
Melihat Gabriel berada di ambang pintu membuat Rara tercekat dan ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup saat ini. Ia pun mendorong tubuh Revan yang besar hingga cowok tersebut menjauh dari dekatnya.
"Gabriel ini nggak sesuai sama yang Gabriel pikirin. Rara sama Revan nggak ngapa-ngapain kok." Rara berusaha menjelaskan namun Gabriel terlihat tidak mempedulikan.
Fokus netranya terarah pada
Revan. Ia menatap laki-laki tersebut seperti ingin menelannya hidup-hidup. Sama dengan Revan, ia pun menatap tajam mata elang Gabriel.
Gabriel berjalan mendekati Revan dan tersenyum miring saat sampai di depan laki-laki itu. Ia meneliti penampilan Revan yang masih menggunakan seragam basket. Kemudian telusuran pandangannya jatuh pada anting yang dikenakan Revan.
Gabriel mendecih sambil meraih anting tersebut kemudian menghempaskannya. Tatapan menghina Gabriel itu pun hanya dinikmati oleh Revan. Ia bersedekap dada dan membiarkan Gabriel menatap seluruh tubuhnya.
"Kenapa? Sudah jelas bukan Rara juga menyukai gue? Lebih baik lo putuskan dia, sebelum kami bermain di belakang lo."
Rara kaget bukan main mendengar ucapan ngelantur Revan. Jelas ia sama sekali tidak pernah menyukai Revan, tapi kenapa laki-laki itu dengan seenak dengkulnya berkata seperti itu? Rara tidak bisa tinggal diam.
"Jangan percaya Gabriel, Rara nggak pernah suka sama Revan. Revan kan, pacar Cilla, jadi kenapa Rara mesti suka sama Revan."
"Lo lebih percaya dia atau mata lo sendiri? Lo liatkan tadi apa yang kami lakukan berdua di sini?"
Rara menggeleng memberi isyarat kepada Gabriel bahwa apa yang dikatakan Revan tidak memiliki bobot kebenarannya.
"Benar itu Ra?"
"Enggak Gabriel!!!" Bantah Rara dengan air mata yang sudah keluar dari manik perempuan itu.
Sedangkan Revan hanya bersiul di dalam toilet tersebut sembari menatap pertunjukan gratis di depannya. Namun kenikmatan yang sedang berlangsung tersebut berakhir sebelum mencapai klimaks. Tiba-tiba saja ia mendapatkan tinju dari Gabriel.
"Shitt," umpat Revan seraya meluruskan pandangan pada Gabriel yang sudah menarik tangan Rara menjauh dari toilet tersebut.
Tampak Gabriel tidak menghiraukan Rara yang terus berceloteh mengatakan kejelasan yang sebenarnya kepadan pria itu agar cowok tersebut tidak salah paham. Tapi Gabriel tak menghiraukan itu, ia tetap menyeret Rara ke mobil, sebab jam sekolah berakhir dengan cepat karena adanya rapat guru dengan sekolah lain maka para murid dipulangkan.
"Masuk!" Perintah Gabriel dingin.
"Gabriel percayakan sama Rara?"
Lagi-lagi ucapan Rara tak didengarkan oleh Gabriel. Bukan balasan atas ucapannya yang ia dapatkan tapi malahan bentakan bernada dingin yang memenuhi telinganya.
Rara menghentakkan kaki sambil masuk ke dalam mobil. Bibirnya mengercut melihat Gabriel yang bersikap seperti dulu lagi ke dirinya. Kepingin sekali hati Rara menyantet Revan di detik itu juga.
Rara spontan menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangan saat mendengar bantingan pintu mobil yang cukup keras dan dilakukan oleh Gabriel.
Cowok tersebut menghidupkan mesin mobil dan tidak mendengarkan seruan Rara dari samping, ia malah menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi dan membelah keramaian kendaraan.
________
Sesampainya di depan Rumah, Gabriel keluar terlebih dahulu sambil mengambil tas nya dan diletakkan di punggung. Ia berjalan menuju rumah dan tidak peduli dengan Rara yang masih di dalam mobil.
"Gimana jelasin nya? Ini semua gara-gara Revan, kenapa sih tu cowok betah amat di kehidupan gue, keknya tu anak minta ditampol dulu dah baru nggak gangguin hidup gue lagi." Rara sibuk berbicara sendiri di dalam mobil.
