Two Sky Poems

Two Sky Poems
Aku melihat gunung di punggungnya


__ADS_3

Xuan Yi berdiri bersama Mingyue di depan rumah kepala desa. Ketika itu, istri kepala desa perlahan-lahan muncul dari dalam pintu gelap.


Dia kemudian menunduk memberi hormat kepada Xuan Yi. “Tuan putri, saya selalu menyambut anda dengan baik.”


Xuan Yi kemudian memandang wajah itu, lalu melemparkan tongkatnya secara mendadak. Tapi, kecepatan tongkat itu tidak membuat wanita itu terkejut, bahkan dia hanya sedikit mengerakkan tubuhnya untuk menghindar. Tongkat itu akhirnya menembus tembok.


“Kau adalah orang yang bodoh.” Kata Xuan Yi.


“Bukan, tapi saya terlalu meremehkan anda.”


“Kau melupakan sesuatu yang penting dan sering di remehkan orang-orang. Harus aku akui mengendalikan sikap itu bukanlah sesuatu yang mudah, tapi aku yakin, kau tentunya telah memiliki rencana lain untuk lari jika semua rencanamu gagal. Tapi sekarang, kesempatan itu telah aku putuskan, bagaimana caramu lari hari ini?”


Ekspresi wajah wanita itu sedikit terlihat marah, tapi kemudian menjadi lebih tenang. Dia mengulurkan tangannya ke belakang. Sebuah pedang melesat dari kegelapan dan mendarat di tangannya. “Tentu, tuan putri, jika bukan bertarung, apa lagi yang harus aku lakukan.”


Wanita itu kemudian memandang langit yang di penuhi awan-awan, kemudian kembali berkata dengan nada rendah, “Di antara kita, pada akhirnya akan ada yang menang dan kalah; ada yang bodoh dan pintar, ada yang keliru dan tidak. Setelah beberapa hari aku mengamatimu, aku pikir semua hal yang akan terjadi berada di dalam genggamanku, tapi ternyata itu adalah harapan yang telah anda persiapkan untuk menjebakku. Anda mengirim banyak sekali surat dan semuanya memiliki keyakinan mutlak yang sulit sekali di bedakan yang mana asli atau palsu. Semuanya telah aku dapatkan, aku menduga telah mendapatkannya, tapi ternyata salah. Jika anda berkenan, bagaimana anda melakukannya?”


“Aku menggunakan anak panah.”


“Anak panah?”


Xuan Yi sedikit mengangguk. “Aku membuat kaligrafi dalam anak panah kecil, dan mengirimnya. Kau tidak akan menyadarinya, karena aku telah mengetahui terlebih dahulu pengawasan itu.”


Wanita itu terlihat lebih lega dari sebelumnya. “Kaligrafi, itu adalah keahlian yang bagus. Aku tidak menyangka di mainkan oleh seorang anak kecil seperti anda.”


“Itu karena kau bodoh, sehingga mudah di tipu.”


“Mungkin anda benar.” Wanita itu kemudian berjalan sambil berkata, “Tuan putri, hasil akhir belum usai. Akhir dari kita akan di tentukan oleh pertarungan ini.”


Energi Qi berwarna putih samar-samar terlihat menyelubungi tubuh wanita itu, bersamaan, di sekitar menjadi lebih panas dan lebih pengap.


Pedang yang dia pegang tampak lebih bercahaya dan memiliki aura.


Wanita itu kemudian melompat dan mengayunkan pedangnya ke arah Xuan Yi, tepat pada saat itu, Sebuah anak panah meluncur dan menghalangi serangan wanita itu.


Akan tetapi, dengan mudanya di potong oleh pedang itu, seperti pisau memotong tahu.


Menyadari tidak bisa menahan, Xuan Yi dengan lembut menekan kaki kanannya dan melompat mundur beberapa tombak.


Wanita itu kemudian terdiam. “Anda memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi, tetapi anda tidak bisa mengalahkanku hanya dengan mengandalkan tubuh fisik anda.”

__ADS_1


“Kau benar, oleh karena itu, aku memerlukan orang lain untuk mengalahkanmu.”


“Siapa orang itu?”


“Orang itu adalah aku!”


Jauh di atap rumah, gadis kecil berdiri memandang dingin ke arah istri Kepala desa. Dia memegang beberapa kepala termasuk kepala Jiang Lu. Darah segar masih menetes dari leher kepala itu.


Wanita itu menjadi lebih dingin setelah melihatnya. Dia kemudian melompat di atap rumahnya sendiri dan memandang gadis itu lebih tajam.


Sementara itu, Mingyue hanya bisa menyaksikan dengan tenang dan sedikit terkejut terhadap kemampuan gadis itu.


Xuan Yi kemudian berjalan dan mengambil tongkatnya. Lalu menghampiri Mingyue. “Tugas kita telah selesai, biarkan dia yang mengakhirinya. Sekarang, apa kau sudah puas?”


