
Di tempat tidur tampak seorang wanita dengan balutan piyama terlelap dengan nyaman. Matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka, rambutnya yang terurai terlihat berantakan. Sedikit dengkuran halus terdengar. Tidurnya tampak nyenyak memeluk guling dengan erat.
Lampu di ruangan itu sengaja dimatikan agar suasana malam lebih dapat. Gabriel yang sebenarnya belum tidur dari tadi melepaskan pelukannya dari Rara. Ia bangun dan menghampiri kulkas dengan bantuan penerangan lampu tidur yang cahayanya remang-remang.
Gabriel membuka kulkas tersebut dan mengambil kueh ulang tahun yang sudah disiapkan-nya. Kueh tersebut murni hasil buatan tangan dari seorang Gabriel. Ia ingin memberikan yang spesial di hari ulang tahun Rara. Tidak perlu ulang tahun yang ke 17 harus dirayakan megah-megahan, cukup dengan sederhana itu yang menyenangkan.
Gabriel tersenyum melihat Rara yang tertidur pulas. Wajah Rara yang lugu membuatnya selalu ingin mengembangkan senyum. Gabriel membuka ponselnya dan melihat jam di sana. Ia bernapas lega karena hari belum menunjukkan jam 12 malam. Ia pun mengambil lilin yang berbentuk angka 17 dan diletakkan di atas kueh tersebut. Kemudian Gabriel menyalakan lilin tersebut menggunakan pemetik.
"Baru kali ini gue ngerayain ulang tahun istri gue," ungkap Gabriel sedikit geli sebab mereka masih kecil tetapi sudah menikah.
Gabriel juga sudah menyiapkan bunga yang juga dirangkai nya sendiri di tempat penjual bunga. Ia bahagia bisa melakukan itu, meski merangkai bunga mawar yang penuh dengan duri membuat telunjuk tangannya menjadi korban.
Tak lama layar handphone Gabriel menyala, ia menatap layar ponselnya yang menyala tersebut dan menandakan jika hari sudah menujukan jam 00:00 WIB. Ia tersenyum lalu menghampiri ranjang yang ada Rara meringkuk di sana sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun dalam bahasa Inggris.
"Happy brithday to you."
"Happy brithday to you."
"Happy brithday, happy brithday, happy brithday to you."
Rara mendengar suara Gabriel yang menyanyikan lagu ulang tahun itu pun langsung membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menguceknya. Setelah dengan jelas melihat apa yang terjadi, Rara langsung menutup wajahnya dengan malu.
"Jadi Gabriel tau kapan ulang tahun Rara?" Tanya Rara sambil bangun dari rebahannya dan duduk dengan selimut yang masih membungkus.
"Tentu aku ingat. Kamu kan istri aku, jadi aku tau kapan ulang tahu mu."
"Tapi tadi sore Gabriel bilang enggak tau."
"Kalau gue bilang tau nggak surprise dong," ujar Gabriel menjelaskan maksud mengapa ia mengatakan tadi sore jika dia tidak tau kapan ulang tahun Rara. "Ayo ditiup lilinya yang, entah keburu habis lagi."
Rara tersenyum ia menyampirkan rambutnya ke samping, lalu meniup lilin tersebut hingga padam, dan jadinya lah mereka hanya diterangi oleh lampu tidur. Gabriel menyerahkan bunga mawar merah ke Rara, dan Rara menerimanya.
Perempuan tersebut mencium bau wangi yang dikeluarkan bunga tersebut dalam-dalam. Ia memeluk bunga itu lalu meraih kertas yang tertera di sana. Dibacanya kertas tersebut.
'Rara I LOVE YOU.' Isi tulisan kertas tersebut.
"Too." Kata Rara sumringah seraya mencium pipi Gabriel kilat.
Gabriel mengusap bekas ciuman Rara tersebut kemudian mengacak rambut Rara dengan sayang. Ia meletakkan kueh yang ada di tangannya ke atas kasur. Gabriel pun memotong kueh itu dengan bentuk yang panjang.
"Panjang banget. Itu buat aku? Kecil aja," sargah Rara memberi saran seraya memperhatikan Gabriel yang memotongkan kueh untuknya.
