Underage Marriage

Underage Marriage
Part 45


__ADS_3

Napas Dive memburu tak beraturan seperti habis dikejar sesuatu yang menakutkan. Setelah dokter yang menangani Cilla keluar, Dive langsung menghampiri Revan dan menyeretnya ke suatu tempat.


Baru saja Arsen memperingatinya harus berhati-hati dengan Revan dan dia juga tadi sempat tidak mempercayai keburukan Revan yang dikatakan Arsen. Dan kini dirinya langsung disuguhkan bukti langsung setelah ungkapan tak percayanya tadi.


Bughh


Satu tinjuan memukul tepat di depan rahang Revan. Wajah yang penuh dengan ketampanan alami itu langsung tertoleh dan posis tubuhnya sedikit bergerak.


"Apa maksud kamu melakukan semua ini?!!!" Tanya Dive tegas dan bahkan pistol sudah diletakkan di kening Revan.


Revan menarik napas dalam dan menatap Dive ayah dari pacarnya itu dengan datar. Rasa takut jika timah panas akan menembus keningnya sama sekali tidak dirasakan oleh Revan.


"Biasa Om. Om seperti tidak pernah jadi remaja saja. Lagian saya melakukan itu berdasarkan setujuan dari anak Om sendiri," kata Revan dengan entengnya menjawab.


Dive geram melihat Revan yang menurutnya tidak memiliki tata krama dalam berbicara. Lantas pistol yang sudah menempel di kening Revan itu hendak ditarik pelatuknya, namun semua itu terhenti setelah teriakan yang menggema di belakangnya.


"STOP PA!!! KALAU PAPA MELAKUKAN ITU MAKA PAPA JUGA HARUS MENEMBAK CILLA!!!"


Cilla merintih setelah berteriak cukup kencang.  Rasa takutnya ditinggal pergi Revan karena pistol ayahnya itu ternyata mempengaruhi kesehatan Cilla.


Ia berjalan pelan melangkah ke depan menghampiri ayahnya yang jika telat satu menit saja maka Revan akan mati. Semantara Dive langsung menurunkan pistolnya dan menatap tajam pada Revan yang ada di depannya.


Cilla menghambur ke dalam pelukan Revan. Ia menangis kencang karena semua ini sudah hampir menuju puncak. Kisah mereka kini telah memasuki babak terakhir.


Rahasia yang ingin ia simpan kini telah diketahui orang tuanya. Cilla tidak tau apa yang akan dilakukan ayahnya kepadanya setelah mengetahui bahwa dirinya hamil.


"Pa ini semua salah Cilla. Salah Cilla Pa. Cilla mohon jangan bunuh Revan. Cilla nggak bisa hidup jika Revan nggak ada di samping Cilla," lirih perempuan itu seraya sujud di depan ayahnya sambil memeluk kaki sang ayah.


Dive yang pada dasarnya paling tidak bisa melihat sang anak berada di posisi itu pun ikut berjongkok dan mengusap kepala sang putri.


"Ayo berdiri. Papa tidak akan melakukan itu pada mu.... Papa tidak akan membunuh dia." Dive merasa kalimat terakhirnya adalah salah besar. Ia terpaksa memutuskan membebaskan Revan dari daftar targetnya.


Revan tersenyum bangga mendengar penurut dari mertuanya. Dia dari tadi memang tidak takut jika ini akan terjadi sebab Revan tau bahwa dirinya akan tetap selamat melalui bantuan Cilla.


Dive dan Cilla sudah berdiri. Penampilan menggenaskan Cilla kini telah membaik. Ia tidak lagi mengeluarkan air mata melihat sang ayah menuruti kemauannya.


"Papa maafkan kalian asalkan kalian berdua sekarang pergi ke KUA." Ucapan Dive tersebut membuat kedua insan itu menegang. Cilla menatap ke samping tepatnya pada Revan yang sangat syok.


"Harus sekarang?" Tanya Revan was-was pada Dive. Sebuah mimpi buruk jika Revan menikah di umurnya yang sangat terbilang muda, dia tidak pernah mengharapkan itu di dalam hidupnya.


"Kenapa? Kamu tidak mau tanggung jawab dengan kehamilan Cilla?"

__ADS_1


"Ummm.... enggak Om, saya bersedia menikahi Cilla sekarang juga."


"Bagus. Sekarang telepon orang tua mu untuk pergi ke KUA."


______


Suasana rumah untuk sekarang ini berbeda dengan biasa-biasanya. Suara heboh dan celetukan seorang bocah memenuhi ruang tamu. Dentingan suara bend-benda dilemparkan turut menambah berisik di ruang tamu.


Bagaimana tidak, kedatangan Adhan serta Reza untuk menjenguk Rara membuat Bagas memiliki teman baru yang sepadan dengan sifatnya.


"Kak Adhan Bagas punya mainan baru lho. Mahal tauk... ini langsung diimpor dari Amerika. Papa itu baik banget, apa yang Bagas mau selalu diturutin," kata Bagas sambil mencuri lirikkan ke arah Gabriel yang menatapnya dengan songong.


Bagas sengaja mengejek sang kakak karena Bagas sangat tau jika Gabriel harus menggunakan uang sendiri. Dan ia juga sering mendengar rengekkan Gabriel yang meminta uang kepada ayahnya tapi tak pernah diberi.