Ia menatap ke arah punggung Gabriel yang sudah menghilang dari pandangan sebab lelaki tersebut sudah masuk ke dalam rumah. Raut sedih terpancarakan dengan jelas di wajah Rara, Gabriel sebelumnya selalu membukakan pintu mobil untuknya dan tidak pernah meninggalkan dia sendirian di dalam mobil.
Tapi apa yang ia tengah rasakan saat ini benar-benar membuat hati Rara diporak porandakan. Ia tidak bisa diperlakukan seperti ini, tapi kenapa Gabriel tega melakukan itu dan tak mau mendengar satu pun penjelasan yang keluar dari mulutnya.
Ia merasa percuma meratapi nasib dengan masih di dalam mobil. Lantas Rara pun membuka pintu mobil sendiri dan lari mengejar Gabriel untuk menjelaskan semuanya.
"Semoga aja hubungan Rara dan Gabriel tetap baik-baik aja." Itu lah doa Rara sebelum membuka pintu kamar dan mengintip sedikit dari celah pintu yang terbuka.
__ADS_1
Rara melihat Gabriel sedang merenung di tepi jendela seorang diri. Ia yang melihatnya merasa sangat bersalah besar dan telah melakukan dosa yang tak termaafkan.
Lantas ia pun berjalan mendekat dan memeluk tubuh Gabriel dari belakang.
Merasa ada seseorang yang memeluk tubuhnya, Gabriel hanya melirik sekilas dan kembali memandang ke depan.
"Gabriel nggak percaya sama Rara?" Tanya Rara sedikit sedih, ia menangis di belakang Gabriel dan air matanya membasahi seragam yang suaminya itu kenakan.
"..."
Ia tau jika Gabriel merasa sangat kecewa besar kepadanya. Tapi apa yang dilihat Gabriel bukanlah sesuai dengan apa yang terjadi di kenyataan.
Jadi Rara harus bagaimana jika Gabriel sendiri tidak mau mendengar penjelasannnya, apakah ini saatnya ia akan mengatakan itu kepada Gabriel?
"Ya sudah kalau Gabriel tidak mau dengerin Rara, tapi yang perlu Gabriel ketahui adalah, Rara sama sekali tidak ada hubungan dengan Revan di belakang Gabriel. Apa yang Revan katakan tadi adalah bohong. Dia yang nahan Rara di kamar mandi dan berusaha buat cium Rara, tapi Rara nggak mau. Terserah Gabriel mau percaya apa enggak tapi itu kebenarannya."
Rara tersenyum tipis dan menjauhkan tangannya dari tubuh Gabriel. Ia berbalik sambil berjalan menuju meja belajar hendak meletakkan tas ransel yang masih berada di punggungnya.
Ketika tas tersebut terlepas dari punggungnya dan berniat untuk meletakkan di atas meja, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya hingga Rara pun berbalik dan ia terkejut setengah mati sebab dengan gerakkan cepat bibir lembut dan kenyal itu menempel di bibirnya.
"Ga-Gabriel," lirih Rara di tengah ciuman mereka, tas di tangannya pun jatuh ke lantai.
Gabriel meneruskan kegiatannya tidak peduli dengan Rara yang membrontak karena ia melakukannya dengan sangat kasar. Napas Rara juga sudah tersengal-sengal yang disebabkan oleh ciuman Gabriel yang terkesan terburu-buru dan menuntut.
Setelah birahi Gabriel terpuaskan dengan ciumannya dengan Rara, Gabriel pun berpindah tempat menciumi bagian leher Rara hingga satu desahan keluar dari bibir perempuan tersebut. Gabriel melakukan itu sebagai bentuk hukuman untuk wanita itu.
"Gabriel jangan gitu, Rara nggak mau. Lepasin Rara." Mata Rara membekak akibat menangis, hidungnya sembab.
Mendengar tangisan Rara yang terdengar sangat tersiksa pun lantas membuat Gabriel menghentikan perbuatan bejatnya meski Rara adalah istrinya, sebab jika Rara menolak dengan yang dilakukannya maka itu sama saja dengan pelecehan.
Rara terhenti terisak dan menatap Gabriel dengan pandangan tidak percaya. Bisa-bisanya Gabriel mengambil kesimpulan seperti itu. Rara merasa sakit mendengar itu dan merasa direndahkan.