"Ini bukan untuk kamu, tapi untuk kita berdua."
"Hah? Maksudnya?" Tanya Rara tak mengerti, tapi Gabriel tidak mempedulikan wajah Rara yang terkejut ketika mulai memahami.
Gabriel menusuk potongan kueh tersebut menggunakan garpu kecil. Ia mengarahkan Rara agar menggigit bagian ujung yang diberikan Gabriel, sedangkan Gabriel menggigit bagian satunya. Mata mereka bertemu dengan jarak yang dekat, sejenak keduanya terdiam. Mata Rara tak dapat lepas dari perangkap bola mata Gabriel yang indah itu.
Gabriel menjauhkan garpu yang menghalangi bibir mereka untuk bertemu. Alhasil bibir itu saling menempel, Rara terdiam karena masih syok dengan apa yang telah terjadi. Bahkan ia tak menyadari jika Gabriel sudah menyenderkannya ke kepala ranjang. Tangan Gabriel menahan tengkuk Rara agar tak bergerak saat ia memperdalam ciuman tersebut. Rara ikut membalas Gabriel dengan tuntunan Gabriel yang menyuruhnya membuka mulut.
"Ga-Gabriel dada Ra-Ra ses--sesak," ucap Rara terbata-bata di tengah ciuman mereka.
Gabriel melepaskan bibir tersebut lalu menghela napas dalam. Hampir saja dia kelepasan. Ia menatap wajah Rara yang tiba-tiba berubah merah disertai di bagian mata. Tampak Rara hendak menangis. Gabriel terkejut melihat perubahan itu, cepat ia meraih tubuh Rara dan dibawa ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku Ra. Jangan nangis," ujar Gabriel seraya mengusap rambut Rara dengan lembut dan ia pun memberi kecupan di kepala Rara.
"Hiks, Gabriel nggak salah. Rara cuman teringat sama papa. Biasanya papa yang cium Rara di tengah malam begini sama Mama. Tapi malam ini cuman ada Gabriel, papa nggak ada, Mama juga. Pasti Mama nggak bisa kasih Rara surprise karena nggak ada papa dan ada Gabriel di sini."
Gabriel mengurangi pelukan mereka lalu menatap wajah Rara dengan senyuman lembut. Ia mengusap air mata yang menetes. Ia pun mencium kening Rara, kedua mata, hidung dan terakhir bibir.
"Kata kamu cuman orang lemah yang menangis. Kamu mau menjadi orang lemah? Papa mu mengatakan ingin melihat mu kuat, kamu harus kuat Ra agar papa mu di sana melihat mu yang ulang tahun juga ikut tersenyum. Nggak boleh nangis. Mending kamu berdoa aja kepada Allah meminta harapan mu di ualng tahun yang ke tujuh belas ini."
__ADS_1
Rara mengangguk antusias, ia tersenyum sembari mengusap air matanya kasar. Rara menadahkan tangannya ke atas membentuk seperti sedang meminta. Ia mengucapkan kata-kata yang ingin ia minta kepada Tuhan.
"Ya Allah semoga di umur Rara yang ke tujuh belas ini Rara bisa lebih baik, rajin, berbakti kepada Mu, Nabi Mu, orang tua, dan terakhir suami hamba Ya Allah. Dan semoga papa di sana bahagia, Ya Allah sampaikan salam Rara ke papa, kasih tau papa kalau Rara merindukannya." Gabriel terharu mendengar doa Rara yang tampak tulus. Ia menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, dan mengusap punggung Rara tanda perhatian.
"Aku sayang kamu Ra. Kamu pasti bisa jalani semua ini bersama ku yang akan selalu ada di sisi mu."
"Jinjja!!"
"Ishhh aku serius Ra." Kata Gabriel seraya mencubit hidung Rara hingga memerah.
"Janji Gabriel bakal jagain Rara? Kalau gitu apa hadiah ualng tahun Rara hmm?" Rara mengedarkan pandangan matanya ke seluruh arah tapi tak menemukan kotak seperti kado. Ia menatap nyalang pria tersebut. "Gabriel nggak punya kado ya?"