Mingyue mengangguk lalu mengambil anak panah dan melepaskannya ke langit untuk memberi sinyal.


Istri kepala desa semakin dingin ketika melihat cahaya merah di langit. Dia kemudian memandang gadis di depannya itu dengan sangat serius. “Tanah ini akan menjadi kuburanmu.”


“Benarkah seperti itu?”


Gadis itu bertanya dengan ekspresi biasa tanpa ada ketakutan atau pun semangat untuk bertarung.


“Tapi, apakah kau layak memiliki kepercayaan diri seperti itu?”


Ekspresi dingin wanita itu kemudian di ganti kekesalan ketika dia melihat Gu Heng muncul dari asap di atap rumah berbeda sambil memegang pedang.


Gu Heng kemudian berkata tenang, tapi itu membuat Wanita itu merasa tidak berdaya, “Semuanya telah usai. Tidak ada gunanya kamu melawan, yang hanya membuat tubuhmu terluka sia-sia. Kami telah mengunci semua jalan keluar dan telah mengetahui semua keberadaan anggotamu.”


Wajah wanita itu semakin kesal ketika mengetahuinya. Dia kemudian memandang kejauhan, yang mana terlihat pertarungan-pertarungan di antara orang-orangnya dengan kelompok prajurit Gu Heng.


Wanita itu kemudian menghela nafas. Semuanya telah usai. Dia lalu menarik semua energi Qi yang ada di dalam tubuhnya.


Gu Heng mendekat dan melambaikan tangannya ketika wanita itu memberikannya.


Lalu, wanita itu kemudian menghilang tanpa jejak. Gu Heng langsung mengiriminya ke tempat penjara, yang di mana orang-orang jahat akan di adili.


Dia kemudian melihat Xuan Yi dan Mingyue, lalu mendekatinya. Dia kemudian memberi hormat dan pergi dari sana.


Gadis yang ada di atap rumah sedikit melirik Xuan Yi kemudian menghilang.

__ADS_1


Xuan Yi menyadari lirikan itu kemudian sedikit mengangguk. Dia dan Mingyue kemudian pergi.


...----------------...


...----------------...


Setelah melakukan pertarungan semalam, akhirnya semua orang-orang yang terlibat akhirnya di tangkap, beberapa juga harus di bunuh karena melawan.


Mereka semua akhirnya di penjara dan di adili oleh pemerintah, tidak kecuali dengan istri kepala desa.


Setelah melakukan penangkapan, kelompok Gu Heng kemudian menelusuri tempat-tempat itu, dan mereka akhirnya menemukan tambang emas bawah tanah, yang semuanya di penuhi anak-anak berusia sekitar 7-10 tahun. Mereka semua kurus kering dan terlihat tersiksa.


Ketika melihat para prajurit datang mereka bergembira dan bersorak-sorai.


Gu merasa penasaran dengan siapa dan dari mana anak-anak ini berasal, tetapi setelah beberapa hari tinggal di pemerintahan daerah, satu persatu orang tua mereka datang dan membawa anaknya kembali. Hingga beberapa hari, akhirnya beberapa anak-anak yang yatim piatu di bawa ke panti asuhan bersama anak-anak yang sebelumnya.


Setelahnya, mereka kemudian mendiskusikan hukuman apa yang akan di jatuhkan kepada istri kepala desa itu, tapi Su Jiao tidak buru-buru melakukannya, karena dia ingin mengetahui informasi yang lengkap tentang kasus itu. Sambil mencarinya, dia tahu, wanita itu tentu akan berusaha untuk kabur, oleh karenanya, dia mempercayai Gu Heng untuk melakukannya.


...----------------...


...----------------...


Sementara sedikit di bagian utara, Shao Hu akhirnya tiba di sebuah pondok kecil. Di sana seorang wanita tua yang cantik duduk bersama cucunya.


Ketika mereka duduk, cucu perempuannya menyadari dan berkata, “Nenek, ada orang datang.”


Segera, wanita tua itu menoleh ke arah Shao Hu.


Shao Hu merasa malu dengan tubuhnya dan pakaiannya yang kotor, oleh sebab itu, dia ingin pergi, akan tetapi nenek itu menghentikannya dengan berkata, “Kau ingin pergi ke mana?”


“Aku salah jalan.”


Dia kemudian berjalan pergi dan tidak menoleh lagi.


Gadis kecil itu kemudian berkata setelah melihatnya pergi, “Nenek, aku menginginkannya.” Dia menunjuk Shao Hu.


“Anak laki-laki yang kotor, mengapa kau menginginkannya?”


“Nenek tidak akan mengerti perasaan seorang gadis kecil sepertiku.”

__ADS_1


Nenek itu kemudian memandang Punggung Shao Hu. “Aku melihat sebuah gunung dalam laki-laki itu.”


__ADS_2