
Dua mayat yang telah membusuk itu membuat Mingyue tersayat-sayat. Tanpa sadar air matanya perlahan-lahan jatuh membasahi pipinya.
Dia berharap pamannya akan pulang setelah bekerja seharian, tapi ternyata dia tidak datang dan ketika bertemu dengannya, hanya ada mayatnya yang tergantung begitu saja.
Mingyue sangat marah dan benci. Dia merasa telah berdiri di kegelapan, bukan hutan yang indah dan asri, tapi kegelapan yang tidak ada habisnya.
Melihatnya seperti ini, dia teringat 10 hari sebelumnya. Waktu itu, dia berdiri di dekat pondok memandang bunga-bunga Dandelion yang mulai bermekaran dan bergoyang-goyang tertiup angin. Mereka tumbuh subur tahun ini dan sangat panjang.
Dia duduk memandangnya lekat-lekat, mencium baunya dan memetiknya. Dengan tersenyum dia kemudian berjalan mendekati Chao Hao yang duduk membuka Gulungan. Dia sedang bekerja demi menghidupinya. Orang tua itu selalu bekerja dan tidak pernah beristirahat sejenak, bahkan ketika dia tertidur, pikirannya tentang pekerjaan masih berjalan.
Mingyue yang melihatnya mengerti dan kembali berjalan-jalan di Padang rumput yang di penuhi bunga-bunga Dandelion.
Tidak beberapa lama, angin berhembus kencang dan kelopak-kelopak bunga Dandelion yang putih itu berterbangan ke langit. Melihat itu dia teringat ketika pertama kalinya datang ke tempat ini dalam keadaan dingin dan pakaian hancur.
Dia bertanya sambil memandang hamparan bunga Dandelion. “Paman Chao, seberapa jauh kelopak-kelopak bunga ini akan terbang?”
“Aku tidak tahu. Aku dengar mereka bisa terbang sejauh 10 km. Akan sangat jauh lagi ketika angin berhembus kencang.”
“Itu sangat jauh, melebihi perkiraanku. Mereka adalah salah satu tumbuhan yang beruntung. Saat aku pertama kali melihatnya, aku merasa bunga ini seperti manusia. Jangan tanya kenapa paman, karena bunga ini bermekaran di pagi hari dan layu di malam hari, seperti manusia, sama persis.”
Kemudian Mingyue memandang pondok yang ada di dekat sana. “Paman, apakah ini rumahmu?”
“Benar, kita telah sampai. Maaf jika paman tidak bisa memberikan rumah yang lebih nyaman.”
“Ini melebihi keinginanku. Di desa itu bahkan rumah seperti ini tidak pernah aku harapkan, jika ada atap terbuat dari jerami saja, sudah membuat Ming bahagia, apalagi dengan rumah seperti ini. Paman Chao sangat baik.”
Itu salah satu kenangan yang dia ingat dan akan selalu dia ingat. Chao Hao tidak akan pernah diluapkannya. Dia adalah penyelamatnya dari desa yang kotor dan yang tidak pernah mempedulikannya. Dia adalah teman dan anggota keluarga baru yang telah di turunkan untuk melindunginya dari kedinginan malam dan kelembapan hujan, serta kekeringan musim panas.
Mingyue lalu memandang Chao Hao kembali. Akhirnya pria paru baya itu berhenti membaca. Mingyue kemudian memetik satu lagi bunga Dandelion. Dia bergegas mendekatinya dan mengulurkan satu bunga Dandelion. “Paman, kita akan memulai kehidupan yang baru bagi bunga ini.”
Chao Hao mengambilnya. “Kehidupan...”
Mingyue kemudian duduk di sampingnya. Mereka kemudian saling pandang dan meniup bunga Dandelion itu. Namun, sebelum mereka meniupnya, kelopak-kelopak itu beterbangan di tiup angin. Kelopak-kelopak berterbangan dan semakin tinggi, kemudian tidak terlihat lagi.
“Kehidupan yang baru akan tumbuh di suatu tempat, tapi sayangnya itu bukan berkat kita.”
Mereka memandangnya dan tersenyum.
...----------------...
...----------------...
Air mata Mingyue semakin deras. Dia kemudian mengusap wajahnya. Dengan tekad yang kuat, dia berbicara kepada dua mayat yang ada di depannya. “Paman, aku akan membawa kepala yang telah membunuhmu.”
Setelah itu, Mingyue menguburkan dua mayat itu, kemudian memandangnya dan mengepalkan tangannya kemudian pergi dengan sepasang mata yang penuh dendam.
Kelopak-kelopak bunga Dandelion mulai berterbangan di sekitarnya. Entah dari mana. Kelopak-kelopak itu kemudian berterbangan dan menari-nari di langit, seperti di mainkan angin. Mereka satu persatu bercerai berai. Dari sepuluh, delapan, lima, tiga, dua dan akhirnya satu. Mereka bergerak naik turun di langit. Kemudian akhirnya mendarat di atas tangan Mingyue. Dia telah kembali ke rumah Chao Hao yang ada di atas perbukitan.
__ADS_1
Malam telah menutupi cakrawala dan bunga-bunga Dandelion telah layu dan kering, namun tidak henti-hentinya angin meniupnya. Kelopak-kelopaknya telah berterbangan entah ke mana, dan yang kini ada hanya ada bola bulat tempat kelopak-kelopak itu hinggap.
Mingyue membuka pintu. Semua masih sama, namun suasana begitu sunyi dan mencekam, yang bahkan kunang-kunang tidak ada di halaman dan jangkrik tiba-tiba tidak mau berbunyi.
