
Ketika malam telah larut, dia mandi dan berganti baju, kemudian keluar.
Ibunya ada di tempat duduk seperti biasa, tapi kali ini dia terlihat santai, lebih santai dari sebelumnya, maka, Xuan Yi mendatanginya.
Jia Li yang menemani Sang Putri memberi hormat kemudian pergi setelah melihat Xuan Yi.
“Apa kau telah menentukan pilihanmu?” tanya ibunya.
“Iya, kapan aku bisa pergi?”
“Tidak perlu. Sekte-sekte seperti itu akan mencari murid-muridnya langsung dan mengujinya di tempat. Beberapa hari lagi, ada beberapa delegasi sekte akan datang. Kau hanya perlu mempersiapkan diri saja.”
“Jadi, apa yang harus aku persiapkan?” Xuan Yi bertanya heran.
“Ibu tidak tahu. Setiap tahun, mereka akan selalu mengatur ulang ujian masuk. Kau hanya bisa murni mengandalkan kemampuanmu.”
Su Jiao kemudian memasukkan tangannya ke dalam baju dan mengeluarkan sebuah buku. “Karena aku tidak memahami buku ini, aku serahkan kepadamu. Aku harap kau mampu memahaminya.”
Xuan Yi mengambil dan membukanya. “Buku ini sulit di baca dan cara membacanya tidak di ketahui. Sangat membingungkan, buku ini memiliki rahasia atau tidak.”
“Buku ini bukan buku sembarangan.”
Xuan Yi menatap sebentar ibunya, kemudian memandang buku itu. “Mungkin.”
Dia lalu berdiri. “Ibu, aku akan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian itu.”
Setelah memberi hormat, dia lalu pergi.
...----------------...
...----------------...
Setelah Xuan Yi pergi, Su Jiao menghela nafas, kemudian berkata, “Anak Gadis yang aku duga orang liar, ternyata sebuah bunga yang sangat mengagumkan.”
“Oleh karena itu, Yang mulia selir tidak membiarkan anda menggugurkannya.” Entah dari mana, seorang pria berjubah hitam telah duduk. Dia datang begitu saja tanpa tanda-tanda.
Su Jiao menghela nafas lagi, kemudian memandang pohon-pohon. Di sana burung-burung terlihat hinggap dan tertidur. “Apakah kau telah menyelesaikan masalah dari pembunuhan itu?”
Pria itu mengangguk.
__ADS_1
Dia bernama Gu Heng, pelayan setia selir Ying, ibu Su Jiao. Dia yang telah merencanakan penjemputan Tuan putri dan telah mempersiapkan semua hal yang di perlukan. Dia juga diam-diam mengamati tumbuh kembang tuan putri dan melaporkannya secara intens kepada Selir Ying.
Ketika penjemputan telah tiba, dia pergi bersama Su Jiao. Dia berada di luar dan bersembunyi ketika Xuan Yi bertanya kepada Su Jiao, “menjeputku? Apakah kau ibuku?”
Dia tidak muncul, dan hanya mengamati dari jauh. Dengan tingkat kekuatannya sekarang, dia tidak perlu mendengar dari dekat percakapan itu. bahkan dari jaraknya, dia mampu melihat jelas apa yang sedang terjadi di dalam rumah.
Su Jiao kemudian meminum minuman, kemudian bertanya, “Apakah kau mau pergi bersamaku?”
Xuan Yi berpikir sebentar. “Nyonya, benarkah diri anda adalah ibuku?”
“Kita akan mengetahuinya nanti. Bagaimana, apakah kau mau pergi bersamaku?”
Xuan Yi mengangguk. “Tunggu sebentar, aku mengemasi barang-barangku dulu.”
Saat itu, mengenai ketenaran Xuan Yi, Su Jiao dan Gu Heng telah mengetahuinya, bahkan dia sendiri yang sering membunuh orang-orang yang ingin membunuhnya.
Jika mereka membawa terang-terangan Xuan Yi, maka semua penduduk akan tahu, sehingga informasi keberadaannya pun akan dengan mudah menyebar. Maka dari itu, Gu Heng pergi mencari tubuh pengganti Tuan putri dan membuat alur, seolah Tuan putri telah di bunuh, yang sebenarnya itu adalah gadis lain yang tidak tahu apa-apa.
Kemudian setelah semua selesai, dan Tuan putri pergi tanpa ada yang mengetahui, Gu Heng tidak pergi, dia akan mengamati apa yang terjadi, dan bagaimana reaksi para warga. Semuanya berjalan baik, tapi ketika di sore hari, dia melihat seorang pemuda, yang tidak lain adalah Yan Lin. Dia mendatanginya dan bersiap untuk membunuhnya.
