Two Sky Poems

Two Sky Poems
Orang-orang keluar dari rerimbunan pohon


__ADS_3

Setelah mereka minum, Xionglue mengeluarkan beberapa kertas dan membukanya di atas meja. Secangkir tinta telah di letakkan di sampingnya dan di bawahnya berderet berbagai ukuran kuas untuk membuat kaligrafi.


Xuan Yi memperhatikannya dengan serius di meja seberang.


Xionglue mengambil kuas sedang dan mencelupkannya di dalam tinta beberapa kali, kemudian mulai menggaris di atas kertas. Tangannya memegang kuas seperti memegang sebuah pensil. Karena rambutnya terurai, beberapa helai berjatuhan ketika dia menunduk, namun kemudian di selipkan ke belakang.


Tangannya sangat halus membuat karakter huruf, wajahnya terlihat tenang seperti apa yang dia tulis.


Setelah beberapa saat akhirnya kaligrafinya pun selesai.


“Tuan putri, sekarang anda.”


Xuan Yi mengangguk. Dia kemudian mengambil kertas baru dan membukanya, lalu mengambil kuas dan mencelupkannya.


Ekspresi gadis itu sangat serius.


Dia kemudian menulis dengan pelan-pelan. Gerakan tangannya masih kaku, tapi dia telah memiliki perasaan dalam mengungkapkan tulisannya. Kedua pupil matanya semakin indah ketika dia sedang fokus.


Meski masih kaku, ketika dia memegang sebuah kuas dan mulai menggaris, anak gadis itu telah menjelma menjadi wanita terhormat yang memiliki seni dalam tubuhnya.


Tidak beberapa lama, akhirnya selesai.


Xuan Yi menghela nafas. “Kurang bagus.”


“Itu lebih bagus dari kemarin.”


Xuan Yi menggulung kertas itu. “benar bibi, aku hanya perlu latihan untuk meningkatkannya.”


Mereka kemudian menulis terus menerus tanpa mempedulikan matahari terus meninggi.


...----------------...


...----------------...


Wanita muda yang telah berumur 30 ke atas itu telah berdiri menatap semua orang-orang dari dua empat puluh kabupaten yang tidak mau membayar pajak. Mereka semua adalah para Bupati dari masing-masing kabupaten.


Dengan pakaian putih yang terus bertiup angin, dia menjelaskan dengan jelas, “Masalah tentang wabah telah di tangani oleh tuan putri. Mengenai korban-korban yang berjatuhan, dalam beberapa hari lagi beberapa tabib akan datang membantu. Untuk vaksin setiap penduduk akan mendapatkannya.”


Wanita itu kemudian menggulung kertas yang dia bawa.


Kemudian orang-orang mulai berbisik-bisik mengenai pengumuman itu. Mereka tentu saja sangat gembira dengan kabar ini, sebentar lagi musibah yang mereka alami akan berlalu.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


Dari balik tirai merah, Su Jiao memandangnya. Dia menarik nafas panjang dan menutupnya. Masalahnya sudah mulai di selesaikan, tapi dia tidak dapat bersikap tenang sebelum semuanya benar-benar selesai.


Tadi pagi, dia mengirim sebuah surat kepada kaisar untuk meminta bantuan. Dia menulis, ‘keseluruhan rakyat lebih berharga dari pada mempersiapkan ancaman dari kekaisaran Wei yang tidak pasti.’ Dan menambahkan, ‘pemerintah harus lebih fokus terhadap masalah rakyatnya dari pada masalah negeri lain.’


Setelahnya, dia pergi ke para tabib dan mengatakan semua bahan telah di proses. Dia bertanya, apakah vaksin yang akan di buat telah terbukti.


Salah satunya menjawab, “Kami telah mengujinya kepada seseorang, dan hasilnya memuaskan.”


Lalu surat yang dia kirim akhirnya mendapatkan balasan dan kaisar menerima usulannya setelah beberapa hari dia mengirim utusannya untuk menanganinya. Kaisar menulis, akan mengirim tambahan tabib untuk merawat orang-orang yang terjangkit wabah.


Su Jiao kini hanya perlu menunggu bahan-bahan yang datang dan membuat vaksin.


Dia kemudian pergi dari sana setelah wanita berpakaian putih tadi datang.


...----------------...


...----------------...


Malamnya, dia akhirnya pulang dan langsung duduk di halaman taman. Seorang pelayan menghidangkan minuman untuknya.