Mingyue berjalan masuk dan berhenti memandang Sebuah panah yang ada di dinding. Dia tiba-tiba melihat sosok kecilnya di sana yang melompat-lompat ingin menggapai busur dan anak panah yang di ambil Chao Hao .
“Paman, itu milik Ming! Berikan kepadaku.”
“Yue’er, ini sangat berbahaya.”
“Tidak, itu tidak berbahaya untukku.”
Chao Hao menggeleng pelan. “Ini berbahaya.”
“Aku bilang tidak, itu tidak berbahaya. Paman! Cepat berikan!”
Chao Hao kemudian memandang tajam ke arah Mingyue. Tatapannya jelas mengisyaratkan ketegasan untuk tidak boleh.
Mingyue mengerti. Dia kemudian menunduk dan matanya berkaca-kaca. “Jika paman tidak memberikannya, Ming tidak akan memaksa.”
“Jika sudah besar kau boleh mengambilnya.”
“Emmm.”
...----------------...
...----------------...
“Paman, aku akan melakukannya.”
Mingyue lalu membuat beberapa anak panah, memakai pakaian hitam dengan kerudung dan berjalan pergi dari rumah.
Ketika itu, bunga-bunga Dandelion yang telah kehilangan kelopak-kelopak bunga bergoyang-goyang lembut, seperti ingin mengucapkan salam perpisahan.
Dari hujan hingga hujan kembali, Mingyue mencari-cari siapa yang telah membunuh pamannya. Dia mencari ke tempat-tempat yang menyediakan berbagai informasi dan membayar apa pun yang bisa diberikannya, termasuk tubuhnya.
Berhari-hari berlalu dan siang malam berganti, berbagai informasi telah Mingyue dapatkan. Selama pencarian ini, dia juga berlatih memanah dan meningkatkan fisiknya.
Pada suatu waktu, dia akhirnya mendapatkan sebuah racun dari seseorang yang di tolongnya dan akan itu dia gunakan untuk membunuh orang itu.
Kemudian dia bertemu dengan seorang gadis gelandangan yang duduk di depan sebuah tembok. Mingyue mendekatinya.
Gadis itu terlalu kotor dan kumal. Baunya busuk dan kedinginan.
Ketika Mingyue datang, gadis itu memandangnya dengan wajah yang penuh penderitaan dan harapan untuk diberikan makan. Wajah itu sangat kotor yang di tutupi rambut hitamnya.
“kakak, apa kamu mempunyai makanan?”
__ADS_1
Mingyue melepaskan jubahnya, kemudian menyelimutinya. Lalu dia memberikan sebuah roti.
Gadis itu kegirangan dan memakannya dengan lahap. Setelah habis dia meminta lagi dan Mingyue memberikannya.
“Siapa nama kakak?” Tanya gadis itu.
Mingyue tertegun sebentar. “Mingyue.”
“Terima kasih kakak Mingyue.” Dia kemudian melanjutkan makannya.
Mendengar gadis itu menanyakan namanya, dia teringat bagaimana Chao Hao memberikannya nama. Saat itu juga di malam hari. Mingyue kedinginan dan mengandalkan kain putih yang sangat kotor dan luntur menghangatkan tubuhnya.
Chao Hao datang dengan pakaian mewahnya dan bertanya siapa namanya sambil memberikan sebuah roti.
Mingyue menggeleng dan memakan roti itu dengan lahap. Meski itu adalah roti tanpa rasa, baginya itu adalah makan terlezat yang pernah di makannya.
Setelah makan, dia berkata kepada Chao Hao, “Aku tidak tahu namaku, bahkan aku lupa siapa orang tuaku.”
“Bagaimana kalau namamu Mingyue. Kau memiliki pesona seperti bulan.”
“Aku tidak memilikinya, bulan terlalu indah untukku.”
“Tidak, aku melihatnya, kau seperti bulan. Orang yang akan bersinar meski tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”
“Terserah tuan saja.” Mingyue tetap memakan roti yang di berikan.
Setelah dia selesai makan, Chao Hao menawarkan untuk pergi bersamanya. Dia mengatakan akan menjaganya dan memberikan rumah untuknya.”
Mingyue berpikir sebentar dan mengangguk.
Begitulah pertemuannya dengan pria gemuk kaya yang telah menolongnya.
Setelah semakin larut, gadis gelandangan itu tidur di pangkuannya. Mingyue mengelus-elus rambutnya kemudian pergi dari sana.
Setelah beberapa hari lagi, akhirnya Mingyue menemukan musuhnya, dia tidak lain adalah Putri dari kekaisaran Su. Dia tidak takut dengan musuhnya itu. Mingyue mulai mengikutinya secara diam-diam.
Ketika ada kesempatan, dia dengan nekat berdiri di atas pohon dan menarik busurnya setelah rencana pertama untuk meracuninya telah gagal. Mingyue tahu jika dia gagal, dia akan mati, namun ini adalah kesempatan ketika tidak ada prajurit di sampingnya dan terlebih lagi, dia tidak mau membuat tuan putri semakin memperketat penjagaannya. Ini adalah tindakan bodoh.
Mingyue memasang anaknya yang telah berisi racun, kemudian menargetkan kepala Tuan putri.
Meski jaraknya sangat jauh, apa yang ada di depannya terasa sangat jelas dan bahkan itu mampu melihat helaian rambut Su Jiao.
Dia menahan nafas dan menjaga keseimbangan. Ketika satu daun berjatuhan, dia melepaskannya.
Anak panah itu melesat menusuk daun dan mengarah cepat ke arah Su Jiao.
Mingyue memandang dengan tajam.
__ADS_1