Tapi pemuda yang datang itu adalah orang yang di kejar oleh kelompok dengan tujuan tertentu. Gu Heng merasa anak itu dapat di manfaatkan dan menolongnya di kemudian hari.
Yan Lin menatap tajam ke arah Gu Heng. “Apa yang akan kau lakukan kepadaku setelahnya jika aku memilih pergi bersamamu?”
“Hanya mengharapkan balas Budi.”
Dengan keadaannya, Yan Lin tidak punya pilihan lain selain mengikutinya. Dia kemudian di bawa dan serangkaian pembunuhan pun dilakukan untuk menipu kelompok itu.
Setelahnya, Gu Heng harus menyelesaikan masalah-masalah dari apa yang telah di perbuatnya.
Ketika matahari setengah muncul di timur, dia mendatangi kuburan Xuan Yi palsu dan Tong Mu. Di sana dia bertemu dengan ibu dari anak yang dia bunuh.
Setelah menebar kelopak bunga, dengan wajah penuh kesedihan, wanita itu menyadari kehadiran Gu Heng dan menatapnya tajam.
“Meski ini untuk tuan putri, aku tidak rela anakku menjadi korban. Tuan, jika anda membiarkan aku hidup, mala petaka akan cepat datang.”
Dia kemudian mengeluarkan pisau dari bajunya, kemudian berteriak dan berlari menuju Gu Heng.
Dalam sekejap, kilatan biru muncul di tubuh wanita itu, dan bunga-bunga persik di keranjangnya bertebaran seperti hujan bunga persik.
__ADS_1
Darah keluar dari dada kirinya, dan pedang telah menusuknya.
Tidak ada keprihatinan di mata Gu Heng saat melakukannya, dia terlalu berpengalaman dalam melakukan pembunuhan.
Kedua mata wanita itu terbuka lebar-lebar, tapi tatapannya sangat bisu dan penuh penderitaan. Mulutnya sedikit terbuka dan mengeluarkan seteguk darah. Dan terakhir, pisaunya perlahan-lahan terjatuh. Kedua tangannya melemah, kemudian dia menunduk, akhirnya mati.
Gu Heng menarik pedangnya dan mayat itu tergeletak di atas taburan bunga-bunga berbagai jenis warna.
Dia kemudian pergi mendatangi tempat selanjutnya, yang di mana dia mendapatkan pengganti Yan Lin.
Pergi ke sebuah rumah, seorang Kakek buta telah duduk di bawah pohon. Dia tidak pernah melihat muka Gu Heng, tapi dari bau yang terpancar, dia menyadari Gu Heng adalah orang yang telah menculik dan membunuh cucunya.
Ketika pria itu datang, kakek itu tidak bereaksi sama sekali. Matanya yang redup terus memandang ke depan dan dia sepertinya menikmati lembutnya angin.
Tidak lama kemudian, akhirnya dia membuka mulutnya. “Tuan, apa yang anda lakukan salah.”
“Aku tahu, oleh karena itu aku datang meminta maaf. Aku harus melakukannya.”
Kakek itu terdiam beberapa saat. “Aku merasa pembunuhan dan minta maaf telah menjadi sesuatu yang umum di lakukan.”
Mereka kemudian saling terdiam. Kemudian darah tiba-tiba menetes dari bibir kakek itu. Matanya kembali tertutup dan akhirnya dia mati.
Gu Heng hanya menatapnya, kemudian pergi.
Kakek itu membunuh dirinya sendiri dengan racun, sebelum Gu Heng datang.
Mendengar pertanyaan Su Jiao, Gu Heng membuka kerudungnya dan meperlihatkan wajah Pria 40 tahunan dengan kumis dan rambut pirang.
“Aku telah menyelesaikannya.”
Su Jiao kemudian berdiri. Rambut panjang hitam itu terlihat sangat Indah dan jika dari samping, wajah wanita umur 30 tahunan itu sangat cantik.
Gu Heng menatapnya lama, kemudian menggeleng. Dia tidak akan pernah mendapatkan cintanya. Meski dia telah mempunyai anak, Gu Heng masih menyukai wanita anggun itu.
“Gu Heng, dalam beberapa hari lagi akan ada seleksi penerimaan murid dari ketiga Sekte, kau harus menghadirinya dan menjaga tuan putri.”
Gu Heng mengangguk, kemudian dia berdiri dan menghilang.
Su Jiao lalu pergi tidur.
__ADS_1