berada di lehernya. Orang yang mengawasinya telah berada di belakangnya.
Ketika ingin mengakhiri hidup Mingyue, dia tiba-tiba menjauhkan pisau itu. Mingyue langsung mengambil pisau dan menarik tangan orang itu, kemudian menendangnya hingga tersungkur ke tanah.
“Orang itu mati?”
Orang berpakaian hitam itu tubuhnya telah tertusuk. Darah mengalir dari lubang di dadanya.
“Aku membunuhnya.”
Tiba-tiba Su Jiao berbicara dan berjalan.
“Kenapa kau membunuhnya?”
“Aku seharusnya lebih baik mati di tangannya. Kau seharusnya membiarkannya. Bukankah aku adalah orang yang mencoba membunuhmu? Bukankah aku orang yang pantas untuk mati?”
“Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Orang yang menyayangiku telah kau bunuh. Alasan untukku ada sudah tidak ada lagi. Kau telah menghancurkan semua hal yang telah aku miliki dalam satu hari. Kau layak di sebut penjahat dari pada yang mulia tuan putri.”
Mingyue kemudian memungut semua anak panah yang berserakan. Ketika mengambil anak panah terakhir, dia menggenggamnya sangat erat, lalu menghela nafas dan memandang langit.
Mingyue mengingat-ingat apa yang pernah di katakan oleh pamannya itu. Dia pernah berkata, “Memiliki sesuatu yang berarti inti dari hidupku. Aku menyukai pekerjaanku, dan kau harus memilikinya suatu saat nanti.”
__ADS_1
“Aku sudah memilikinya, paman Chao, aku memiliki paman, dan membahagiakan paman adalah sesuatu yang harus aku perjuangkan.”
Mingyue kemudian memandang Su Jiao. “Karena aku hanya memilikinya di dunia ini. Jika tanpa dia, aku telah kehilangan semuanya.”
Su Jiao tidak membantah. Dia kemudian memegang tangan gadis itu dengan pelan dan menuntutnya pergi. Tapi Mingyue tidak mau dan menarik tangannya.
Sebelum Mingyue berkata Su Jiao langsung memegang tangannya lebih erat dan menariknya dengan paksa.
Su Jiao kemudian duduk di depan halaman rumahnya. Dia kemudian menariknya untuk duduk. Mingyue sebenarnya tidak mau, akan tetapi kekuatan Su Jiao sangat kuat untuknya.
Su Jiao kemudian mengambil kain panjang berwarna putih dari balik bajunya. Dia kemudian mengangkat tangan Mingyue dan meperban luka di bahunya.
“Yue, er, pernahkah kamu melihat ayah dan ibumu?”
“Untuk apa bertanya seperti itu?” jawab Mingyue acuh tak acuh.
“Aku sudah mencari informasi tentangmu. Kamu tidak perlu bersikap seperti ini. Yue’er.”
“Jangan panggil aku seperti itu! Hanya paman Chao yang boleh memanggilku seperti itu.”
“Pernahkah orang-orang memanggilmu dengan sebutan itu?”
Ming kemudian memandang Su Jiao. “Apakah kau tahu di mana ayah dan ibuku?”
“Tidak.”
Mingyue kecewa. “Kau mengatakan sudah mencari informasi tentangku.”
“Aku tidak mendapatkan informasi tentang kedua orang tuamu.”
Sambil mereka berbicara akhirnya Su Jiao selesai mengikat perbannya.
Mingyue memandang luka yang telah di perban dan sedikit tersenyum. Selama ini tidak ada yang memperhatikannya hingga seperti ini, kecuali paman Chao yang telah tiada. Dia kemudian memandang Su Jiao dan bertanya-tanya, mengapa dia melakukannya? Apakah dia salah selama ini? Mungkin saja ini adalah trik yang di lakukan olehnya untuk mendapatkan sesuatu, tapi aku merasa ini benar-benar tulus, jika bukan seperti itu, apa yang di inginkannya?
“Apa kau mengingat ibumu?”
