
Sarnai telah berjalan begitu lama, dia tidak tahu entah tiba di kekaisaran Su ataupun tidak.
Dia telah lupa ingatan, tapi desa yang ada di depannya sekarang merasa dia mengenalnya, tapi tidak tahu apa nama desa itu.
Setelah bertanya, nama desa itu Haizo. Dia familiar tapi tidak mengingat apa pun.
Dia berjalan sambil melihat-lihat sekitar dan berharap ingatannya kembali.
Setelah jatuh ke dalam jurang, dia tidak mengingat apa pun, kecuali satu ingatan yang masih membekas, bahwa ibunya telah mati dan dia sendiri membunuhnya. Dia membunuhnya karena kesal dan membencinya. Setiap hari, dia di pukul pakai tongkat dengan keras, meski itu hanya kesalahan sepele dan tidak beralasan.
Yang ada di dalam kepalanya hanya ingatan tentang ibunya, dan selebihnya tidak tahu entah ke mana. Dia berjalan dengan pakaian lusuh. Beberapa orang memperhatikannya dan membicarakannya. Merasa kecewa dan malu, tapi tidak bisa berbuat banyak. Dia memutuskan berlari dam berhenti ketika tempat telah sepi.
Rambutnya acak-acakan dan tubuhnya sangat kotor. Dia berjalan, melihat seorang pria tua duduk di bawah pohon besar. Dia berjalan melintasinya, tapi kemudian berbalik dan mendekati pria itu.
Ternyata pria itu buta dan dia menatap ke depan dengan tenang.
Sarnai memandangnya sebentar, kemudian bertanya, “Apa yang Kakek lakukan di sini?”
“Menunggu keberuntungan datang.”
Sarnai Kemudian memandang kendi yang ada di depan Kakek itu. Sungguh jelas terlihat, dia sedang mengemis, tapi mengapa dia mengemis di tempat sepi seperti ini?
Sarnai merasa simpati. Dia kemudian duduk di samping kakek itu dan mengeluarkan beberapa buah yang telah di temukan di hutan.
“kakek, makanlah.”
Kakek itu mengambilnya.
Sarnai kemudian berdiri. Dia berjalan, tapi Kakek itu menghentikannya.
“Apa buahnya masih kurang?”
Kakek itu mengeluarkan sebuah buku dari bajunya. “Aku mendapatkan buku ini dari seseorang. Dia berkata buku ini sangat berharga, terimalah.” Kakek itu mengulurkan buku.
Sarnai menatap buku itu kemudian mengambilnya dan mengamati. “Jika buku ini sangat berharga, kenapa kakek memberikannya kepadaku?” dia kemudian membukanya. “Buku ini juga kosong.”
“Orang itu berkata, buku itu mampu memahami makna bumi dan langit.”
“Tapi kenapa buku ini tidak ada tulisan sama sekali?”
“Aku tidak tahu. Terima lah, sebagai rasa terima kasihku.”
Sarnai memandangnya. “Aku akan menerimanya.”
Gadis itu kemudian berjalan-jalan. Tepat di siang hari, dia membantu nenek-nenek mendorong gerobak, kemudian membantu orang-orang berjualan.
__ADS_1
Saat sudah matahari lebih rendah, dia duduk atas pohon tumbang dan menghitung koin yang di dapatkan.
Setelah menghitungnya, dia memasukkan ke dalam tas kain kecil. Uang itu cukup untuknya hidup beberapa hari.
Dia kemudian menyeka keringat di dahi, lalu menghela nafas.
Dia duduk di pinggir desa dan pemandangan desa dapat di lihatnya dari sini.
Dia lalu membuka buku yang sebelumnya dan mengejek buku itu, dari mana tentang rahasia langit dan bumi jika buku itu tidak ada tulisan sama sekali.
Dia menutupnya, kemudian tertidur di atas pohon.
...----------------...
...----------------...
Ketika terbangun, seseorang gadis cantik dengan pakaian merah muda telah duduk di sampingnya sedang membaca buku kosong itu.
“Buku apa ini? tidak berguna.”
Sarnai mengamatinya.
“Ini.” Gadis itu mengulurkan buku itu.
Sarnai mengambilnya.
Melihat kecantikan dan pakaian yang di pakainya, membuat Sarnai malu. Dia lalu mengalikan perhatiannya. “Sorang kakek telah menghadiahi ini kepadaku.”
“Lalu untuk apa buku kosong itu? Apakah untuk menulis saja?”