Gabriel tak menggubiris Rara yang sedang cemberut kepadanya. Setelah puas melihat wajah kesal itu, Gabriel pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan suatu benda berbentuk hati dari sana. Rara ternganga saat mengetahui benda apa itu, itu adalah tempat perhiasan.
Rara semakin dibuat tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa setelah Gabriel membuka benda tersebut. Tangannya gemetaran saat hendak menyentuh benda yang terdapat di sana.
"Gabriel ini seriusan?" Tanya Rara memastikan jika benda yang ada di depannya ini untuk dirinya. Rara bahkan tidak bisa bernapas saat melihat kalung bermatakan berlian, apalagi Rara melihat lebel yang tertera di sana. Sulit dipercaya jika harga kalung itu seharga 2 Miliar lebih. What the hell? Nggak salah apa Gabriel mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk dirinya?
"Iya ini benar buat kamu."
Gabriel mengambil kalung itu dan memasangkannya ke leher Rara. Rara hanya diam saat kalung mahal itu melingkar di lehernya. Memang masih belum bisa percaya, tapi ketika kenyataan menamparnya di depan mata Rara mulai sadar jika ini memang bukan di negeri novel, ini nyata adanya.
"Gabriel belinya pakai uang siapa?" Rara tidak mau menerima kalung ini jika Gabriel membelikan kalung tersebut dari hasil kerja payah orang tuanya.
"Uang tabungan aku Ra!"
Rara mangguk-mangguk paham. Dalam hatinya saat ini mulai merasakan lega yang luar biasa jika kalung ini hasil dari tabungan Gabriel. Setidaknya tabungan itu adalah salah satu bentuk usaha Gabriel, meski pun Gabriel belum bekerja.
"Terima kasih untuk malam ini."
Gabriel menerima ucapan Rara tersebut. Dia pun menyingkirkan kueh yang masih berada di tengah-tengah mereka ke atas nakas. Ia duduk menghadap Rara dan membelai wajah Rara dengan nyaman.
"Sudah tidur lagi. Besok kita harus siapkan barang-barang kamu yang ada di sini dibawa ke rumah ku."
"Jangan jahil atau Gabriel tidur di sofa?"
"Jangan dong yang. Entar siapa yang bakal peluk aku kalau tidur di sofa?"
"Kalau gitu jangan cium-cium lagi. Nggak capek apa cium Rara mulu?"
Gabriel menyumpal mulut Rara yang cerewet tersebut dengan kecupan singkat. Setelahnya ia memperdalam pelukannya dengan Rara dan memejamkan mata.
"Hsyutt diam. Atau kamu nggak bisa tidur semalaman!"
_______
Rara membuka matanya yang terasa lengket. Perlahan ia menatap ke arah tangan seseorang yang melingkar di perutnya. Rara tersenyum melihat tangan tersebut. Ia menjuhkan tangan itu dari atas perutnya.
"Gabriel bangun sudah subuh." Rara menepuk pipi Gabriel agar lelaki itu segera sadar dari alam mimpi.
Merasakan seseorang memukul pipinya membuat Gabriel merespon dengan keluhan karena telah dibangunkan dari mimpi manisnya.
"Dasar kebo," umpat Rara ketika melihat Gabriel yang kembali tertidur. Ia menarik napas penuh kesabaran, dia harus berpikir bagaimana caranya membangunkan lelaki itu.
Tidak kehabisan ide, Rara tersenyum saat melihat kueh ulang tahunnya yang banyak meninggalkan sisa. Rara mengambil kueh tersebut dan mencoleknya sedikit, kemudian menempelkan tangannya yang kotor dengan kueh tersebut ke pipi Gabriel. Hal tersebut terus dilakukannya, namun Gabriel sama sekali tak terbangun.
"Ishh nih anak harus dibanguni pakai apa."
Rara memetik jarinya di udara saat mendapatkan ide berlian untuk membangunkan seseorang. Cara tersebut pernah ia dengar saat pak Ustad ceramah di Masjid. Mungkin cara tersebut akan ia peraktekan sekarang.
Rara mendekatkan wajahnya ke telinga Gabriel lalu berteriak sekencang mungkin.
__ADS_1
"INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN!!!!"