Mingyue menggeleng. “Tidak, Ming tidak mengingatnya. Kecuali satu percakapan yang entah dari mana. Aku merasa di peluk dan punggungku terasa basah. Aku mendengar suara tangisan seorang wanita. Wanita itu kemudian mencium keningku sambil menguatkanku untuk berjuang. Setelahnya dia mengusap kepalaku dan pergi. Aku hanya bisa merasakan dan mengingat sedikit kejadian itu. Apakah dia adalah orang tuaku?”
__ADS_1
“Selama ini aku di hantu rasa penasaran dengan sosok abu-abu itu, hingga sekarang juga aku masih penasaran.”
“Jika kau ingin memiliki seorang ibu, kau bisa menganggapku sebagai ibumu.”
“Tidak akan pernah! Kau pasti memiliki rencana lain untuk melakukan ini.”
“Rencana apa?”
“Aku tidak tahu, tapi aku yakin itu ada.”
Mingyue kemudian berdiri. Dia pergi setelah mengambil anak panah dan busurnya.
...----------------...
...----------------...
Malam semakin larut dan angin berhembus pelan, tapi semakin dingin. Bulan beberapa kali di lintasi awan-awan dan bintang-bintang tetap bersinar terang di angkasa sana. Sebuah keindahan yang tidak pernah akan di gapai oleh seorang pun.
Jendela perpustakaan terbuka dan dari sana terdengar suara angin, burung-burung, serta orang-orang yang entah berada di mana.
Xuan Yi duduk tenang membaca sebuah buku.
Lilin-lilin beberapa masih hidup dan ada beberapa yang mati karena tertiup angin atau memang sudah habis.
Xuan Yi tidak pernah memperhatikan lilin-lilin itu, dia terlalu fokus membaca buku dan tanpa sadar melewati hari begitu cepat.
Selama dia membaca, dia akhirnya mengetahui berbagai sejarah, tempat-tempat penting dan berbagai peristiwa yang mengubah dunia ini. Selain itu, dia mengetahui adanya sebuah kekuatan bawaan yang di miliki manusia untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dan menjadikannya manusia super yang memiliki kekuatan. Mampu menghancurkan batu besar, berlari cepat, menghancurkan pohon hanya dengan melihatnya dan masih banyak lagi hal-hal menakjubkan yang di bacanya. Membaca itu, membuat Xuan Yi sangat bersemangat untuk menjelajah dunia luar yang penuh keajaiban.
Selama dia membaca, dia mengetahui jika ada beberapa tradisi pemujaan dan beberapa asal usul Sekte yang sekarang berdiri di kekaisaran. Menurut buku yang di bacanya, ada satu kisah yang menyebabkan daerah utara tempat suku barbar gersang dan sulit mendapatkan sumber daya. Dahulu kala katanya tempat itu sangat subur, namun karena orang-orang terlalu senang dan mengabaikan tradisi pemujaan kepada Dewi kesuburan, akhirnya tanah mereka di kutuk hingga menjadi gersang seperti sekarang, dan akan di kembalikan jika sudah pada waktunya. Oleh karena itu tanah itu menjadi gersang, entah di lakukan atau tidak, suku-suku itu terus memohon pengampunan dan melakukan tradisi seperti semula yang di lakukan leluhur mereka.
Untuk tiga sekte, katanya ada tiga orang jenius yang muncul, mereka menciptakan berbagai teknik bela diri dan membuat kemajuan yang sangat besar. Mereka di sebut-sebut sebagai anugerah dari langit yang tiada bandingnya. Oleh sebab itu setiap sekte memiliki ciri khas sama seperti Pendiri mereka.
Xuan Yi kemudian menutup buku. Satu lilin kembali padam. Dia kemudian memandang buku yang di berikan ibunya. Dia sama sekali belum paham isi buku itu dan ketika membukanya dia bingung dengan isinya yang kosong serta membuatnya terasa berada di daerah lain.
Tiba-tiba ingatan tentang wanita asing yang di temuinya ketika melakukan ujian masuk sekte kembali muncul. Siapa wanita itu?
Xuan Yi tidak pusing-pusing memikirkanya. Dia hendak membuka buku itu, tapi sepasang mata jernih terlihat dari pintu.
__ADS_1
Dalam sekejap Xuan Yi berada di depan pintu lalu membukanya.