"Sudah Rara katakan jika Rara nggak punya hubungan sama Revan?!!! Gabriel jangan nuduh Rara seenaknya. Rara juga punya perasaan, meski Rara ini centil tapi itu hanya untuk Gabriel. Rara nggak begitu sama laki-laki lain. Cuman sama Gabriel, ingat itu CUMAN SAMA GABRIE!!!"
Rara menatap mata Gabriel dengan tatapan terlukannya. Sedangkan Gabriel masih bersikap biasa-biasa saja dan jangan lupakan pandangan dinginnya.
Rara tersenyum masam, tadi ia mendengar Gabriel berkata dengan tidak biasanya yaitu menggunakan 'lo gue' dan jika itu diucapkan Gabriel kepadanya sudah dapat disimpulkan dengan jelas jika Gabriel sedang marah dengannya.
"Lo pikir gue percaya? Orang zaman sekarang itu pada pinter-pinter. Apalagi kalau akting, tapi sayang akting lo nggak mempan sama gue."
"Sudah Rara katakan kalau Rara tu nggak bohong!!!"
"Kalau gitu lo jelaskan kenapa lo bisa berduaan dengan Revan di toilet dan juga kenapa Revan terlihat mengejar-ngejar lo seperti lo sudah kenal lama dengan dia. Apa lo sudah kenal dia sebelumnya hah?!!!
Rara tersentak mendengar ucapan Gabriel. Dadanya berdegup kencang, ia tidak tau harus mengatakannya seperti apa. Rara hanya bisa menangis dengan kejadian ini. Situasi yang sedang menimpanya benar-benar sangat buruk.
Rasanya Rara ingin mati saja saat ini. Ia menunduk tak tahu harus berbuat apa.
"Kenapa lo diam? Apa itu benar?" Gabriel terkekeh dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rara, "Jadi lo kenal dengan Revan? Atau dia mantan pacar lo lagi yang minta balikkan? Sudahlah Ra ngaku aja, semenjak lo ketemu Revan gue sudah curiga kalau ada yang kalian sembunyikan. Tega lo Ra ngehianatin Cilla padahal dia sangat mencintai Revan."
"Gabriel CUKUP!!! Rara emang pernah kenal dengan Revan. Dia itu laki-laki berengsek yang Rara kenal. Revan itu terobsesi dengan Rara, makanya dia mau cium Rara tadi di WC, dan sengaja bohongi Gabriel tentang di toilet tadi supaya kita marahan. Revan itu sahabat Rara waktu SMP sama dengan Reza dan Adhan dan dia cinta sama Rara.
Tapi Rara nggak terima cintanya karena saat itu Rara sukanya sama Gabriel. Dia marah sama Rara terus mau perkosa Rara karena dia mikir cuman itu jalan satu-satunya buat milikkin Rara.
Tapi beruntung Rara belum sempat diapa-apain sama Revan, Reza dan Adhan datang sama ayahnya Rara. Beruntung Rara selamat, setelahnya Rara sering keinget kejadian itu, Rara selalu menyendiri di dalam kamar. Dada Rara sakit setiap kali ingat itu dan Rara pasti mimisan. Rara depresi selama setahun. Dan kini Revan datang lagi dan mengingatkan Rara dengan kejadian itu. Revan memang tidak pernah berubah, dia masih kukuh dengan kemauannya. Mungkin ini sudah jelas buat negejelasin semuanya ke Gabriel. Terserah Gabriel percaya atau tidak."
Rara tertunduk lesu stelah menjelaskan semuanya. Ia menangis tanpa suara. Sedangkan Gabriel masih menjadi patung di tempatnya usai mendengar penjelasan dari Rara. Tidak ada reaksi yang ditunjukkan Gabriel dengan masa kelam yang dialami Rara.
__ADS_1
"Kenapa lo nggak cerita? Coba lo cerita dari dulu, gue nggak akan salah paham seperti ini. Dan mungkin gue bisa saja habisi Revan saat itu juga."
"Hiks-hiks-hiks Gabriel, Rara saat itu belum siap cerita semuanya. Dan jika Rara cerita, berarti sama saja Rara mengungkit rasa sakit Rara kembali."
Gabriel menatap Rara yang dalam kondisi berantakan di depannya. Ia menyeringai penuh arti ke arah Rara, sungguh bukan Gabriel yang biasanya.
