
Awan-awan tipis itu terasa seperti surga. Langit cerah berwarna biru bagaikan danau yang tengah menyelimuti awan-awan tipis itu.
Sarnai dan An Shan tidak pernah menyangka jika hari ini mereka terbang dan merasakan bagaimana jadinya jika mereka terbang. Tetapi, An Shan tidak merasa gembira, orang tuanya telah meninggalkan dia untuk selamanya. Bulu-bulu angsa berwarna putih yang di genggamnya terasa lembut membuatnya lebih tenang, serta tangan Sarnai yang selalu memegangnya.
Ketika melihat kejadian itu, An Shan bertekad akan membunuh orang yang telah melakukannya dan akan membalas dua kali lipat apa yang telah di perbuatannya.
Tapi tidak mudah mencarinya, membuat berbulan-bulan mungkin bertahun-tahun untuk mencarinya karena tidak ada petunjuk satu pun yang di temukannya, di tambah dia harus menimpa ilmu sekarang di Sekte Green pagoda untuk waktu yang tidak di tentukan.
Dia kemudian teringat dengan kejadian-kejadian bersama orang tuanya, yang membuatnya bersedih.
Sarnai memegang penuh kasih tangan An Shan. “Kita akan membalas dendam untuk kedua orang tuamu.”
An Shan mengusap air matanya. “Teman, tolong bantu aku.”
“Aku akan selalu membantumu.”
Mereka kemudian saling pandang dan tersenyum.
Sementara angsa putih beberapa kali bersuara merdu dan terbang lebih cepat.
...----------------...
...----------------...
“Cucuku.”
Saat Xuan Yi mendengar itu, alisnya mengkerut dan kemudian menatap Selir Ying Sha. Tentu saja, ketika dia lahir, dia tidak tahu dan tidak pernah bertemu dengan Ying Sha, kecuali masa kecilnya yang telah terhapus, Namun Xuan Yi merasa mengenal wanita tua itu. Maka dari itu, dia pun bertanya ragu-ragu, “Apa maksud anda memanggilku? Apakah anda adalah...”
“Benar, nenekmu.”
“Nenek?”
Ying Sha mengangguk senang.
Sementara Su Jiao melihatnya, dia menghela nafas. “Anakku, dia adalah nenekmu, orang yang aku katakan akan datang.”
Ying Sha mengangguk menyetujui ucapan Su Jiao.
Mendengar ucapannya, Xuan Yi cepat-cepat menunduk dalam untuk memberi hormat. “Xuan Yi memberi hormat kepada nenek.”
Ying Sha berdiri dan mendekatinya. Memegang bahu dan mengangkatnya. “Tidak perlu seperti itu.” Ying Sha kemudian memandang cucunya, lalu tersenyum. “Kau telah besar Xuan Yi, dan tumbuh menjadi gadis yang cantik.”
“Terima kasih nenek.”
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
Jalan di desa gunung hijau sangat ramai saat ini, meski pun cahaya matahari bersinar terang dan menyengat kulit-kulit orang yang berjalan-jalan.
Xuan Yi dan Mingyue berjalan memakai pakaian sederhana berwarna coklat dan di kepala mereka ada topi capil, selain melindungi dari panas matahari, ini juga berfungsi untuk menghindari orang-orang mengenali mereka.
Setelah tiba di depan gerbang keluar, Xuan Yi membuka topinya kemudian menghirup udara segar.
Sementara Mingyue mengambil wadah anak panah lalu memasukkan beberapa anak panah di dalamnya. Setelahnya, mengambil busur dan mencoba menariknya.
Mingyue lalu mengambil satu anak panah dan menargetkannya ke arah pohonan rindang di depan mereka.
Setelah merasa pas, dia melepaskannya dan anak panah itu melesat dengan suara mendesing.
Xuan Yi penasaran dengan apa yang di lakukannya, oleh karenanya, dia bertanya mengapa itu dilakukan.
“Untuk mengetahui adanya bahaya. Getaran suara yang di hasilkan oleh anak panah dan daerah yang di laluinya membuatku mengetahui apa yang ada di depan sana.”
Mingyue kemudian berjalan menuju pepohonan. Xuan Yi diam sejenak memandangnya. Gadis itu terlalu hebat dan sangat untung jika berteman dengannya. Dia lalu mengikutinya dari belakang.
Mereka menuju beberapa desa terdekat dan membutuhkan waktu satu hari untuk tiba di depan gerbang desa.