"Eleh palingan lo juga bakal dinistakan sudah besar... lo nggak lihat apa Bunda sebentar lagi mau melahirkan. Kasih sayang Papa dan Bunda akan berkurang. Mereka akan lebih menyayangi anak barunya. Seperti Abang dulu.  Gegara lo papa dan bunda nggak pernah memperhatikan gue,,, nyesel tau nggak lo gue punya adek kayak lo. Hidup iya tapi akhlak nggak punya." 


Bagas terkikik mendengar keluhan sang kakak. Inilah tujuannya mengatakan itu supaya abangnya mengeluarkan sifat aslinya yang penista di depan teman-teman Rara.


Reza dan Adhan bersamaan menatap ke arah Rara dan Rara kemudian mengangkat bahunya acuh. Sudah hampir setiap hari ia mendengar pertengkaran itu.


Adhan menggaruk kepalanya karena memang ia merasa langka dengan pemandangan ini. Kau tau kan jika Gabriel bukanlah orang yang murah senyum dan banyak berbicara di sekolah? Jadi sangat lazim jika Adhan terkejut melihat interaksi tersebut yang membuat Gabriel banyak bicara.


Gabriel yang menyadari jika dirinya diperhatikan  heran oleh Reza dan Adhan langsung menarik napas dan berusaha sebisa mungkin tetap tenang. Ia sendiri baru menyadari jika dirinya baru saja berbuah menjadi orang yang cerewet.


"Papa!!!" Teriak Bagas dan berlari ke arah Arsen yang baru saja pulang dari kantor.


Melihat sang anak yang berlari ke arahnya Arsen langsung merentangkan tangan. Dan Bagas pun masuk ke dalam pelukan sang ayah. Arsen mengecupi seluruh wajah Bagas dan menggendongnya.


"Anak Papa yang tampan." Puji Arsen lalu menatap ke arah sofa. "Siapa dia?"


"Mereka teman Kak Rara Pa," ujar Bagas seraya memainkan jambang sang ayah yang mulai tumbuh memenuhi rahang tegasnya.


"Oh."


"Pa ke kamar yuk temui Bunda."


Arsen tersenyum tipis lalu membawa anaknya ke dalam kamar. Sedangkan di ruang tamu Reza dam Adhan mulai bisa menyimpulkan dari mana asalnya sifat dingin Gabriel.


"Ra gimana keadaan kandungan lo?"


"Baik kok Za. Gue sudah bisa merasakan dia nendang perut gue. Karena dia gue juga bisa mempunyai alasan untuk menyiksa ayahnya."

__ADS_1


Gabriel mendengus karena memang Rara sangat sering mengidam yang aneh-aneh dan selalu membuatnya tersiksa.


Adhan dan Reza terkekeh.


"Ra gue boleh pegang perut lo nggak? Gue mau merasakan keponakan gue berada di dalam perut lo!!!"


Mata Gabriel membulat dan spontan dia menarik Rara. Sorot tajamnya mengintimidasi Adhan hingga membuat laki-laki itu mencari tangan Reza untuk menyalurkan kegugupannya.


"Kagak ada!!! Lo berdua pulang ke rumah. Nggak ada di antara kalian yang boleh menyentuh Rara. Awas aja kalian melanggar ucapan gue tadi."


Rara dan kedua sahabatnya lantas membulatkan mulut mereka. Bagaimana bisa Gabriel mengatakan itu pada Adhan dan Reza? Rara menggeleng, Gabriel benar-benar sangat protektif kepadanya.


"Idihhh pelit amat ya ni orang. Lo tahan aja Ra hidup sama dia, kalau gue mah sudah lama ninggalin.."


Gabriel langsung memeluk Rara erat seakan tidak ingin kehilangan Rara dari sampingnya. Gabriel sangat takut jika Rara akan meninggalkannya seperti ungkapan Adhan tadi.


"Mending lo berdua pulang sebelum gue seret ke luar. "


"Iye iye kami pulang. Pelit amat dah. Dia pikir kita siapa? Kita sudah ada dari dulu nemenin Rara. Dia orang baru aja belagu banget...."


"Lo berdua ya bener-bener nantangin gue!!!"


Gabriel berdiri dari duduknya. Melihat tanda bahaya ada di depan mereka, Adhan dan Reza segera keluar dari rumah tanpa berpamitan dahulu dengan Rara.


Rara menarik napas melihat sikap Arsen kepada teman-temannya. Ia memijat batang hidungnya seraya menggeleng-geleng.


"Gabriel kok gitu sih sama mereka?"


"Kenapa kamu mau belain mereka? Kamu mau perut kamu disentuh sama mereka? Gitu?" Rara lantas menggelengkan kepala karena itu tidak benar.


"Nggak-nggak gitu...."


Gabriel langsung menyambar bibir Rara pas perempuan itu bingung ketika hendak menjelaskan. Rara yang mendapatkan ciuman tiba-tiba lantas terkejut dan mendorong Gabriel ke samping.


"Huaaaa....."


"Awas kamu ya Ra. Aku hukum kamu...."


______


Tbc

__ADS_1


Btw Gua ultah yang ke 16 lho hari ini:)


__ADS_2