"Lo nggak ngarang ceritakan supaya gue luluh dan lupain masalah ini?"
Plakkk
Rara menampar pipi Gabriel hingga wajah laki-laki itu tertoleh ke samping. Rara merasa tersinggung dengan ucapan Gabriel, di dalam ucapan Gabriel sangat jelas mengisyaratkan jika Rara adalah wanita murahan.
"Seharusnya di sini bukan Gabriel saja yang marah. Rara juga berhak marah. Sekarang jelaskan ke Rara apa maksud buku catatan harian berwarna kuning itu, dan segala macam foto Cilla yang dari kecil sampai besar di lemari Gabriel. oh jangan lupakan kata-kara cinta yang kamu tulis di memo dan buku curhat warna pink itu. Nggak mungkinkan kalian sekedar sahabat? Sahabat tidak sampai ada melibatkan hati."
Keadaan terasa berbalik, kini Gabriel lah yang merasa tersudutkan dengan pernyataan Rara barusan. Ia menggeram karena Rara sudah menyelidikinya sejauh itu.
Urat-urat Gabriel mengeras, tangannya di bawah sana mengepal siap dipukulkan ke benda apa saja. Napasnya memburu tak beraturan, matanya memerah karena Rara sudah mengatakan hal yang sensitif baginya.
"Berani-beraninya lo katakan itu!!!"
Gabriel melayangkan tangannya ke wajah Rara dan Rara memejamkan mata bersiap menerima tamparan dari telapak tangan Gabriel yang besar.
Namun bukan suara kulit bersentuh kulit yang terdengar, tetapi melainkan suara kulit dan tembok yang terdengar memekakkan telinga. Lantas Rara pun membuka matanya, dan ia terkejut saat melihat Gabriel memukul tembok dan tangannya sudah penuh dengan darah.
"Ga-Gabriel."
Rara menatap takut-takut ke arah Gabriel yang sudah menangis dan membuang wajahnya dari hadapan Rara. Rara menatap punggung Gabriel tidak percaya.
"Lo mau tau Ra, kenapa gue banyak koleksi foto Cilla dan membuat sajak tentangnya? Itu karena gue mencintai Cilla bahkan sampai detik ini."
"Ma-maksudnya?"
"Gue mencintai Cilla," kata Gabriel masih memandang ke depan.
"Ke-kenapa bisa?"
Gabriel berbalik dan menatap mata indah Rara dengan matanya yang penuh dengan air. Ia tersenyum sambil menangis. Cuaca di hari ini pun selaras dengan perasaan kedua sejoli itu. Di luar tiba-tiba angin bertiup kencang dan petir saling menyambar, kemudian terjadilah hujan.
"Karena dia sahabat gue satu-satunya di saat semua orang menjauh dari gue." Gabriel menatap Rara yang masih bingung, "Gue nggak yakin Ra lo masih suka sama gue setelah lo tau ini. Gue itu anak HARAM Ra, makanya orang nggak mau temenan sama gue, dan di saat gue seperti itu yang ada cuman Cilla. Makanya gue cinta sama dia dari kecil."
Rara menggeleng tak percaya. Ia menangis sesugukkan dan isak tangisnya seirama dengan rintik hujan.
"Tapi sekarang aku cintanya sama kamu Ra! Tapi aku tidak yakin kamu masih nerima aku setelah tau siapa aku," ucap Gabriel dengan lirih dan berniat menjauh dari hadapan Rara.
Tapi Rara mencegat Gabriel dengan ciuman di bibir laki-laki itu. Ia mengalungkan tangannya di leher Gabriel. Gabriel pun cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Rara.
"Cinta tidak mengenal siapa dia, apa pun masa lalunya. Masa lalu bukan untuk diulang tapi untuk dikenang. Jadi singkirkan masa lalu dan kita tata masa depan bersama. Kita sama-sama punya masa lalu, dan Rara berharap masa lalu adalah pelajaran untuk kita. Dan Rara mohon agar masalah ini dirahasiakan dari Cilla, Rara nggak mau Cilla sedih mendengar ini."
Gabriel tersenyum dan langsung memeluk Rara. Ia menyembunyikan kepalanya di ceruk leher wanita itu sambil menangis.
"Terima kasih untuk semuanya."
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR, DAN VOTE.
__ADS_1