Two Sky Poems

Two Sky Poems
Anak panah mengenai bunga mawar


__ADS_3

Wanita itu langsung mengutarakan niatnya untuk membawa Sarnai ke Sekte Green pagoda dan menjadikannya murid. Dia juga menjelaskan, dengan Sarnai masuk ke Sektenya, dia akan mendapatkan segudang ilmu bela diri dan akan mengantarkannya ke dalam masa depan yang cerah. Selain itu, wanita itu juga menjelaskan sejarah dan mengapa dia harus masuk ke Sektenya, yang tentu saja, cerita-cerita itu di lebih-lebihkan.


Namun, dalam dua kata yang di keluarkan oleh Sarnai, delegasi itu terkejut. “Aku tidak tertarik.”


Sarnai kemudian menarik tangan Gadis bersamanya, tapi gadis itu tidak mengikutinya. Sarnai menoleh memandangnya dan di saat seperti itulah gadis itu mengutarakan pendapat tidak setujunya.


“Teman, ini kesempatan langka, kesempatan ini tidak akan terulang lagi, pikirkan baik-baik. Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan pernah menolak penawaran seperti ini.”


Semua orang dan calon-calon murid setuju dengan saudara kecil itu. Apa yang di katakannya sangat benar. Sangat di sayangkan.


Sarnai diam sebentar untuk berpikir. “Apa kau tertarik untuk masuk ke sekte itu?”


Gadis itu mengangguk dalam. Tentu saja dia sangat menginginkannya, hanya saja bakatnya terlalu rendah dan potensi bawaannya tidak akan tumbuh menjadi apa-apa untuk ke depannya.


Sarnai kemudian memandang delegasi Sekte Green pagoda. “Aku setuju, tapi, kau harus membawa gadis ini juga bersamaku.”


“Aku hanya menawarkanmu, hanya untuk satu orang.”


“Baik, aku menolaknya.”


Sarnai kemudian melangkah pergi dengan langkah pasti. Di wajahnya tidak ada penjelasan dan keragu-raguan sedikit pun.


Setelah melangkah beberapa langkah, delegasi itu berujar menghentikannya.


“Apa maumu lagi?”


“Aku menerima persyaratanmu.”


Sarnai tersenyum kemudian berbalik. “Kau sangat pengertian.”


Dengan terpaksa wanita itu harus menyetujuinya. Kesempatan melihat bakat seperti ini sangat sulit di tempat-tempat terpencil bagian utara seperti ini. Dan jika apa yang di putuskan hari ini salah, dia tidak akan terlalu menanggung kerugian yang besar, sebab gadis itu meski mengecewakan, tidak akan terlalu mengecewakannya, setidaknya itulah yang diyakininya sekarang.


“Baik bibi, aku akan pergi ke sekte.”


“Tunggu, aku harus memberitahu hal ini kepada ibu,” seru gadis yang ada di samping Sarnai. Dia sangat gembira mendengar dirinya akan di terima dalam sebuah sekte. Jika ibu dan ayahnya tahu apa terjadi, mereka akan sangat senang, kemudian membangga-banggakannya.


Sarnai memandangnya kemudian mengangguk.


Begitulah mereka di terima dalam sebuah Sekte tanpa ujian.


Delegasi sekte Green Pagoda kemudian mengatakan akan menjemput mereka berdua di esok hari.

__ADS_1


Sarnai dan gadis itu kemudian pergi dari sana.


...----------------...


...----------------...


Ketika tiba di rumah, An Shan merasa rumahnya berbeda dari sebelumnya; yang sebelumnya terlihat cerah, yang memiliki suasana nyaman dan tenang, saat ini rumah itu terlihat redup. Terasa sunyi. Terasa tidak ada orang yang menempatinya.


Dia kemudian memandang Sarnai dan memegang lebih erat tangannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia bertanya untuk perasaannya terhadap rumah dan rasa nyaman ketika memegang tangan Sarnai, yang sama-sama perempuan.


Melepaskannya, An Shan berlari dan membuka pintu. Ruangan di dalamnya sangat gelap dan bau pengap memenuhi ruangan.


Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang dan perasaannya terasa sangat tidak nyaman.


Langsung saja, An Shan berlari mencari-cari orang yang ada di rumah.