Dia minum sedikit dan menghela nafas. Dia merasa sangat kelelahan hari ini. Pikirannya terus berputar untuk menangani ini.


Setelah beberapa saat, dia menaruh kepalanya kemudian tertidur lelap.


...----------------...


...----------------...


Xuan Yi menggeleng melihat ibunya lagi-lagi tertidur seperti itu, dan anehnya tidak ada orang yang berani menyelimutinya, padahal banyak sekali para prajurit yang berjaga di depan.


Anak gadis itu kemudian masuk ke dalam kamarnya mengambil selimut, kemudian pergi ke taman untuk menyelimutinya. Ketika melakukannya, Su Jiao membuka matanya. Jiwanya masih tidak sepenuhnya sadar. Sehingga Xuan Yi menyelimutinya perlahan-lahan sambil berkata pelan, “Tidurlah, tidur dengan nyenyak, ibu.”


Su Jiao kembali menutup mata dan hembusan nafasnya kembali seperti sebelumnya.


Xuan Yi kemudian pergi dari sana.


Jauh di bawah atap rumah, Jia Li melihat Xuan Yi menyelimuti Su Jiao. Dia telah membawa selimut untuk Su Jiao, tapi melihat gadis itu terlebih dahulu, dia memilih menontonnya.


Ketika tidak ada Xuan Yi, maka Jia Li yang selalu melakukannya, tapi setelah kedatangan anak gadis itu, dia tidak perlu lagi mengkhawatirkan Su Jiao.


Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Xuan Yi tiba di pinggir danau.


Pemuda yang kemarin dia lihat sedang duduk di atas batu di pinggir danau. Kedua tangannya mengelap-ngelap bilah pedang dengan kain putih.


Xuan Yi gembira dan mendekatinya.


Ketika gadis itu sudah dekat, pemuda itu kemudian melompat.


“Latihan seperti apa yang akan kau beri untukku sekarang?” Xuan Yi antusias bertanya.


Pemuda itu kemudian melompat lagi ke atas batu. Hanya dengan satu langkah, dia sudah berada di atas batu. Tentu saja itu adalah kemampuan yang sepele, tapi bagi gadis itu, kemampuan itu sangat keren dan mengagumkan.


Pemuda itu kemudian dengan tajam memandang Xuan Yi. “Aku akan memberikanmu sebuah jurus.”


“Jurus apa? T-tunggu, apakah aku bisa melakukannya dengan tongkat?”


Pemuda itu mengangguk. Dia kemudian mengangkat satu kaki kanannya, sementara tangan yang memegang pedang di luruskan. Tatapannya memandang ke arah ujung pedang. Ketika menatap ke depan, di ayunkan pedangnya ke samping dan kakinya sudah mendarat lagi. Kemudian serangkaian gerakan ayunan di perlihatkannya; dia mengayunkan ke samping kanan dan kiri, kemudian ke atas.


Saat kaki kanan terangkat lagi, dia melakukan serangan menonjok dengan pedang. Dan di akhiri dengan mengayunkan pedangnya ke samping dengan tubuhnya berputar-putar.


Pemuda itu kemudian melompat dan melempar pedang kepada Xuan Yi. “Kau coba sekarang.”


Xuan Yi mengangguk. Dia mengulangi gerakan yang tadi, tapi gerakannya masih kaku dan harus banyak latihan. Gadis itu memegang pedang dengan baik dan tatapannya tajam, tapi gerakannya kurang tegas dan elegan, bahkan seperti tidak memiliki tenaga saat mengayunkannya. Namun, dia berhasil melakukannya.


“Lakukan terus.”


Xuan Yi mengangguk dan mengulangi lagi.


...----------------...


...----------------...


Malam terus berlalu, Xuan Yi terus melakukan gerakan yang sama. Dia sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tenaga yang di keluarkan lebih cepat dari sebelumnya.


Pemuda itu memejamkan mata dan duduk bersila di batu. Ujung rambut pirangnya beberapa kali sedikit terbit karena angin.


Dia tiba-tiba membuka matanya. Sorot matanya terarah di atas pohon-pohon yang ada di sana. Kedua matanya kembali di pejamkan.


Tiba-tiba, Lima orang berpakaian hitam muncul dari pohon-pohon. Mereka melompat dan mengayunkan pedang ke arah Xuan Yi

__ADS_1


__ADS_2