Gabriel pun membuka matanya cepat ketika lapal itu terucap keras di telinganya. Ia memandang ke samping tapi yang didapatkan Gabriel adalah Rara yang sedang menyengir.
Gabriel menghela napas dan bangun dengan wajah yang kesal. Ia duduk berhadapan dengan Rara bermaksud ingin memberi pelajaran kepada perempuan tersebut.
Rara yang melihat Gabriel tepat di depannya susah payah menahan tawa ketika melihat wajah Gabriel yang penuh dengan kueh yang berlepotan di sana.
"Kenapa kamu senyum-senyum nggak jelas gitu?" Tanya Gabriel sambil mencari sekalar dan menghidupkan lampu di kamar mereka.
Rara cepat tersadar saat Gabriel berucap tersebut. Mungkin pergi menjauh secepatnya sebelum Gabriel menyadari itu yang lebih baik.
"Oh nggak papa. Emm aku ke kamar mandi dulu ya. Orang sudah adzan Magrib."
Rara berlari ke arah tempat mandi di kamarnya. Gabriel mengernyit heran menatap punggung Rara yang sedang berlari terburu-buru seperti sedang menghindari sesuatu. Ia menggeleng tidak peduli dan turun dari ranjang.
Saat melewati meja rias tak sengaja Gabriel melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Terkejut, mungkin itu adalah suatu kata yang mewakili perasaannya sekarang. Mengapa tidak? Gabriel baru menyadari jika wajahnya merasa ada perbedaan.
Dan ternyata perbedaan yang terasa aneh itu karena wajahnya telah dipenuhi dengan kueh ulang tahun. Pantas rasanya lengket sekali.
"Dasar perempun itu habislah kamu Rara!!"
"Rara!!!"
Gabriel masuk ke dalam kamar mandi, sebab Rara berada di dalam sana untuk menggosok gigi. Di sana ia melihat Rara yang sedang mematung seraya menutupi wajahnya takut dengan kemarahan Gabriel.
"Maafkan Rara. Habis-nya sih Gabriel nggak bangun-bangun juga pas Rara bangunkan tadi. Jangan marah dong plisss," pinta Rara dengan menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon. Matanya mengerjap-ngerjap lucu berharap Gabriel akan kasihan kepadanya dan tak memarahinya.
Gabriel paling tidak bisa marah jika Rara memohon seperti itu. Ia menarik napas panjang dan berjalan melalui Rara begitu saja. Ia membasuh wajahnya yang penuh dengan kueh ulang tahun tersebut dan menepis tangan Rara yang hendak membantunya.
"Gabriel boleh Rara bantu?"
"Nggak."
"Gabriel marah ya sama Rara?"
"Enggak."
"Terus Gabriel kenapa?"
Gabriel melirik Rara sekilas lalu menyambar bibir perempuan tersebut dengan ciuman dalam. Ia memasukkan lidahnya di dalam mulut Rara dan mengabsen gigi Rara yang sudah digosok tersebut satu-satu, Rara yang semula diam tampak ikut membalas permainan Gabriel.
Gabriel menyenderkannya tubuh Rara ke dinding kamar mandi. Keduanya berciuman dengan panas dan penuh nafsu di sana. Rara melingkarkan tangannya ke leher Gabriel untuk menahan dirinya agar tak merosot ke lantai akibat persendiannya yang melemah secara tiba-tiba.
Gabriel melepaskan ciuman tersebut dan menempelkan kepalanya di dahi Rara. Napasnya yang hangat memburu hingga menerpa wajah Rara yang memerah.
"Aku lapar Ra!"
"Kalau lapar makan dong."
"Aku pengennya makan kamu!!"
"Hah?"
Gabriel tidak menimpali Rara, tapi ia malah menarik tali piyama Rara hingga piyama tersebut jatuh ke lantai dan hanya pakaian dalam tersisa di tubuh Rara, kemudian Gabriel mendorong Rara ke dalam bath-up. Cowok itu pun ikut masuk ke dalam bath-up menyusul Rara.
______
Tbc
Hayuuu kalian pada mikirin apa? Jangan pikirin yang aneh-aneh, puasa sayang....
__ADS_1
Bagaimana menurut kalian dengan part ini?
Like, komen, dan vote jika berkenan. Terimaksih.