Setelah berlari-lari, An Shan terkejut dan mundur satu langkah. Kedua matanya bergetar dan terlihat tidak percaya. Perlahan-lahan tubuhnya jatuh kemudian dia berteriak dan di rumah itu di penuhi suara tangisannya.


Sarnai kemudian tiba di ruangan itu, dia kemudian mendekati An Shan dan memeluk, kemudian mengusap-usap kedua bahunya.


...----------------...


...----------------...


Dia menekuk kedua kakinya. Darah mengalir dari selangkangannya. Dia mengernyitkan dahinya merasakan sakit dari selangkangannya.


Dia kemudian berteriak mendorong bayi yang ada di perutnya. Sangat melelahkan, malang dan menyedihkan ketika melahirkan dalam jeruji besi tanpa seorang pun ada di sisinya. Sangat menyakitkan jika orang-orang pura-pura tidak mengetahui suara teriakannya.


Tapi untungnya dia melahirkan dengan cepat.


Seorang bayi yang penuh darah mengeliat-geliat di tangannya dan menangis.


Wanita itu kemudian merobek gaun putih pakaiannya yang kotor dan tidak pernah di cuci beberapa bulan, yang sudah kusam, bau dan tipis.


Dia mengelapnya dengan lembut dan bayi halus itu menangis lebih keras. Dia membuka mulutnya yang terlihat tanpa gigi itu.


Wanita itu kemudian melepaskan gaun yang menutupi tubuhnya, lalu membiarkan bayi itu meminum susu dari ***********. Bayi itu berhenti menangis. Kedua tangannya memeluk payudara itu. Dia kemudian memandang ke atas, ke arah ibunya. Betapa mungil dan lucunya dia ketika menyedot susu dari ibunya itu.


Dia memandang lama, tapi kemudian tiba-tiba terbatuk-batuk dan menangis. Ibunya mengoyang-goyangkannya. Kembali bayi itu merasa tenang dan meminum kembali susu dari payudara ibunya.


Ingatan itu kembali muncul dalam pikiran Su Jiao ketika pertama kali melakukan persalinan yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Ketika itu, setelah bayi itu lahir, dia ingin langsung membunuhnya, tapi saat melihatnya, dia tidak tega dan berusaha mengasuhnya.


Tanpa di sadari dia ternyata sangat mengasihi anak haram itu dan sekarang, 10 hari lagi, anak itu akan pergi. Su Jiao merasa tidak mau melepaskannya, namun dia tidak bisa melarang anak itu mencapai tujuan dan keinginannya dalam hidup.


Dalam balik pintu, dia melihat gadis itu membaca buku. Ingin menghampirinya, tapi tidak mau mengganggunya. Oleh karena itu, dia melihatnya beberapa saat, kemudian pergi.


...----------------...


...----------------...


Deru angin malam itu terdengar keras di telinga Mingyue. Malam itu terasa lebih tenang, lebih nyaman, lebih menyejukkan hati.


‘Mengapa aku merasa seperti itu?’


Dia seharusnya tidak merasa seperti ini. Ming bingung dengan dirinya sendiri. Tindakan balas dendamnya gagal.


Dia kemudian di bawa ke rumah megah ini oleh Su Jiao.


Ketika bertanya mengapa Su Jiao memperlakukannya dengan baik.


Su Jiao berkata karena dia masih di perlukan untuk menjaga putrinya.


“Aku akan membunuhnya.”


“Apa kau bisa membunuhnya?”


Kerongkongan Mingyue terasa di cekik kemudian dia roboh. Tidak beberapa lama akhirnya rasa sakit itu menghilang.


“Aku akan mengontrolmu dari jauh dan menghukummu jika melakukan tindakan-tindakan mencurigakan.”


Mengingat itu Mingyue kemudian mengambil anak panah dan busur yang telah di bawanya. Dia kemudian menarik dan membidik daun-daun yang ada tidak jauh dari rumah.


Dia kemudian melepaskannya, lalu menghela nafas.


Dia menggeleng. “Aku hidup seperti pelayan.”


Anak panah itu mengenai beberapa tangkai daun dan membuatnya berguguran.


Mingyue kemudian mengambil satu anak panah lagi. Dia kemudian membidik sebuah bunga mawar berwarna merah yang ada di samping tembok.


Membidik beberapa saat, lalu melepaskannya.

__ADS_1


Anak panah melesat lagi dan membuat bunga itu berguguran.


__ADS_2