“Dia berkata, buku ini mampu memahami rahasia langit dan bumi.”
“Apakah benar?”
Sarnai membukanya. “Mungkin ada semacam kunci untuk membukanya.”
Gadis di sampingnya berpikir sebentar. “pengorbanan?”
Dia kemudian berdiri dan mendekati Sarnai. “Coba kamu teteskan darah ke halamannya.”
Sarnai berpikir sebentar lalu melakukannya. Ketika setetes darah menetes, buku itu bercahaya dan tulisan-tulisan perlahan-lahan muncul, lalu setetes cahaya emas keluar lalu masuk ke dalam dahi Sarnai.
Dia berteriak kesakitan. Gadis di sampingnya tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya bisa menenangkannya.
Sesaat kemudian, Tiba-tiba rasa sakit itu menghilang. Dan Sarnai lalu memandang tulisan yang ada di halaman pertama buku itu. Gadis di sampingnya juga ikut melakukannya.
__ADS_1
Setelah membacanya, mereka berdua saling pandang.
...----------------...
...----------------...
Tiga hari berlalu, akhirnya tiba saatnya ujian berlangsung. Di pegunungan, ada pohon-pohon tinggi dan ada lapangan yang luas. Di sana rumput tumbuh rata melapisi tanah dan begitu luas, cukup untuk 500 orang sekaligus.
Anak-anak dari berbagai umur telah berada di sana sejak tadi pagi. Mereka rata-rata berumur 16-20 tahun, jadi Xuan Yi adalah gadis termuda yang ada di sana. Hanya ada beberapa umur yang lebih rendah, tapi tidak ada yang sama dengannya. Mereka bercakap-cakap di sana menunggu ujian yang akan di laksanakan.
Tiga hari sebelumnya, telah di kabarkan tiga delegasi sekte akan datang untuk menguji orang yang berkeinginan untuk masuk sekte dan menjadi pendekar.
Semua orang bersemangat dan antusias dalam mengikutinya.
Tiga delegasi itu, di antaranya satu perempuan dan dua laki-laki.
Mereka semua sangat tampan dan cantik. Tapi yang paling Xuan Yi kagumi adalah sikap elegan dan cantik delegasi sekte White Clouds Fairly, yang sangat dia sukai.
Kemudian mereka pun di arahkan untuk mendekati para delegasi-delegasi.
Xuan Yi ikut berbaris di antara gadis-gadis yang akan mengikuti ujian. Dia membawa tongkat besi di punggungnya dan dengan antusias mengikuti.
“Hai.” Seseorang menepuk bahu Xuan Yi.
Ketika dia berbalik, seorang wanita berkata, “Kau adalah gadis termuda yang pernah aku lihat. Kita lihat, apakah kau akan berhasil atau tidak dalam ujian ini.”
“Kakak, jika tidak berhasil, aku akan mencoba yang lain.”
“Benar, tapi kau harus datang langsung ke sekte dan melakukan pengujian. Di sana akan lebih sulit.”
“Ya, memang sulit.”
Xuan Yi kemudian berbalik ke depan ketika delegasi itu telah berbicara.
Dia mengumumkan bagaimana ujian yang harus mereka lalui. Dia menjelaskannya dengan detail dan sangat keras, sehingga orang-orang mampu memahaminya dengan baik. Meski dengan suara keras, suara itu terdengar anggun dan menawan, membuat orang-orang bertanya bagaimana wanita itu melakukannya.
Wanita itu menjelaskan, ujian untuk masuk Sekte White Clouds Fairly ada tiga tahap, pertama ujian fisik, kedua keteguhan perasaan dan ke-tiga tekad. Dia menjelaskan, masing-masing ujian akan berbeda setiap individu, sehingga mereka tidak akan bisa bekerja sama, jika nanti terkait dengan soal, dan semuanya di lakukan sendiri.
Setelah menjelaskannya, wanita itu pun melambaikan tangannya ke depan.
Kristal-kristal es muncul di depan semua calon murid, membuat mereka bertanya-tanya untuk apa kegunaan kristal tersebut.
“Itu adalah Kristal urutan nomor, masing-masing orang mendapatkannya. Kristal-kristal itu juga akan membawa kalian ke tempat ujian dan ujian apa yang akan kalian hadapi.”
Calon murid pun mengambilnya satu persatu dan mereka menghilang dengan cahaya biru.
__ADS_1
Xuan Yi ragu-ragu mengambilnya, tapi kemudian ia mengambilnya dan menghilang.