Xuan Yi dan Mingyue memandang gerbang yang di sinari cahaya matahari sore kemudian masuk ke dalamnya.
...----------------...
...----------------...
Seorang anak berusia 7 tahun mengeliat ketika cahaya matahari masuk dari celah itu. Dia lalu membuka matanya dan enggan untuk bangun. Tentu saja, jika dia bangun hari ini, maka neraka akan selalu menghiasinya.
Anak-anak itu adalah anak pungut dan mereka tidak memiliki orang tua, jika punya, mereka tidak di akui. Wajahnya tampak redup ketika memandang cahaya itu. Dia kemudian memandang kakaknya yang ada di samping, lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Kakak, bangun.”
Kakaknya adalah seorang perempuan yang rapuh dan memiliki kulit kuning, tapi karena tidak pernah mandi, kulitnya menjadi tampak lebih gelap.
Semua anak-anak yang mendengar suara itu pun terbangun kemudian berdiri. Wajah mereka tampak gelap dan di penuhi kesedihan.
“Kakak, bangun! Jika kakak tidak bangun, mereka akan memukuli kita lagi!”
Wajah Gadis itu membiru dan tubuhnya terasa dingin. Bibirnya kering. Menggoyang-goyangkan beberapa saat, anak laki-laki itu kemudian teringat dengan apa yang terakhir anak lain yang telah meninggal.
Anak laki-laki itu kemudian memegang tangan kakaknya. Ketika tidak merasakan detak jantungnya. Kedua pupil matanya bergetar dan berlinang air mata.
“Kakak! Jangan tinggalkan aku!”
__ADS_1
Anak-anak yang lain hanya bisa pasrah, mungkin saja mereka nanti yang akan mendapatkan gilirannya.
Tangisan anak laki-laki itu sangat keras, membuat seseorang pria gagah yang ada di samping pintu terbangun.
Dia berdiri dan membuka pintu dengan kasar sambil berseru, “Berisik! Apa kalian tidak bisa tenang!”
Dengan tubuh gemetaran, anak laki-laki itu mengusap air matanya, tapi rasa kehilangan di hati begitu besar. Dia masih menangis, tapi bersuara rendah.
Pria yang ada di pintu mampu membuat semua anak-anak ketakutan. Tubuhnya gagah. Satu tangannya di penuhi Tato naga. Kumis sangar memenuhi wajahnya. Ketika dia berteriak, teriakannya menggema di ruangan kecil itu.
Dia kemudian berbalik pergi. Semua anak-anak yang melihatnya bisa menghela nafas lega.
...----------------...
...----------------...
Butuh beberapa detik untuk semua anak-anak bangun dan berbaris di halaman rumah kayu yang ada di pinggir hutan. Semuanya tidak lebih dari tiga puluh orang. semuanya terlihat kurus dan tidak terawat sama sekali. Beberapa ada juga yang terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Semuanya menatap anak-anak yang terjatuh dan tinggal menunggu waktu giliran mereka yang akan terbaring di sana.
Pria kekar yang ada di depan tidak peduli dan dia kemudian berteriak keras, “Aku tidak perlu memberitahu kalian untuk pekerja kalian. Aku hanya mengingatkan apa yang terjadi jika kalian tidak melakukannya dengan baik.”
Pria itu kemudian pergi dari sana.
Semua anak-anak mengerti. Sebagai dari mereka pergi mengambil gergaji untuk menebang pohon sebagai lagi akan pergi untuk mencuri di pasar atau rumah-rumah penduduk.
Di antara mereka ada satu seorang anak yang masih berdiam.
Pria kekar menyadarinya dan berteriak marah, “Bocah! Apa kau tidak mendengarnya!!!”
Tubuh anak itu mulai gemetaran. Dia tidak lain adalah anak laki-laki yang sama ketika di pagi tadi.
“Penjahat.”
“Apa yang kau katakan!?”
“Aku bilang penjahat!” Anak laki-laki itu menguatkan tekad dengan mengepalkan tangan dan memandang penuh amarah ke arah pria itu. “Kau penjahat!”
“Iya, aku memang penjahat! Kau tidak perlu mengingatkannya!”
Wajah anak laki-laki itu terkejut. Bulu-bulu halus yang ada di punggung lehernya merinding merasakan ketakutan yang luar biasa. Kedua matanya menatap kosong dan terpaku ke depan, yang di mana Pria itu tidak ada lagi di sana, tapi berada di belakangnya dan tengah memulai mengayunkan golok besarnya.
“Pergilah ke neraka!"
Dang!!!
__ADS_1